07/12/11

Ma' Skak


Banyak cara anak manusia dalam menampilkan kehebatannya, ada yang naik ke gunung saat hujan deras dan kabut hitam menyertai, ada yang menyelam dalam kedalaman beberapa ratus meter hanya karena ingin bertemu dengan hiu-hiu liar penjaga laut, ada yang mendatangi kuburan seseorang yang dianggap sakti, karena matinya pada malam jum’at kliwon dan kematiannya dianggap tak wajar, kesambar petir.  Ada yang menampilakan kehebatannya dengan memakan beling dan paku dari baja.  Dan ada juga tidak berbuat apa-apa, cukup mengatakan “ saya orang hebat” maka cukuplah orang akan mengatakan dia hebat.

Tapi di IKAMI Sulsel Cabang Malang, tak perlulah orang berbuat nekad seperi itu, cukup punya keahlian dalam memindah-mindahkan bidak catur dan memiliki uang Rp.20.000 sebagai kontribusi pertandingan, terserah ia memang master di bidang catur atau baru belajar kemarin sore, ia sudah bisa menunjukkan kehebatannya.

Bidang Seni, Budaya dan Olahraga mengadakan satu event pertarungan “harga diri” hingga kemenangan menjadi harga mati. Pertarungan ini diawali dengan babak penyisihan yang menampilkan Bomz menantang Master catur, Mallewa. Meski Bomz termasuk pendatang baru di dunia catur, tapi sedikitpun ia tak pernah gentar dalam menghadapi musuhnya, walau akhirnya bisa ditebak,  Bomz kalah.

Selanjutnya nasib mempertemukan Mister Komeng dengan Basit Alif Ba. Dengan hati yang ikhlas dan tanpa dendam sedikitpun, Basit Alif Ba dihajar tak berkutik, ia hanya tersenyum kecut melihat pasukannya dibantai satu demi satu, dan akhirnya ia pun kalah tanpa perlawanan. Basit Alif Ba adalah Master catur yang diimpor dari negeri Arab, namun kehebatan Mr. Komeng dalam soal taktik dan strategi tak dapat dibantah. Meski penduduk Arab dipermalukan dan gurun pasir bergumuruh, tapi Basit adalah salah satu cucu Adam yang menganggap bahwa permainan catur adalah hiburan ditengah kesibukan yang datang tak diundang, dengan sikap jantan dan penuh tabah, ia pun menerima kekalahannya dengan senang hati, sembari mengucapkan, “alhamdullah, aku bisa kalah, kekalahanku membuat orang lain menang, karena tidak ada kemenangan tanpa kekalahan, dan ini sebenarnya adalah keberhasilan yang tertunda saja.” Ungkapan semacam ini memang sering kita dengar pada orang yang ditimpa penyakit sial.

Ada adegan yang lebih dramatis lagi, dan sempat mengundang perhatian banyak orang. Hasil undian mempertemukan Riqar Parov dengan salah satu senior IKAMI Sulsel, Soedar Po Singki. Pada babak pertama, Riqar yang selalu menjatuhkan mental lawannya lewat suara-suaranya yang tak jelas, digulung habis oleh Mr. Soedar. Riqar terdiam, tak banyak bicara, hanya sedikit ber-apologi tentang kesalahnnya mengangkat raja, hingga raja itu menemui ajal di tangan pasukan Mr. Soedar Po Singki.
Babak kedua, Riqar yang ahli membual, kini bangkit, dengan semangat tak pantang menyerah, ia menyerang Mr. Soedar, bak tentara Vietnam, pasukannya bergerilya hingga menembus jantung pertahanan Mr. Soedar, dan apa yang terjadi? Pasukan Mr. Soedar porak-poranda, hingga akhirnya tewas di tangan Riqar Parov yang menyerang dengan dendam di hati. Point kini 1:1 alias imbang.

Pada babak tambahan, disinilah harga diri dipertaruhkan, pertandingan ini bukan lagi menyangkut kalang-menang, tapi telah memasuki pertarungan harkat dan martabat di dunia catur, khususnya di Kawasan Al-Kautsar 58. Kedua kubu mati-matian mempertahankan kekuasaannya. Karena perang, nurani dikesampingkan, seperti dalam perang sungguhan, tak peduli banyak anak-anak yang statusnya menjadi yatim karena terpaksa mati membela bendera negaranya di medan perang. Begitulah prinsip Riqar, ia tak punya belas kasihan lagi terhadap lawannya, dan menghajar habis Mr. soedar di babak tambahan.
Dengan mental yang mulai terbangun, kini Riqar “Sang Jagal” mulai bangkit dengan penuh semangat. Siap mengabisi lawannya di babak selanjutnya.




0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review