Di samping Rumah Hijau Al-Kautsar 58, berdiri sebuah bangunan berlantai dua. Bentuknya biasa saja, tidak menampakkan hasil rekayasa artistik sebagaimana rumah para pejabat. Dilihat dari bentuknya, bangunan itu adalah hasil karya Tukang Batu yang amatiran. Amatiran karena mereka (para tukang batu) hanya mampu mencampuradukkan semen dengan pasir serta nasib sehingga mereka bisa bertahan hidup melalu seni memasang batu bata, maka mereka mendapat gelar yang sangat terhormat, yaitu Tukang Batu. Bangunan itu merupakan tempat hunian bagi bagi pemiliknya sekaligus dijadikan sebagai tempat kost bagi mahasiswa yang berjenis laki-laki yang sedang kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang. Bangunan itu sebenarnya adalah rumah tempat tinggal yang dihuni oleh satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan satu anak, ditambah dengan mahasiswa yang ngekost. Posisi rumah itu tepat disamping kanan rumah yang disewa (dikontrak) oleh manusia-manusia yang berasal dari Sulsel.
Melihat peluang ekonomi (atau memang karena naluri mencari nafkah), pemilik rumah tersebut menjadikan ruang tamunya sebagai warung makan. Hal ini memang sangat mendukung, berhubung di daerah sekitar rumah tersebut belum anda warung yang menjual makanan, karena memang lokasinya masih jauh dari peradaban. Kami warga penghuni kontrakan nomor 58 atau sering kami sebut Rumah Hijau 58 atau Al-Kautsar 58, menjadi terbantu dengan adanya warung yang tersedia di samping kontrakan kami. Sekali melangkah, sampailah kami.
Mas Edi, nama pemiliki warung tersebut. (Dia saya panggil mas, karena dia orang Jawa, kalau saja dia orang Makassar, pasti saya panggil Karaeng). Dia adalah salah satu umat yang hidup dari kantong mahasiswa, karena dengan adanya mahasiswa, maka tersewalah kostnya. Karena adanya mahasiswa maka larislah warungnya. Karena adanya mahasiswa, maka sejahterlah hidupnya.
Kami (para Penghuni Al-Kautsar 58) menjalin hubungan mutualisme (istilah dalam Biologi) dengan Mas Edi, artinya kami dengan mas Edi saling membutuhkan. Mas Edi dan keluarganya membutuhkan kami sebagai konsumennya, karena tanpa adanya kami kegiatan ekonomi yang ditekuni Mas Edi akan mandek bahkan sampai pada gulung karpet, atau dalam bahasa ekonominya mengalami krisis akibat permintaan pasar berkurang. Sementara kami, mahasiswa yang menjadikan aktivitas makan sebagai hal yang utama, membutuhkan Mas Edi sebagai Supplyer atau pemasok bahan makanan bagi kami. Mas Edi bisa dikatakan tulang punggung bagi kami, ia menempati posisi yang sentral bagi anak-anak Al-Kautsar 58, tanpa dia, terkatung-katunglah nasib kami.
Menu yang disediakan di warung tersebut biasa-biasa saja, bahkan cenderung monoton. Ada nasi putih, tempe goreng, tahu goreng, ayam goreng, telur goreng, sayur nangka, sayur bayam, perkedel yang berbahan dasar jagung dan mie instan. Produk yang dijual Mas Edi cenderung tidak berubah meskipun telah beberapa kali ganti menteri oleh Presiden.
Selain makanan, Mas Edi juga menyediakan berbagai minuman hangat dan dingin. Tentu dengan jenis minuman yang standar pula. Kopi dan teh menjadi minuman wajib, selain minuman instan berupa nutri sari atau ekstra joss. Tinggal pesan, tunggu sesaat, pesanan pun datang.
Setip pagi, siang, sore, petang, hingga malam, pengunjung warung Mas Edi itu-itu saja, tak ada wajah baru, kecuali sesekali penghuni kost putri yang tidak jauh dari kontrakan kami terlihat di warung sekedar memesan sayur, atau lauk. Atau bahkan hanya sekedar membeli sampo buat keramas (karena sampo memang digunakan untuk keramas, tidak mungkin untuk dijadikan kecap). Konsumen di Warung Mas Edi adalah konsumen tetap, bahkan konsumen loyalis. Diantara semua konsumen, yang paling loyalis adalah penghuni kontrakan Al-Kautsar 58. Bukan karena menunya yang begitu menantang lidah atau makanan itu tidak dapat dibeli ditempat lain, melainkan karena satu hal.
Jika ia diibaratkan mata pelajaran dalam kurikum Sekolah Menengah Pertama, maka warung Mas Edi adalah sejarah. Denting piring adalah seni, mengantar makanan hingga ke tempat tidur kami adalah keterpaksaan.
Warung Mas Edi berbeda dengan warung makan pada umumnya. Warung ini sangat merakyat,daftar jenis makanan yang tersedia pun sangat merakyat, sesuai dengan rakyat yang bernama mahasiswa yang setiap pagi hingga malam menjadi pelanggan tetapnya. Jenis makanan di hidangkan bebas diatas meja, dan kami sebagai konsumen setia bebas mengambil kapan saja, tanpa pengawasan. Warung Mas Edi adalah Warung Kejujuran. Jauh sebelum Menteri Pendidikan mencanangkan dalam pidatonya tentang perlunya Kanting Kejujuran.
Yang selalu menggoda kami untuk tetap menjadi konsumen loyal di Warung Mas Edi dikarenakan kami bebas mengutang kapan saja. Makanya saya mengatakan Warung Mas Edi adalah tulang punggung bagi kami. Jika kiriman telat datang, atau karena memang orang tua lagi paceklik, maka Mas Edi lah tujuan utama kami. Makan di Warung Mas Edi hanya bermodalkan ujung pena. Sekedar catat dalam buku utang konsumen yang telah disediakan diatas meja.
Mas Edi adalah pahlawan. Ia berada pada garis terdepan membela orang-orang lapar seperti kami. Kami, para pemuda yang berasal dari kampung, menjadikan status mehasiswa untuk menganggur secara terdidik dibawah naungan utang. Maka tak heran diawal bulan, istri Mas Edi mendatangi kami dengan ekspresi penuh harap sambil membawa secarik kertas. Kertas yang sebenarnya yang tidak kami tunggu, karena di dalamnya terdapat nama-nama konsumennya beserta jumlah utang yang harus dilunasi.


11:39:00 PM
Puang Array
Posted in:
2 komentar:
mas edi memang begitu berarti... semoga masuk surga sekeluarga !!!
#bayar utammu anak2 !!!
Amin Ya Allah..Doanya mas edi semoga asrama tidak pernah dikabulkan.
Posting Komentar