19/06/12

Ngeng…Ngeng…Lanjutkan Perjuanganmu Kawan!


“Ga, gimana kabarnya lorjen?”

Begitu kau selalu mengingatkanku tentang suatu dunia yang bernama blog.  Dunia tempat aku mencurahkan segala kegalauan dan canda tawaku. Kala itu blog menjadi kawan baru dalam hidup kita. Hingga aku putuskan untuk “pacaran” dengan blog pribadiku yang kuberi nama www.lorong-jengkie.blogspot.com. Dan kau pun mengikat janji sehidup semati dengan www.donortekstual.com
 
Makna dibalik pemberian nama blogku itu nanti kuceritakan padamu kawan, karena disini aku hanya ingin menulis tentang seseorang yang sering memberiku motivasi dalam menulis di dunia blog.

Salam Kawan…

Mari kita lanjutkan cerita yang sempat tertunda. Kepala ini terlalu berat menampung segala cerita hidup yang silih berganti. Kau sering bertanya, “kapan btkumu terbit?”
Kujawab singkat, “ya, tunggu saja”. Namun dalam hati berbisik,” kapan terbitnya, dikirim ke penerbit saja belum pernah”. Tapi aku tidak sealiran dengan Kanda Darno, yang bernazar takkan mau lulus kuliah sebelum bukunya terbit. Bagaimana pun, kuliah bagiku adalah salah satu anak tangga yang mesti dilalui untuk menuju ke ketinggian tertentu. Persoalan cepat atau lambatnya, semua tergantung mood dan juga tergantung dosen pembimbing. (hahahaha kisah klasik).

Ah, kita bernostalgia sejenak kawan…

Kala angin malam menusuk hingga ke tulang belakang pada sebuah tempat berinternet gratis di kampus kita mengadu nasib atas nama akademik. Kau asyik dengan “ Donor Tekstual” mu dan aku  pun larut dengan “lorong-jengkie” ku. Tak terasa canda tawa yang sedikit gila itu berlanjut hingga ayam berkokok. Sesekali kau menuliskan pesan untukku lewat inbox FB-mu, menawariku bahan untuk ditertawakan bersama. Dan akhirnya aku tertarik dengan idemu, hingga aku pun larut dalam dunia sintingmu…

Ide-ide sinting memang sering lahir dari kepala yang tak waras. Karena orang waras selalu dihantui dengan kehati-hatian sehingga mencoba adalah hal yang tabu baginya. Meski Kau terlalu ngawur dalam ukuran norma yang berlaku, tapi tidak bagiku. Kau adalah salah satu inspiratorku. Salah satu teman “curhat filosofis” sekaligus teman gila-gilaan. Penyakitku memang begitu, selalu tertarik dengan dunia yang sedikit gila, karena dibalik kegilaan itu tersimpan kewarasan. Dan kau adalah gambaran nyata dalam hal itu. 

Maaf kawan, sudah lama kita tak berbagi kisah di dunia maya. Bahkan dunia nyata pun telah memisahkan kita. Aku larut dengan dengan skripsiku, dan kau larut dengan KKN-mu yang tertunda. Kau larut dengan kasurmu yang empuk dan aku pun larut dengan hasil penelitianku…

Tapi meski kita berbeda zaman, berbada gaya, dan juga beda nasib tentunya, tapi atas nama dunia yang terlupa, atas nama dunia yang tak lagi waras, kita selalu dalam satu langkah...

Ngeng..Ngeng…Lanjutkan petualangmu kawan!

Mengenang Kawanku, Riqaryanto Manaba’
(Yang tertatih-tatih mengejar status kesarjanaannya)

19/02/12

Selamat Ya, atas Twitter Barunya

Tanggal 19 Februari 2012, sebuah sejarah kembali tercatat. Langit tertegun. Awan berhenti berarak menyaksikan seorang Bocah duduk manis sambil tersenyum liar menghadap ke sebuah komputer. Hari ini tercatat dalam lembaran buku malaikat pencatat tingkah laku manusia. Peristiwa yang di mata orang tidak begitu penting, tapi apa hendak ditolak, telah menjadi tugas malaikat pencatat tingkah laku itu untuk menulis hal-hal yang meski tidak penting. Bocah itu kadang mengkerutkan dahi, pertanda begitu rumitnya masalah yang ada di hadapannya, tapi kadang tampak tersenyum. Senyum yang tersirat tanda kepuasan karena telah melewati satu fase yang menantang dan menegankan. Tanggannya lincah menari di atas tombol-tombol huruf yang terpisah-pisah rapi. Huruf abjad itu pasrah ditekan-tekan tanpa perlawanan. Kadang terdengar seperti dihentak, kadang diperlakukan lembut bagai bayi yang masih merah merona. Ia menurut saja. Ia telah pasrah dengan takdirnya. Pasrah!

Di layar monitor tampak mbah google telah bertarung dengan waktu. Memenuhi permintaan si bocah yang berprilaku seperti raja tanpa rakyat. Malaikat semakin mendekat, mencatat detik perdetik hingga yang tak bisa terukur oleh waktu. Di baris kolom mbah google, huruf mulai beraksi atas perintah si Bocah. Satu persatu huruf ditekan. Lahirlah kalimat-kalimat yang diinginkan si bocah.

T-W-I-T-T-E-R

Tak butuh waktu lama, tak butuh energi yang banyak. Cukup dengan sisa-sisa energi yang ada, semuanya akan terlaksana dengan lancar. Aman terkendali.

Aha!...si Bocah tersenyum girang. Revolusi hidupnya satu lagi kini telah  tercapai. Sebuah akun twitter milkinya tercatat di dunia maya.  

Puang Array. Nama yang tampak anggun dan mempesona. Nama itu tersenyum. Senyum yang jelas mengucapkan selamat datang kepada kawan barunya. “Selamat datang di dunia kami, dunia antah berantah.”

Seperti biasa, hal yang pertama dilakukan oleh pengguna twitter adalah menjadi “pengikut”. Sekedar untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh orang yang dikutinya. Maka Puang Array menjadi pengikut pula. 

“Ah twitter, kau telah benar-benar menanamkan mental pengikut pada kami.” Tapi apa hendak dikata, zaman memang telah canggih. Tak mengikuti zaman berarti kuno. Kuno hanya pantas dipajang di museum. 

Puang Array ingin mengadakan syukuran atas akun twitter barunya. Dirogoh kantong celananya yang bolong. Tak ada uang. Diperiksa dompet yang mulai lusuh. Hanya tersisa beberapa rupiah. Ah nasib, selalu tidak berpihak pada keadaan.

Maka Puang Array ke dapur, mengambil beberapa genggam beras, lalu dimasukkan pada periuk yang disambungkan ke listrik. Beberapa saat kemudian, nasi telah matang, sematang semangatnya yang tak pernah surut.

Giliran telur dipecah. Menggeliat di penggorengan. Membentuk dadar yang nikmat jika disantap dalam keadaan lapar. Karena orang-orang lapar tidak pernah makan karena pertimbangan gizi atau enak, yang penting kenyang, dan hidup bisa tersambung kembali.

Pesta syukuran hari ini berlangsung sederhana. Pesta makan siang yang diadakan seorang diri. Menu istimewa: Nasi+ telur goreng.


(Dalam kalbuku berdoa: Semoga Twitterku membawa berkah dalam hidupku)

14/02/12

Catatan Spesial Valentine's Day

Aku sebenarnya tak tahu harus menulis apa tentang Hari Kasih Sayang. Tradisi di kampungku tak mengenal istilah itu. Bukan cuma hari kasih sayang, kata cinta pun tak bisa ditemui di dalam kamus kami, kamus orang bugis. Ungkapan perasaan itu hanya diwakili dengan kata ‘pappoji’ yang artinya sebenarnya adalah menyukai, bukan mencintai. Berbeda dengan orang Jawa, cinta dapat diwakili dengan kata ‘tresno’ atau dalam kamus orang Bule, jelas tertulis kata ‘love’.

Tapi tak dapat disimpulkan bahwa kaumku bukanlah orang yang tak romantis. Meski umumnya ayah kami berwatak keras, tapi sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat romantis. Hanya saja cara mengungkapakan kasih sayangnya berbeda-beda. Seperti Ayahku, karena sayangnya sama aku, ia tak segan-segan memberiku cambuk gratis gara-gara aku tidak mandi seharian. Karena sayangnya sama aku, ia ikhlas menarik telingaku hingga memerah hanya karena aku membolos mengaji. Begitu pun ibuku, sapu lidi di tangannya bisa melayang kapan saja jika ia menemui aku membolos dari sekolah.

“ Mau jadi apa Kau, Nak? Baru mengenal perkalian dua sudah malas sekolah, kalau begitu mending jadi gembala sapi saja!”

Pagi-pagi telah kudengar ceramah ibuku. Kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya merupakan kata pengantar untukku dalam menjalani kehidupan hari itu. Ibuku hanyalah sedikit orang tua di kampung kami yang memahami arti pentingnya sebuah pendidikan. Melihat anak-anaknya mengacuhkan sekolah adalah penghinaan baginya, penghinaan bagi kampungku, dan juga penghinaan bagi bangsaku.

Di usiaku yang belum mengenal dunia, kuanggap ibuku adalah pengomel nomor wahid. Kata-katanya hanya kuanggap angin lalu yang tak berpetuah. Tahu apa ia dengan dunia anak-anak. Hingga akhirnya aku sadari. Semua yang pernah terlontar dari mulut ibuku adalah ungkapan kasih sayang yang tak mungkin terbalas. Orang tua, begitulah caranya...

Lain halnya dengan Kakekku. Ia bertutur, katanya, “Model percintaan anak muda masa kini sangat berbeda dengan anak muda masa lalu. Zaman sekarang, sepasang sejoli tak punya rasa malu bercumbu di tengah keramaian. Tak afdol pacaran itu tanpa ciuman. Begitu dalil yang sering kita dengarkan dari mereka yang lagi dimabuk asmara. Astagfirullah... Padahal masa lalu, ketahuan berpegang tangan saja sudah aib bagi mereka.” 

“Apakah Kakek dulu juga pacaran dengan Nenek sebelum menikah?” tanyaku memancing kisah asmara masa lalu Kakekku.

“ Di zaman Kakek, kami mengenal istri kami saat pesta pernikahan. Sebelumnya kami tidak pernah saling mengenal apalagi mencintai. Semua dilangsungkan atas pilihan orang tua dan keluarga. Cinta itu datangnya saat ijab kabul, ketika Kakek memilih Nenekmu sebagai pendamping Kakek. Kakek percaya, nenekmu adalah tulang rusuk Kakek yang telah dipisahkan oleh Sang Pemilik Cinta hingga kami dipertemukan di pelaminan kelak. Dan di depan penghulu, di dalam hati Kakek berjanji, akan selalu menjaga tulang rusuk itu hingga salah satu dari kami tutup usia. Karena cinta itu tulus Nak, tidak mengenal harta dan tahta. Dan cinta yang sesungghnya itu adalah bagaimana kita bisa saling memiliki dan saling memahami.”

Ah, Kakekku benar-benar lelaki romantis. Tak salah ambil keputusan Nenekku yang meiliki rupa yang cantik, putih dan bersih menerima pinangan seorang pejuang kemerdekaan di zamannya. Dialah Kakekku. Pria penyayang, yang tidak hanya menyayangi istri dan anak-anaknya, tapi juga kasih sayang itu ia tuangkan kepada menantu dan cucu-cucunya. Meski ia jauh dari kata tampan. Hanya memiliki sorot mata yang penuh tanggung jawab. Itu saja.

Kembali lagi ke masa lalu, atau lebih di kenal zaman tempo doeloe. Zaman ketika si Baco mencintai si Becce. Baco yang memendam rasa sayang kepada si Becce, tak berani mengungkapkannya. Lewat ponakannya si Becce, ia titipkan salam. Dengan wajah yang masih polos, si ponakan menyampaikan kata salam yang dititipkan si Baco kepadanya. Berbunga-bungalah hati si Becce, sumringalah wajahnya. Ia serasa melayang ke angkasa kemudian meluncur turun melalui pelangi. Baco adalah pemuda impiannya. Pemuda yang dikenal sabar dan baik hati. Tapi karena adat dan takut kepada pamannya, si Baco tak berani mengapeli si Becce. 

Di zaman Baco, belum banyak orang memiliki sepeda motor. Jadi belum dikenal istilah ‘pelukan setengah lingkaran’. Jika Baco rindu, cukuplah ia berjalan mondar-mandir di depan rumah si Becce. Lewat celah dinding papan, si Becce mengintip. Terobatilah rindu mereka berdua. Ya, begitulah cara mereka, tak lebih dari itu.

Hingga tiba masa bergesernya makna cinta, seiring dengan perubahan pola pikir manusia tentang kasih sayang. Kasih sayang hanya dimaknai sebatas luapan birahi. Ia datang dengan tiba-tiba dan pergi juga secara tiba-tiba. Di zaman yang materialistik seperti sekarang ini, cinta hanya di ukur dari segi ekonomi. Tak heran jika cinta bersifat fluktuatif seperti pergerakan saham di pasar modal. Karena terlalu banyak spekulan cinta yang hanya mencoba peruntungan, bukan untuk meraih cinta itu sendiri.



Seorang perempuan berkata:
Ketika semua orang ingin menikah dengan orang yang dicintainya, maka aku sedikit berbeda, aku berdoa agar mencintai orang yang menjadi suamiku.

Malang, 14 Februari 2012
Puang Array

12/02/12

Banjir Melanda Al-Kautsar

Reportase: 12 Februari 2012

Hujan belum lama berlangsung, tapi tiba-tiba air meluncur deras hingga ke dalam kontrakan IKAMI Sulsel di Al-Kautsar 58. Semua dari kami kaget dan lari pontang-panting. Air tak dapat dibendung. Ia meluncur deras tanpa dosa. Drainase tak kuasa menampung debit air yang mengamuk, meluap merambati rumah-rumah yang posisinya memang rendah. Sungai kecil itu merelakan air tumpah ruah ke lorong-lorong sempit, kemudian menikung masuk ke bilik-bilik kos mahasiswa.

Rumah Al-Kautsar 58 hampir saja terapung dengan segala isinya. Kami memang terlambat melakukan evakuasi, sehingga kasur dan barang-barang lainnya terendam air yang tingginya melampaui pergelangan kaki. Untung saja beberapa barang-barang yang penting masih sempat diselamatkan. Komputer, printer, dan berkas-berkas organisasi menjadi target utama untuk dievakuasi. Setelah itu barulah barang-barang lainnya ditempatkan pada posisi yang tidak terjangkau oleh luapan air.

Melihat kondisi yang tak lagi bersahabat, Ucheng Sang Pahlawan Berkumis, beraksi. Tanpa takut oleh terpaan air yang menghujam keras dari langit, ia berusaha keluar dari rumah dan mengambil batu besar untuk menghalangi pergerakan air. Dan hasilnya tidak sia-sia. Debit air yang semenjak tadi menembus kontrakan kini sedikit dapat diatasi. Setelah itu disusul oleh kawan-kawan lainnya. Begitupun dengan Rikar. Ia juga memberanikan diri menembus hujan yang tak kunjung reda. Melakukan segala usaha uantuk membedung pergerakan air. Melihat mereka, aku pun jadi tertarik. Bukan tertarik karena di dorong jiwa sosial untuk menyelamatkan kontrakan, tapi hujan bagiku adalah saat yang tepat untuk bermain air. Membebaskan tubuh diterpa jutaan butiran air yang berjatuhan yang entah kapan akan berkhir. Begitu pun dengan Fahri. Ia melihat banjir sebagai wadah permainan. Ia tampak gembira melihat air meluncur di jalanan, meski kamarnya sendiri dalam kondisi siaga satu.

Banjir menjadi tontonan yang menarik, sekaligus tak diharapkan kedatangannya. Sebagian besar rumah-rumah di Al-Kautsar terendam banjir. Kami mencoba menyelusuri hingga ujung gang. Tampak orang-orang bersusah payah menyelamatkan barang-barang mereka masing-masing. Ada beberapa kos-kosan mahasiswa yang ditinggal mudik penghuninya terlihat sangat parah kondisinya. Air menerjang masuk tanpa izin.

Kata seorang kawan,” Tuhan tak bersalah...”
Manusialah yang tak mampu lagi menjaga lingkungan. Banjir adalah ulah manusia yang tak peduli terhadap lingkungan, karena drainase atau pun kali seharusnya menjadi tempat mengalirnya air. Tetapi bangunan yang tumbuh subur merampas tempat-tempat yang seharusnya menjadi tempat untuk mengalirkan sisa-sisa air hujan yang turun dari langit.

Reporter Amatiran : Puang Array
(Dilaporkan langsung dari sudut kota Malang)



04/02/12

Mengantri Berjam-jam Demi Membayar Uang Kuliah

Reportase: Sabtu 4 Februari 2012

Hari ini Bank BNI 46 dan Bank BPD Jatim di kampus III UMM tidak seperti biasanya. Seperti biasanya, tiap akhir pekan bank itu tutup tanpa ada aktivitis transaksi keuangan. Tapi hari ini, meskipun hari sabtu, kedua bank tersebut tetap buka demi melayani mahasiswa yang akan melunasi pembayaran yang diwajibkan oleh kampus.

Pemandangan yang tak aneh di depan loket pembayaran. Mahasiswa dan juga mahasiswi bederet tak beraturan. Mengantri dan menunggu giliran untuk membayar ke pegawai bank. Hal ini sebenarnya tidak terjadi pada kali ini saja, tapi sudah sering dijumpai tiap masa pembayaran tiba, para mahasiswa selalu bergerumbul bagai semut yang mendapatkan sepotong gula pasir.

Keluhan dan teriakan kesal mahasiswa dimana-mana terdengar. Apalagi ketika seseorang mencoba menerobos ke barisan paling depan tanpa mau mengantri berlama-lama. Memang butuh kesebaran untuk mendapatkan gilirian menyodorkan uang di dapan loket. Bahkan berdasarkan pengakuan salah seorang pengantri, ia harus berdiri selama tiga jam untuk mendapatkan giliran membayar di loket. Para Satpam kampus dan juga pegawai parkir tampak sibuk mengatur barisan. Menjaga kalau-kalau ada pengantri yang curang, atau ada yang memprovokasi sehingga menimbulkan kegaduhan.

Kegiatan “baris-berbaris” itu telah berlangsung selama tiga hari belakangan ini. Batas waktu pembayaran memang begitu singkat, karena hanya kurang lebih satu bulan. Konon katanya batas pembayaran berakhir pada hari ini.

Mengapa hal ini sering terjadi? Apakah karena keteledoran mahasiswa yang tidak membayar lebih awal atau pihak kampus tidak memberikan kelonggaran bagi para mahasiswa untuk melunasi pembayarannya?

Sebenarnya pembayaran dapat dilakukan di cabang BNI 46 mana saja, asalkan menyertakan kode yang telah disediakan pihak bank. Mahasiswa tidak harus mengantri di depan loket Bank kampus III. Tetapi, minimnya informasi tentang tata cara pembayaran menjadikan mahasiswa kesulitan melakukan pembayaran. Maka pekerjaan yang menjenuhkan itu tetap berulang kembali.

Semester sebelumnya pun mengalami hal yang sama. Meski pembayaran di bank telah dilakukan, tapi pihak bank tidak memberikan konfirmasi pelunasan ke BAU, sehingga antrian justru terjadi di depan BAU. Para mahasiswa pun rela mengantri berjam-jam hanya karena ingin men-validasi kwitansi pembayarannya.

Selain itu, batas pembayaran juga tidak masuk akal bagi mahasiswa, karena kita ketahui bersama, sebagian orang tua mahasiswa menerima gaji di awal bulan, sehingga harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan uang, sementara batas pembayaran hanya sampai tanggal 4 Februari 2012.

Untuk itu perlu sekiranya pihak kampus UMM agar membenahi sistem pembayaran dan melakukan sosialisasi jauh sebelumnya, agar mahasiswa tidak lagi bergerombol hanya karena ingin membayar uang kuliah.

20/01/12

KARENA BB, MEREKA PUN “AUTIS”

Saat peradaban semakin maju di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, terkadang penyakit yang tak diundang datang menyapa. Autis, dikenal dengan penyakit yang dibawa semenjak lahir, berupa gangguan mental pada anak, ternyata bisa menyerang saat orang sudah dewasa.

Nah, penyakit inilah yang sedang melanda dua orang sahabat saya. Beddu, begitu sapaan akrabnya, adalah anak muda dengan pembawaan yang ceria. Memiliki kelakar khas yang sering mengundang tawa bagi teman-temannya. Beddu dikenal mudah bergaul, dan mudah akrab dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Ia juga termasuk orang yang disenangi oleh teman-temannya, karena pengorbanannya yang tanpa pamrih. Dalam bekerja ia selalu ikhlas, seikhlas tentara veteran perang kemerdekaan yang terlupakan saat pembagian sembako. Dalam forum-forum diskusi, Beddu tampil aktif dan fasih berdalil dalam mengeluarkan argumen. Pikirannya yang sedikit nyeleneh sering mengundang perdebatan dalam diskusi. Apalagi Beddu memang orang yang gemar berceloteh, ditunjang oleh otaknya yang encer.

Tapi kini semua berubah. Beddu yang saya kenal “banyak bicara” kini terlihat sangat sabar dan jarang berkomentar. Ia sering menyendiri di sudut kamar atau di sudut teras, tak menghiraukan sahat-sahabatnya yang lain. Kadang dari jauh kulihat ia senyum-senyum sendiri. Mulutnya sering komat-kamit seperti dukun membaca mantra.

Ada apa dengan Beddu?

Ceritanya begini. Beberapa bulan yang lalu, seorang teman saya ingin menjual ponselnya. Ponsel merek impian anak muda masa kini, sebuah Black Barry (BB) mungil berwarna hitam mengkilat. Benda itu begitu memikat. Selain sebagai sarana berkomunikasi di dunia maya, benda itu juga dapat mengangkat derajat seseorang yang dulunya “ndeso” menjadi “ tidak ndeso lagi”. Paling tidak mulai mengenal istilah BBM-an.

Karena Beddu tertarik, ia pun berusaha membujuk orang tuanya di kampung untuk membelikan BB tersebut. Entah alasan apa yang disampaikan ke orang tuanya sehingga permintaan Beddu dikabulkan. Jadilah Beddu memiliki BB seperti yang selama ini diimpikannya.

Disinilah penyakit itu berawal. Kemana pun dan dimana pun, Beddu selalu ditemani oleh BB kesayangannya. Entah rapat, entah di warung kopi, entah di warung makan, entah lagi kuliah, atau apalah, Beddu tidak pernah melepaskan BB-nya. Bahkan saat tidur pun Beddu selalu ditemani benda kesayangannya itu. Beddu, sekarang jarang menyapa sebelum di sapa terlebih dahulu. Saat bicarapun pandangannya tidak pernah lepas dari layar BB kesayangannya. Paranyahnya lagi, penyakit “mengasingkan diri dari dunia nyata” ini mulai menjakiti teman-teman dekatnya. Dan orang yang pertama terjangkiti adalah teman terdekatnya yang bernama Ancy.

Beddu yang lebih senior dalam ber-BB, berusaha merayu Ancy untuk menggunakan BB juga. Katanya hanya sekedar memudahkan berbagi informasi lewat media BBM. Tak butuh lama untuk merayu, Ancy pun terpikat. Apalagi Ancy sebenarnya telah lama merindukan ponsel yang demikian. Dengan bantuan Beddu, BB pesanan Ancy pun datang.

Tapi mereka malah tambah aneh, sangat jarang teguran, padahal tidak pernah ada konflik diantara mereka selain kemarahan Ancy karena tidak diantar pulang ke tempat kostnya. Itupun hanya berlangsung singkat. Usut punya usut, ternyata komunikasi lisan dialihkan ke komunikasi tulisan lewat BBM, meskipun mereka duduk berdampingan.

Penyakitnya yang mulai diderita Ancy sama dengan penyakit yang diidap oleh Beddu, sama-sama sering tersenyum sendiri tanpa kami tahu penyebabnya. Saat kami “ngopi bareng ‘ (di warung kopi tentunya), Beddu duduk berdampingan dengan Ancy, tapi karena tempatnya berdesak-desakan, Beddu menyuruh Ancy untuk bergeser sedikit. Perintah Beddu tanpa suara, tidak juga menggunakan bahasa noverbal. Hanya mengetik beberapa kata, lalu kirim, pesan muncul di BB-nya Ancy. Tahulah dia maksud dari Beddu.

Awal mulanya sebenarnya Beddu sangat akrab dengan Sandro (Nawir). Mereka adalah dua sahabat yang tak pernah terpisahkan. Hingga akhirnya mereka terpisahkan oleh masing-masing benda yang dimilikinya. Semenjak Beddu punya BB, sudah jarang ia bercengkrama dengan Sandro. Sandro kini orang asing baginya, karena belum mengenal teknologi canggih. Sementara Sandro memilih jalan yang berbeda. Ia tak memiliki BB, tapi ia lebih memilih Vespa butut sebagai sarana transportasinya. Jadilah mereka seperti dua sisi mata uang, satu tapi berbeda. Beddu menempuh jalan yang modern, sementara Sandro, berkutat pada pandangan tradisionalnya.

Begitulah pengaruh BB (Black Barry). Ia melepaskan seseorang dari dunia nyata, kemudian mengurungnya di dunia maya. Mengubah bahasa lisan menjadi bahasa tulisan. Membuat seseorang menyendiri di tengah keramaian. Beddu dan Ancy, kini benar-benar telah terlena dengan fitur-fitur canggih yang ditawarkan oleh benda yang bernama Black Barry,  yang memang konon katanya membawa pesona tersendiri bagi pemiliknya.
(Do’a: Tuhan...Semoga saya juga punya BB)

Camp 58, 20 Januari 2012
Puang Array



18/01/12

Mimpi Indah-Ku

Pernakah anda bermimpi kawan? 

Aku  pernah kawan, tepatnya tadi malam mimpi itu datang. Mimpiku ini aneh, karena menyangkut suatu benda yang sampai saat ini masih menjadi teka-teki para ilmuwan. Belum ada ahli ruang angkasa mampu menjawabnya secara pasti tentang adanya benda ini.

Saat tengah malam yang gelap gulita dalam keadaan tidur nyenyak tanpa memikirkan beban utang. Tiba-tiba aku terhanyut dalam satu ruang di alam mimpi. Kurasai diriku berada jauh di kampung halamanku, tepat di rumah Kakekku. 

Di kampungku, adanya benda aneh menjadi pembicaraan hangat beberapa hari belakangan ini. Beberapa benda aneh itu tergelatak tepat di samping rumah kakekku. Tak ada yang tahu asal muasal benda-benda aneh tersebut. Namun diantara semua benda yang aneh tadi, ada beberapa yang masih bisa dikenali olah manusia. Beberapa potong roti, makanan ringan, coklet, serta barang-barang sembako. Begitu tiap malam benda-benda itu datang hingga tiga malam berturut, tanpa pernah kami ketahui siapa yang mendatangkan. Tapi diperkirakan benda asing itu tiba ditempat saat larut malam, ketika ibu-ibu, bapak-bapak, tante-tante, om-om, kakek-kakek dan nenek-nenek telah tidur. Saat sapi-sapi ternak dan peternaknya telah terlelap. Saat ayam-ayam jantan belum berkokok. 

Berbagai desas-desus beredar di masyarakat. Sebagian orang tua yang masih meyakini tentang mitos leluhur mengatakan benda itu adalah kiriman roh-roh nenek moyang yang telah gugur mendahului kita. Karena melihat kondisi cicitnya seperti sekarang, maka tak tenang mereka di alam sana. Harga beras melonjak drastis, telur-telur ayam kampung susah ditemui akibat ayam yang mati tiba-tiba akibat flu burung. Padi yang hijau tiba-tiba diserang hama, dan yang tersisa adalah batang-batangnya saja. Nelayan tak bersahabat lagi dengan laut. Tangkapan mereka kadang tidak cukup menghidup istri mereka selama sehari semalam. Sungguh menyedihkan. Mungkin karena anggapan itulah para arwah leluhur mengirimkan ke dunia sisa-sisa apa yang mereka dapatkan di surga. Meski sekedar minyak goreng.

Ada yang beranggapan lain. Benda-benda nan ajaib itu konon katanya dijatuhkan oleh orang Belanda dari pesawat super cepat tanpa mengeluarkan suara. Orang Belanda selama ini (konon katanya lagi) merasa bersalah yang berkepanjangan. Karena ulah nenek moyang mereka yang telah membentuk karakter bangsa Indonesia menjadi bangsa kuli. Jadilah bangsa ini menjadi bangsa pengemis.

Malam ketiga pun berlalu, orang-orang semakin penasaran. Dalam hati yang gundah, mereka tak pernah berani menyentuh barang-barang tersebut, apalagi menjarahnya, tidak sama sekali. Tapi rasa penasaran tentang darimana asalnya barang tersebut dan siapa membawanya semakin mendesak sebagian penduduk di kampungku untuk mencari tahu. 

Pada malam keempat, Aku, Bapakku, Nenekku, Pamanku, Tanteku, dan beberapa tetangga lainnya bersepakat untuk terjaga. Kami ingin menyaksikan langsung dari mana datangnya benda-benda itu. Aku mengendap-ngendap di bawah ranjang. Kakekku mengintip dari balik di dinding yang bocor, sementara nenekku mengintip dari balik ketiak kakekku. 

Suasana semakin tegang saat jam menunjukkan angka 11. 55 WITA. Kami tak sabar lagi ingin mengabdikan peristiwa aneh itu dalam memori otak. Tepat pukul 24.00 Waktu setempat, dari jauh terlihat cahaya terang di halaman rumah. Seperta lampu sorot yang berdaya jutaan kilo watt menembus tanah. Dari balik, jendela samar-samar kulihat benda yang bentuknya bundar melayang-layang hanya sekitar 3 meter dari permukaan tanah. Tak salah lagi, itu UFO.

Kakikku mulai gemetar, keringatku bercucuran. Kulihat kekekku tak bisa lagi menutup mulut dan matanya. Ia takjub. Tetanggaku yang tadinya paling berani kini bersembunyi di balik selimut. Nafasnya terengah-engah. Jantungnya berdenyut kencang, perlahan-lahan celananya basah tak kuasa menahan takut.

Ternyata semua itu adalah ulah UFO. Para alien ternyata peduli dengan nasib kami yang tidak pernah dipedulikan oleh penguasa. Kulihat mie instan, tembakau, minyak goreng, terigu, dan banyak lagi yang meluncur dari pesawat aneh itu. Mereka, para alien itu ada makhluk yang mulia. Rajin menabung dan suka menolong. Mereka bukanlah makhluk jahat sepeti sangkaku selama ini. Di dalam film-film, alien sering digambarkan sebagi makhluk jahat yang akan menguasai bumi, tapi sesungguhnya itu tidak benar.

Begitulah mimpiku kawan…setelah aku bangun, semuanya lenyap.


Malang, 10 Januari 2012
Oleh : Puang Array



13/01/12

Sebelas Januari

Blog saya terhenti sementara, gara-gara tuannya sakit. Saya tak kuasa melawan penyakit yang menyerang tubuh saya, hingga terkaparlah saya selama sehari semalam di kosan. Kepala rasanya cenat-cenut disertai dengan suhu tubuh yang melambung tinggi. Tak hanya itu, saya juga harus menahan sakit perut yang berkepanjangan akibat diare. Penyakit saya ini bisa dikategorikan komplikasi, karena beberapa penyakit bergabung dan berkonspirasi menyerang tubuh saya yang memang kurang gizi.

Hari ini saya tidak bisa mengikuti ujian ekonomi regional, dikarenakan pas bangun pagi, sakit perut menyerang lagi. Badan lemas dan kepala puyeng. Setelah gosok gigi dan cuci muka, saya kirim sms buat dosen saya. Isinya pemberitahuan kalau mahasiswanya yang rajin ini tidak dapat mengikuti ujian jam pertama. 

Karena pukul 09.15 ada ujian Ekspor Impor, saya berupaya bangkit dari pembaringan. Berjalan seperti dunia terasa terbalik-balik. Karena udara dingin dan takut tubuh saya tidak rela kena air, saya putuskan hanya membasuh muka dan membasuh tubuh saya dengan lap basah.

Saya persiapkan segala alat tempur di ujian nanti. KSM, pulpen, baju putih, celana hitam, hingga bahan contekan. Maklum saya adalah mahasiswa yang memiliki kapasitas otak pas-pasan, jadi harus menggunakan media lain untuk untuk menjawab soal. Tapi kebiasaan saya ini jangan ditiru, karena selain dibenci dosen, ia juga tidak baik untuk perkembangan otak.

Setelah saya rasa telah siap dan tidak ada yang terlupa, saya melangkah dari pintu kost menuju kampus. Di perjalanan, sakit perut datang lagi. Ia datang disertai dengan pusing. Saya berusaha melanjutkan langkah meski ada niat untuk kembali ke kost karena rasa sakit yang tak tertahankan. Di sisi jalan, saya melihat warnet, saya bergegas ke warnet dan beristirahat sejenak di depan komputer. Setelah tenaga terkumpul sedikit demi sedikit, saya melanjutkan perjalanan kembali. 

Di kampus, saya langsung ke kantin membeli teh kotak untuk mengobati tenggorakan saya yang mulai kering. Menunggu hingga beberapa menit, ujianpun dimulai. 

Selesai ujian, saya ke Poliklinik kampus untuk memeriksa penyakit yang saya derita. Setelah registrasi, saya dirujuk ke dokter di salah satu ruangan. Dengan langkah yang lemas dan muka yang kusut Karena belum disetrika, saya duduk di hadapan dokter. Sekitar 10 menit saya duduk di hadapan dokter tanpa dihiraukan, karena sang dokter yang berbakti pada nusa dan bangsa itu sedang asyik menerima telepon tanpa menghiraukan pasien yang ada dihadapannya. Sementara saya…

Saya tidak mengerti apa yang dibicarakan. Hanya saya dengar kata-kata troli, berat, kapan tibanya, harus bagaimana, berkualitas atau tidak, lalu, terus,  dan macam-macam lagi yang tidak sempat saya rekam di telinga saya.

Setelah selesai pembicaraanya dengan orang dibalik telepon genggamnya, barulah saya ditanya. Dengan segala keluhan saya terhadap derita yang saya alami, dokter menarik kesimpulan kalau saya tidak menjaga kesehatan. Jadi penyakit yang saya derita karena kesalahan saya, karena saya tidak mematuhi pola hidup sehat. Saya jadi bingung, kalau dokter menyalahkan saya, terus saya harus salahkan siapa? Masak saya harus salahkan Menteri Kesehatan? Lagipula Menteri Kesehatan sudah bosan disalahkan.

Setelah dinasehati oleh dokter dan diwajibkan minum air putih sebanyak mungkin, saya diberi resep untuk dibawa ke apotik. Tapi dokter tidak memberi tahu saya tentang penyakit yang saya derita. Hingga saat ini saya belum mengerti apa istilah kedokterannya penyakit yang saya alami.
Ah..biarlah semua itu menjadi rahasia dokter.

11 Januari 2012

09/01/12

Celakalah Orang-orang Gondrong di Kampus Putih

Dua orang teman saya, pada hari ini mengalami nasib yang sama. Sama-sama tidak bisa mengikuti ujian karena memiliki rambut yang panjangnya melebihi kerah bajunya. Sebenarnya bukan cuma dua orang, tapi mungkin banyak yang mengalami nasib yang sama. Hanya saja saya tidak tahu.

Salah seorang diantara teman saya itu adalah mahasiswa fakultas ilmu politik, dan harus meninggalkan bangku ujian karena persoalan sepele, rambutnya panjang atau yang biasa disebut gondrong. Ia harus menghadap  ke seorang dosen, diintrogasi bak pelaku kriminal. Karena ia tak terimah, argumentasi pun ia lontarkan. Sang dosen penegak aturan mengajaknya berdiskusi sejenak tentang larangan berambut gondrong. Sang dosen bertanya, “Apa alasan Anda gondrong?” Si mahasiswa bertanya balik, “apa alasannya kampus melarang gondrong mahasiswanya?”

Si mahasiwa tak terimah segala rasionalitas sang dosen, karena baginya rambut tidak menghalanginya untuk berfikir. 

Begitulah perdebatan antara dosen dan mahasiswa hingga beberapa menit. Semua argumentasi dikeluarkan. Agama, tentu tidak bisa dijadikan alasan, karena hampir semua nabi itu gondrong, bahkan dalam ajaran islam, rambut panjang adalah sunnah, karena nabi Muhammad sendiri berambut gondrong. Nabi Isa? Apa lagi!

Seorangnya lagi adalah mahasiswa fakultas ekonomi mengalami nasib yang sama karena sebuah aturan yang bagi saya sangat tidak rasional. Melarang mahasiswa beramput gondong bukanlah suatu alasan ilmiah. Karena kampus putih yang sama-sama kita cinta dan kasihi bukanlah tempat para serdadu mengadu nasib. 

Dari sudut manapun dilihat, rambut gondrong tidak merugikan orang lain. Bahkan dalam undang-undang tak ada tercantum kalau rambut gondrong adalah perbuatan kriminal. Dan perlu kita ketahui bersama bahwa fakultas ekonomi lahir dari kepala gondrongnya Adam Smith. Kalau anda tidak percaya, datanglah ke warnet dan telusuri foto-foto Adam Smith melalui mbah google. Yakin dan percaya tak satupun Anda menemukan rambut beliau terlihat cepak (pendek), walau tubuhnya pendek. Para ilmuwan lainnya pun demikian adanya. Bahkan seorang musisi Indonesia, Piyu, sang gitaris dari grup band Padi, rambutnya yang gondrong tak menghalanginya menciptkan untain nada. 

Lihatlah di media akhir-akhir ini, para pelaku pencuri uang rakyat (baca koruptor)hampir kesemuanya tidak berambut gondrong. Kecuali Nunun karena dia memang perempuan. Itupun dia berusaha menutupi kepalanya dengan kerudung. Bahkan mereka memiliki potongan rambut yang rapi karena setiap akhir pekan dikeramas di salon-salon yang pelayanannya sangat lembut.

Maka dari itu, rambut gondrong seharusnya tidak menjadi daftar larangan di kampus putih. Biarkanlah mahasiswa mengespresikan rambut dan kepalanya. Tak usalah membawa norma-norma segala. Yang penting bagi kita para citivitas akademika, bagaimana kita seharusnya berfikir untuk kemaslahatan ummat, bukan persoalan rambut gondrong. Biarkanlah semua itu. Hingga tiba masanya nanti, rambut kami pun akan rontok meninggalkan bekas berupa botak yang permanen. Jadi, biarkanlah…


Malang, 8 Januari 2012
Salam dari Mahasiswa yang Tidak Gondrong

07/01/12

Catatan Akhir Tahun 2011

RESOLUSIKU

Tak Banyak Kuminta Pada Tuhan dan Juga Pada Diriku. Di Tahun 2012, Aku Akan Menerbitkan Buku. Dan Aku Akan Memiliki Penghasilan Tetap, Bukan Pekerjaan Tetap.

Kami berada di penghujung tahun. Desember. Begitu ia disebut. Bulan dimana masa akan tergantikan. Aku ingin di penghujung tahun ini memiliki resolusi, maka kutulislah resolusiku seperti yang anda baca di atas. Dan aku ingin turut merayakan pergantian tahun, aku pun ikut serta merayakannya bersama kawan-kawan serantauan. Aku hanya ingin, suatu saat nanti, ada perstiwa yaitu pengalaman, menjadi cerita yang tak pernah terlupakan.

Tahap Persiapan

Pulau Sempu merupakan pilihan teman-teman pengurus pengurus IKAMI Sulsel Cabang Malang untuk merayakan pergantian tahun. Tempat ini diputuskan berdasarkan kesepakan rapat antara Bidang Pelestarian Lingkungan dengan Pengurus-pengurus lainnya. Ekspedisi tahun ini akan dipimpin langsung oleh Ketua Bidang Pelestarian Lingkungan, Saudara Riqar. Untuk memudahkan kegiatan, maka dibentuklah tim, dan aku adalah salah satu dari tim itu. Tugasku sangat sederhana, hanya mengatur sirkulasi dana. Sesekali juga membantu membeli logistik yang diperlukan oleh tim dan peserta.

Fahri, yang banyak berpengalaman di alam liar, mendata semua kebutuhan. Mulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal besar. Sementara aku, hanya mengatur keuangan. Memberinya sesuai permintaan. Riqar, atau biasa dipanggil Ikal, menyiapkan perlengkapan lainnya. 

Boms dan Beddu, dua insan yang tak pernah lepas, berangkat lebih duluan ke Sendang Biru, mengurus apa yang perlu diurus, mempersiapkan apa yang perlu disiapkan. Misalnya perizinan, kapal apa yang akan ditumpangi menyeberang ke Pulau Sempu, lewat jalan mana agar aman. Kesemua itu menjadi tanggung jawab Boms dan Beddu. Seandainya ditengah laut tiba-tiba perahu yang kami tumpangi bocor, lalu tenggelam. Maka Boms dan Beddu-lah yang harus bertanggung jawab. Seandainya saja, Anci, karena ketakutannya melihat laut, tiba-tiba loncat dari perahu ke laut, dan ditemukan dalam keadaan tewas tak bernyawa, maka Boms dan Beddu-lah yang harus bertanggung jawab. Tanggung jawab Boms memang besar. Tak heran kalau akhir-akhir ini berat badannya mulai menurun. Dan Beddu, lebih tragis lagi. Karena dagingnya tiap hari menyusut, tampaklah ia hanya tulang dibungkus kulit. Sungguh tragis.

Untuk menghemat pengeluaran, dan efektifitas kegiatan, Truk masih menjadi pilihan transportasi ke Sendang Biru. Urusan transportasi adalah tanggung jawab Kanda Widot (Cak Idot). Kebetulan ada Kakanda, mantan Pengurus Ikami yang memiliki Truk. Tak disia-siakan tawaran itu.

Keberangkatan

Kami, para peserta Catatan akhir Tahun (CAT) berangkat dari Malang sebelum matahari muncul. Diperkirakan kami tiba di Sendang Biru saat fajar menjelang. Waktu menunjukkan pukul 02.45 saat kami meninggalkan kontrakan. Sebelumnya para peserta berkumpul di Al-Kautsar 58. Setelah siap dan semuanya dianggap beres, satu persatu dari kami meloncat naik ke bak Truk. Terpal sebagai atap, sebagai antisipasi jika hujan turun. 

Satu jam perjalanan, satu persatu wajah peserta tampak kuyu. Mual datang menghadang. Anci, yang suaranya paling nyaring kini diam seribu bahasa, terompet yang semenjak tadi berbunyi di mulutnya juga ikut diam. Perutnya terguncang akibat guncangan Truk yang meliuk-liuk menyusuri jalan yang penuh liku. Kanda Adi, sebagai pengemudi Truk, secara sengaja membawa laju kendaraanya. Menikung tajam, menanjak, kemudian melaju menuruni bukit, kemudian menikung lagi dengan kecepatan tinggi. Isi perutnya Anci pun ikut menikung dan menanjak ke tenggorakaanya. Ia tambah diam, terompet ditangannya tak berdaya lagi. Jangankan meniup terompet, menarik nafaspun ia mulai susah. Fina dan evi pun demikian. Isi perutnya mulai menggoda tenggorakannya, hanya menunggu waktu yang tepat untuk muntah.

Kantong plastik!” teriak seseorang.

Kantong plastik digunakan jika sewaktu-waktu ada peserta yang muntah di dalam Truk. Riuh penumpang truk mulai tampak sepi, tak ada lagi lelucon-lelucon khas. Semua berkonsentrasi menahan jika sewaktu makanan dari lambung keluar tanpa izin.

Saat tiba di pelabuhan Sendang Biru, Anci tak menyia-nyiakan waktu. Ia mencari posisi untuk muntah dan akhirnya, oakkk…cratttt….oakkk…crattt…oakkk…cratttt…

Sisa-sisa makanan itu berserakan di tanah.

Sebelum menyebrang ke Pulau Sempu, kami singgah sejenak di rumah Ayahanda Yusuf, yang jaraknya tidak jauh dari pelabuhan. Beristirahat sejenak lalu berangkat ke dermaga. Sebelum meninggalkan rumah Ayahanda Yusuf, peserta di bagi menjadi 5 tim, dan aku berada pada tim ke-5. Setiap tim mendapat jatah barang bawaan masing-masing. Mulai dari barang bawaan yang ringan hingga barang bawaan yang beratnya minta ampun.

 Giliran pertama, aku mendapat jatah membawa tas besar (kerir) yang beratnya tak dapat kutaksir. Kuangkat perlahan melawan gravitasi. Semakin kuangkat, gravitasi semakin menariknya turun pula. Tapi dengan hati yang ikhlas disertai doa yang tulus kepada Yang Diatas maka beban akan terasa ringan. 

Kuayungkan langkah menuju pelabuhan kecil menyusuri jalan bebatuan. Kami seperti ingin merantau meninggalkan kampung halaman menuju negeri antah berantah. Sekitar 10 menit perjalanan tibalah kami di dermaga kecil yang mulai tampak rapuh. Kapal nelayan berjejer di tepi pantai menambah keindahan alam pagi ini. Aku menurunkan tas besar dari punggungku, beristirahan sejenak sambil menunggu perahu yang akan ditumpangi menyeberang ke Pulau Sempu. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh kawan-kawan yang lainnya sebagai moment untuk berfoto dan bernarsis abis.

Tak lama kemudian, dari kejauhan tampaklah perahu yang akan mengantar kami ke pulau impian tersebut. Perahu yang berukuran kecil yang dilengkapi dengan bendera merah putih yang berukuran kecil pula. Perlahan-lahan merapat ke dermaga. Yang membawa tas besar berangkat terlebih dahulu, karena perahu hanya berkapasitas kurang lebih sepuluh orang. Maka aku berangkat terlebih dahulu dengan kawan-kawan yang juga membawa tas besar yang bebannya juga cukup besar.

Kususuri anak tangga yang licin menuju perahu. Aku tak kuasa menahan beban tas besar, maka satu persatu anak tangga kususuri dengan sangat hati-hati. Kemudian disusul oleh kawan-kawan yang lainnya.

Ketika perahu sudah penuh, mesin dinyalakan, maka meluncurlah perahu indah nan mungil itu diatas ombak-ombak yang kecil yang menguncang-guncang perahu. Perahu sesekali oleng. Anci, si perempaun yang tak berleher, berteriak histeris, takut jika perahu terbalik. Disangkanya perahu mungil nan indah itu akan ditelan oleh lautan bersama dirinya.

Kakak, takutka” katanya sambil memejamkan mata.

Ai…ai…Kakak, tolongka

Tenangko saja Anci, ini perahu telah dipasangi alat keseimbangan, jadi tidak mungkin terjungkal.” Sahut seseorang di antara kami.

Perahu mengangguk-ngangguk karena hempasan gelombang. Kubayangkan diriku menumpangi kapal Titanic, menyusuri lautan es. Berdiri di haluan kapal, sambil membentangkan tangan. Romantis sekali…

Akhirnya tibalah kami di pulau Sempu, tapi bukan tempat tujuan kami, karena harus berjalan kurang lebih 3 jam untuk sampai ke tujuan, Segara Anakan. Sebelum berangkat, kami menunggu peserta yang lainnya. Setelah dinggap lengkap, dan tak satu pun tertinggal, kami mulai melangkah ke tempat yang akan dituju. Disinilah petualangan yang sesungguhnya terjadi.

Tas Besar yang beratnya mengalahkan berat badanku, tingginya mengalahkan tinggi badanku, perlahan-lahan mencekikku. Langkahku semakin gontai di tengah lumpur yang tingginya hingga ke lutut. Bukan lumpur saja yang menjadi rintangan, tapi akar kayu yang tajam dan batu karang yang memang diciptakan oleh Tuhan dengan berbagi sudut yang tajam pula, sewaktu-waktu akan mengiris kaki kami. Untuk memperlancar perjalanan sepatu atau alas kaki lainnya harus dilepas.


Menyusuri jalan setapak yang berlumpur di tengah hutan belantara bukanlah hal yang mudah. Harus memiliki kekuatan ekstra, terutama kekuatan mental. Karena barang siapa yang tak memiliki mental yang kuat, maka menyerahlah ia pada alam liar yang kadang tak bersahabat.

Para perempuan yang tergabung dalam ekspedisi ini, sebelumnya berpenampilan modis, bak seseorang ingin bepergian ke Mall. Disangkanya mereka kalau perjalanan ke tempat tujuan semudah yang ada dipikirannya. Tapi kenyataannya terbalik. Kami harus belabuh di atas lumpur yang pekat, yang muncrat hingga ke wajah.
Bayangkan, kami harus menyusuri jalan licin di tengah hutan dengan beban yang berat, dan tak tahu dimana akhir perjalanan kami, karena banyak diantara kami yang belum pernah menginjakkan kaki di tempat ini, dan aku adalah salah satu diantara yang belum pernah itu.

Aku meninggalkan Sally di belakang bersama kawan-kawan yang lainnya, karena beban yang aku bawa cukup berat. Dengan beban berat aku tak bisa berjalan pelan, jadi aku harus memacu langkahku di atas genangan lumpur dan batu karang. (Sally, maafkan daku, tak ada niat meninggalakanmu, itu hanya pelajaran saja buat dirmu, semoga kau akan mengerti tentang semua itu).

Ditengah perjalanan, karena beban yang semakin berkuasa, dan tubuhku semakin dikuasai oleh beban di punggungku, aku bersama Kafi beristirahat sejenak, kemudian disusul oleh Sally, kemudian disusul lagi dengan yang lainnya. Aku meneguk air mineral untuk menghilangkan rasa kering tenggorokanku dan juga kembali mengumpulkan tenaga yang masih tersisa.

Aku melanjutkan perjalan kembali. Kini giliran Wawan yang menggantikanku membawa tas besar, yang entah isinya apa. Tapi kasihan juga kulihat Wawan. Jangankan memawa tas, berat tubuhnya saja susah ia kendalikan, sehingga baru berjalan beberapa meter ia sudah tampak gontai, seperti patung yang sewaktu-waktu akan ambruk.

Aku mendapat tas kecil yang lebih ringan, maka langkahku semakin cepat mendahului yang lainnya. Di atas akar dan batu karang yang begitu tajam, dan lumpur yang begitu dalam, aku berjalan bak Tarzan kecil yang sesekali bergelantungan di akar-akan pohon, tubuhku berbalut dengan lumpur yang berwarna coklat kehitam-hitaman. Perjalan ke Pulau Sempu mengantarkanku kembali sepuluh tahun yang silam. Saat aku harus bertarung di atas lumpur demi membantu Ayahku (yang kupanggila Bapak) menancapkan sebatang demi sebatang benih padi. 

Kami kadang berada di lumpur dan bercongkok semenjak matahari terbit hingga matahari terbenam lagi. Bagi kami, kaum petani yang menggantung hidup diatas tanah persawahan, lumpur adalah kewajiban yang harus dilalui. Kami hidup karena lumpur , karena ayah-ayah kami sengaja menciptakan lumpur dengan bajak yang ditarik oleh dua ekor sapi dari pagi hingga sore, demi makan anak dan istrinya. Bagi kaum petani, lumpur adalah anugrah. Didalamnya tersimpan banyak cerita. Bagi ayahku (yang kupanggil Bapak) lumpur adalah tanggungjawab. Diatas pekatnya lumpur yang mengeluarkan aroma khas itu, seorang Ayah mengabdikan hidupnya demi aku, demi adikku, dan juga demi ibuku dan demi keluarga besarku. Atas nama nafkah.

Di tengah jalan, kutemui Fahri beristirahat di bawah pohon. Kuminta tasnya untuk kubawa, tapi ia menolak. Baginya membawa beban berat hingga ke tujuan adalah prestasi tersendiri yang harus digapai. Aku pun berlalu melanjutkan perjalanan dan masih setengah melamun.

Akhirnya, Kami-pun Tiba…

Tersadar dari lamunan, aku melihat lautan kecil. Pertanda kalau tujuan kami telah dekat. Langkahku semakin bersemangat. Kutanya pada seseorang, katanya beberapa ratus meter lagi kami akan tiba. 

Semakin mendekat laut tersebut semakin besar, semakin kudekati semakin tampak ia seperti danau dengan lubang di tebing akibat ombak yang acapkali menghampas. Laut itu mirip danau yang dikelilingi tebing dan pantai. Orang-orang mulai tampak ramai menikmati keindahan pantai Pulau Sempu. Aku langsung menuju pantai dan di pantai telah ada Sandro bermain catur. Beristirahat sejenak, lalu ikut mencemplungkan diri di pantai sembari membasuh lumpur yang melekat pada tubuhku.

Penat langsung sirna seketika, ditelan keindahan alam Pulau Sempu. Ombak-ombk nakal menyapaku, mengucapkan selamat datang untukku. Selamat datang bagi penikmat keindahan alam. Karya agung Sang Kreator Agung, kini terbentang di hadapanku. Indah tak terkira.

Pasir di pantai menggoda imajinasiku. Ia kugali dan kubentuk seperti miniatur benteng pertahanan perang di zaman Belanda. Aku bersama Sandro menumpuk-numpuk pasir hingga berbentuk dinding yang kokoh. Di tengahnya ada raja, ratu, menteri, kuda dan pasukannya. Raja, ratu, menteri, kuda dan pasukkannya itu sesunguhnya adalah buah catur. Jadi tampaklah benteng yang kami ciptakan itu seperti benteng sungguhan.


Seorang pengunjung lain yang tak kukenal menegurku, “Mas, masa kecilnya tak pernah bermain pasir ya?”
Iya mas, masa kecilku kurang bahagia, maklum gak pernah TK”, timpalku sambil bercanda. 

Meski kenyataannya memang begitu. Aku tak pernah TK, karena waktu itu belum ada satupun TK di desaku, dan mungkin di kecamatanku. Untuk apa juga? Ibu-ibu kami memiliki waktu untuk merawat dan mengajari kami, Membiarkan kami bermain sesuka hati tanpa harus ada arahan dari seorang guru TK.

Lama menunggu, tapi peserta yang lainnya belum datang. Aku kembali menjemput mereka, mungkin saja ada yang butuh bantuan. Beberapa ratus meter dari pantai, kutemui mereka dengan wajah tampak pasrah. Kuraih bebannya, kemudian aku kembali ke pantai disusul oleh mereka yang berjuang menuntaskan perjalanan.

Fahri telah bergelut dengan tenda dibantu dengan yang lainnya. Tenda berdiri diatas pasir, untuk tempat peristirahatan bagi kami, dan sebagai tabir dari terik matahari dan hujan.
Dari kejauhan tampak kekasihnya Boms, Diya, tersengal-sengal. Lebih dari separuh tenaganya melebur di jalanan. Tak sanggup ia menyembunyikan lelah di wajahnya. 

Kak Aris minta bantuan, ia kelelahan, tak sanggup lagi berjalan, tolong dibantu!” Diya menyampaikan kabar penderitaan. 

Aku sigap, menjemput Kanda Aris (Cak Widot) yang konon kabarnya telah sekarat. Dari kejauhan kulihat ia memanggul tas besar dengan langkah yang tertatih-tatih. Ia sama sepertiku. Sama-sama bertarung melawan gravitasi hingga titik keringat penghabisan.

Riga, Bantuka kodong” suaranya lirih meminta bantuan.

Tenang Kanda, aku datang untukmu, berikanlah tas itu padaku.”

Ia menurunkan tas itu dari punggungnya. Mukanya lusuh. Kalau ia diibaratkan telepon genggam, maka batrainya mulai  low, hanya nada peringatan yang sesekali terdengar. 

Kusambut, dan kuangkat perlahan ke punggungku. Tak kusangka, tas ini benar-benar memiliki beban melebihi kemampuanku. Giliran aku yang tertatih-tatih dan sempoyongan. Untung saja tenda kami sudah dekat, sehingga tas yang berukuran jumbo itu tak menghabiskan tenagaku.

Karena semuanya telah tiba di tempat tujuan, kami berstirahat sejenak sebelum menyiapkan makan siang. Hanya Boms dan Beddu yang belum kelihatan batang hidungnya. Rupanya mereka masih diperjalanan. Beberapa saat baru ia tampak dengan beban yang membuatnya lunglai hingga terkulai layu.

Tak hanya kami para manusia yang terlihat berantakan, ikan-ikan yang kami bawapun turut berantakan. Tubuh ikan kini mulai hancur, segarnya telah hilang. Ikan-ikan itu remuk terantuk-antuk di karang, di tanah, dan akar-akar kayu. Di dalam kantong plastik hitam, ikan-ikan itu menggelepar tak berdaya. Hanya lalat-lalat hijau yang bernyanyi dengan gembira, melihat mangsa di letakkan pas di dekat batang hidungnya.  Lalat-lalat hijau itu seperti kesurupan. Menggerayangi tubuh ikan-ikan yang mulai busuk diperlakukan oleh waktu yang berkonspirasi dengan nelayan.

Karena waktu tak bisa ditawar lagi, dan asam lambung semakin mengikis, kubereskan ikan-ikan yang tak berdaya itu dengan pisau tumpul. Maka tubuhnya tambah remuk dan hancur. Dibantu oleh Abi, Elli dan Wawan, daging ikan dibentuk menjadi potongan-potongan kecil, lalu dimasak dan dibakar dengan bumbu seadanya.

Dua jam kemudian, makan siang dengan menu nasi setengah matang dan ikan tongkol masak hasil karya para perempuan, tersaji diatas kertas yang dihamparkan memanjang diatas pasir. Kami menyantap makan siang sambil berjejer panjang, berhadapan dan berhimpitan antar satu sama lain. Karena jumlah kami yang banyak, dan nasi hanya sedikit, maka dapat ditebak apa yang terjadi. Kami hanya kebagian beberapa suap nasi. Hanya sekedar menenangkan perut yang semenjak tadi memberontak.

Setelah perut disi dengan nasi seadanya, istirihatpun berlanjut. Berbaring diatas pasir putih sembari menatap langit biru. Sesekali ombak kecil menghampiri kami. Nampak riuh pengunjung yang lainnya. 

Di wajah mereka kembali berseri. Mereka lupa dengan pendertiaan yang baru saja mereka alami. Tubuh segera terlepas dari beban penjajahan atas pikiran. Semua terlupakan. 

Di pantai yang indah ini, tak ada tugas yang mengejar-ngejar, tak ada skripsi yang harus direvisi, tak ada dosen yang berwajah garang. Kami semua melebur di tengah titik bernama keindahan. Keindahan pasir, keindahan hutan, keindahan karang, keindahan ombak, yang menyatu menjadi ekosistem yang tak terhitung nilainya.

Begitu kisah berlanjut hingga sore tiba. 

Saat mentari mulai bersembunyi dibalik bebukitan, kami mulai mempersiapkan makan malam. Ikan bakar masih menjadi menu utama. 

Api dinyalakan, ikan-ikan itu kembali terkapar diatas bara api. Setelah ia diperdayai oleh lalat-lalat hijau, sekarang giliran kami, para pemakan segala, yang akan memperdayainya. Dan ikan itu kawan… sebenarnya penuh dengan telur-telur lalat yang sebentar lagi akan menjelma menjadi belatung. Tampak bintik-bintik putih di sekujur tubuhnya. Yang lain mungkin tak menyadari itu, karena lahap saja mereka memakannya, begitu juga aku. Meski aku tahu itu. Tapi dalam kode etik orang kesusahan, tak perlu membongkar rahasia yang sesungguhnya menjijikkan. Semua itu demi keselamatan ummat. Tak ada pilihan lain. (maafkan aku)
Makan malam pun usai, dilanjutkan dengan bernyanyi bersama, diiringi dengan gitar akustik, sambil menunggu moment pergantian tahun.
***

Waktu menunjukkan pukul 24.00 Waktu Sempu dan Sekitarnya. Ledakan kembang api memancar di angkasa diiringi dengan suara terompet. Tahun 2012 telah tiba. Tahun 2011 pergi dengan segala kenangan.
Dari balik tenda, kuintip percikan-percikan bunga api yang berhamburan indah di atas lautan. Suaranya menggelegar di angkasa yang mendung. Tak lama kemudian, hujan perlahan-lahan jatuh ke bumi. Rintik hujan mulai membasahi tenda, aku merebahkan badan, lalu tertidur pulas.

Ditengah ketenanganku menikmati tidur, tiba-tiba aku terbangun. Aku merasa ada yang aneh pada kakiku. Rasanya sangat gatal. Aku mengumpulkan kesadaranku, dan aku sadar kalau itu adalah ulah nyamuk-nyamuk nakal. 

Nyamuk sialan, tak berkeprihewanan. Tak tahu ia kalau aku lagi butuh istirahat. Dasar nyamuk kurus, tahunya main keroyokan. Aku adalah santapan yang empuk bagi mereka. Aku jengkel, kuhajar salah satu dari mereka dengan telapak tangan. Seketika ia wafat di tanganku yang tak memiliki belas kasihan terhadap makhluk yang selalu mencuri darahku.

Pukulan itu tak membuat yang lainnya kapok. Malah mereka menyerang membabi buta. Begitulah nyamuk, ia punya prinsip lebih baik mati berdarah dari pada mati kelaparan. Aku keluar dari tenda yang pengap dan menghindari serangan nyamuk yang tak ada habisnya. Di luar, dibawah tenda darurat, beberapa orang duduk berjejer karena tidak dapat tempat untuk berbaring. Kukenali wajah-wajah mereka, ada Kanda Widot, Boms, Fina, Kanda Aji, Taslim, dan yang lainnya aku lupa. Dinginnnya angin malam mendekap tubuh kami, sementara di langit sudah tampak hitam, pertanda sebentar lagi akan turun hujan lagi.

Akhirnya hujan turun juga. Ini merupakan berkah bagi kami karena di Pulau Sempu yang indah ini, sangatlah sulit mendapatkan air tawar, sehingga perlu menghemat, sehemat-hematnya mengkonsumsi air tawar. Kami hanya menyediakan 50 botol air mineral, sementara harus dikonsumsi lebih dari 30 orang. Semakin lama hujan semakin deras. Aku memanfaatkan cekungan tenda sebagai tempat menampung air hujan. Dan alhasil aku bisa mengumpulakan beberapa liter air tawar. Air itu rencananya digunakan untuk masak, karena persediaan air mineral yang kami bawa semakin menipis.

Tiba-tiba tenda roboh karena tak mampu lagi menahan beban. Sementara kami yang berlindung dibalik tenda sudah mulai kebasahan. Taslim semakin menggigil. Kata-katanya penuh dengan penyesalan.

Enaknya di kost ini, makan, tidur dikasur, main game, kenapa kita meski terdampar disini, dan ini tidak sesuai dengan apa yang kupikirkan.”

Taslim di sini sebenarnya bertindak sebagai Sutradara. Ia telah membuat skenario di kepalanya. Karena kondisi yang tidak mendukung, ia akhirnya pasrah, dan ide-ide sintingya hanya mengendap tak terwujud. Ia hidup dalam penyesalan, dan sedikit trauma tentang alam, karena alam baginya adalah sesuatu yang tak bisa ditebak. Penuh misteri, yang kadang menjadi teman, tapi tak jarang menjadi musuh. Karena terlanjur basah, ya sudah mandi saja. Taslim dan Boms keluar dari tenda, merelakan hujan langsung menghantam tubuhnya. Begitu berlanjut hingga fajar menyingsing.

Paginya, tak kusia-siakan waktu untuk mendaki karang yang bergerigi. Menapaki bebatuan selangkah demi selangkah dengan sangat hati-hati. Di atas sana, tepat di atas tempat berdirinya tenda, terdapat tanjung yang begitu menakjubkan. Aku duduk di atas batu karang menyaksikan ombak berdentuman menerpa batu karang, meninggalkan erosi yang tampak cekung. Di seberang, terdapat pulau kecil tak berpenghuni. Hanya perahu nelayan, sesekali merayu tepi pulau tesebut, namun karena ombak yang tak bersahabat, memaksa nelayan untuk menghindari kemungkinan yang tak diinginkannya.

Mungkin bagi kami deburan ombak yang meluncur hingga ketinggian dua meter lebih adalah pintu memasuki maut. Tapi bagi nelayan, ombak adalah jalur menuju pintu rezeki, mengais harapan jika saja ada ikan yang tega mengabdikan dirinya di ujung kail para nelayan yang memang terlupakan.

Begitulah Sempu. Ia menjadi surga bagi para fotografer. Keindahan laut, hutan dan karangnya menyatu menjadi pesona yang wajib untuk direfleksikan dalam sebuah lensa kamera. Lewat lensa kamera, keindahan dapat diabadikan. Waktu dapat dihetikan. Dan Beddu tahu akan hal itu.

Tapi di Sempu, uang tak bernilai lagi. Tak ada transaksi ekonomi. Di sinilah teori nilai terpatahkan. Teori yang selalu diperdebatkan oleh para ekonom yang sok tahu itu. Seteguk air lebih bermanfaat dibandingkan dengan sebongkah berlian di pulau ini.

Air, di tengah pulau yang tersembunyi ini, begitu sangat dibutuhkan. Minum pun harus dibatasi maksimal dua teguk per orang. Cuci muka, cuci kepala, cuci kaki, cuci piring, pakaian, semuanya dari air asin. Jangan heran selama dua hari wajah-wajah kami mirip ikan asin, karena bikin kopi pun dari air asin.

Puas ber-narsisi ria, kami pun turun ke tenda. Makanan telah siap untuk disajikan. Sarapan dimulai, atau tepatnya makan pagi menjelang siang. Teman-teman begitu lahapnya menikmati hidangan di hadapannya. Tiba-tiba seseorang berteriak, ia mendapati belatung di makanannya. Spontan semuanya berhenti makan, kecuali yang tidak terganggu dengan kemunculan belatung itu, tetap saja melanjutkan makannya. 

Setelah sarapan usai, tenda dibongkar, dan barang-barang dikemasi dalam tas bawaan masing-masing. Kunaikkan tas dipunggungku, dan kami berjalan menuju pantai untuk foto bersama. Tas dipunggungku lebih ringan dari kemarin, karena isinya hanya pakaian dan peralatan masak-memasak. Tas yang ringan pasti diiringi dengan langkah yang ringan pula, sehingga aku berjalan lebih cepat dari pada kemarin. Hanya saja, medan yang akan kami lalui lebih parah, akibat guyuruan hujan dan ratusan pasang kaki yang telah melintasi jalananan ke tempat ini. 

Aku berjalan bersama Riqar, sementara Sandro dan temannya berjalan lebih dahulu. Aku tak gentar dengan genangan lumpur yang tingginya hingga ke lutut, kuanggap saja itu suatu permainan. Seperti yang sering kulihat di tivi-tivi. Kulewati semua orang di hadapanku, berjalan dengan segenap tenaga. Aku mersa bergerilya di tengah hutan melawan penjajah tengik. Sesekali bergelantung pada akar-akar pohon. Aku berjalan dengan kaki, tapi kadang dengan pantat. Riqar, teman baikku, kulihat ia terpeleset dan pantat teposnya menghantam tanah, menghasilkan getaran yang mungkin jika diukur dengan alat pendeteksi gempa berkisar 2 SR. Kutanya keadanannya, katanya ia baik-baik saja. Hanya kecelakaan biasa. Banyak kutemui tim-tim lain yang tak kuasa lagi meneruskan perjalanan. Alam telah memperdayai mereka. Di tengah perjalanan, kesetiakawanan seseorang diuji. Banyak diantaranya yang tak ingin berbagi meski seteguk air. Bahkan ada diantara kami lebih memilih menyelematkan dirinya masing-masing ketimbang membantu seorang kawan membawa beban berat. Bahkan, ditengah hutan yang tak bersahabat ini, sifat asli seseorang akan tampak. 

Ketika melewati lebih dari setengah perjalanan, aku beristirahat sejenak. Mengeluarkan air minum yang sesunguhnya adalah air hujan yang aku tampung subuh tadi. Kuteguk perlahan, rasanya aku berada di sebuah oase, kuteguk lagi, aku serasa terlempar ke kutub utara, bercengkrama dengan penguin-pinguin liar, kuteguk lagi, aku baru tersadar kalau apa yang masuk ditenggorongkanku adalah air hujan. Tapi demi penyambung nyawa, tak apalah. 

Kini giliran Riqar, beberapa teguk melewati tengorakannya. Ia tahu kalau itu adalah air hujan yang belum di masak dan kotor. Tapi Riqar sama sepertiku, sama-sama ingin keluar dari dahaga yang semenjak tadi bersama kami. Maka dengan khasiat air hujan yang kami minum, dahaga itu pergi untuk sejenak.
Tiba-tiba datang serombongan dari kelompok lain. Mereka tampak kelelahan, dan dari wajahnya kami tahu ia kehausan. Salah seorang meminta sedikit air dari kami, tapi dengan bahasa Jawa. Tentu saja aku tak mengerti maksudnya. Karena tahu aku tidak mengerti, barulah ia utarakan maksudnya dengan bahasa Indonsesia.

“ Mas, boleh minta airnya, buat temanku aja. Ia kehausan dan tak sanggup lagi meneruskan perjalanan”

Seketika rasa kemanusiaanku tergugah, meski kami sendiri butuh, tapi demi berbagi, dan tentu saja kami anak bangsa yang semenjak kecil diajari pancasila, tak kutolak permintaan orang itu. Kuberikan botol air mineral di tanganku. Ia pun meneguknya beberapa teguk. Lalu mengembalikan sisanya kepada kami. 

Terimah kasih, ya Mas” begitu ia mengungkapkan terimah kasihnya karena telah bertemu dewa penolong di tengah hutan.

Lalu mereka melanjutkan perjanan, aku dan Riqar masih duduk sambil mengisap sebatang rokok. Arok datang dengan tubuh lelahnya, ia juga kehausan. Dan kebetulan, persediaan air yang aku bawa masih tersisa lebih dari setengah botol.

Ga, jangan bilang itu air hujan!” Kata Riqar memberi saran.

Arok, tampak sangat menikmati setes demi setes air yang jatuh ke lambungnya. Sandro pun demikian, tak perlu bertanya sehat atau tidak, kotor atau bersih, karena di hutan ini, tak berlakulah ilmu kesehatan.
Aku bersyukur telah berbagi dengan orang lain meski seteguk air, tapi aku juga merasa berdosa telah memberi mereka air hujan yang tak bisa dibilang bersih. Maafkan aku, kawan…

Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Kugantikan Sandro membawa tas kerirnya, karena ia menyerah telah diperdayai oleh tas yang beratnya tak mengenal kemanusiaan itu. 

Tak lama kemudian, sura musik dangdut terdengar sayup-sayup. Semakin kami melangkah semakin jelas suara musik dangdut itu. Hal itu pertanda kalau perjalanan kami hanya beberapa langkah lagi. Dan tiba-tiba tampak kapal di hadapan kami. Sungguh gembira hati kami, sangat gembira, seperti anak ayam bertemu dengan induknya setelah sekian lama tersesat.

Kami berlari ke pantai, membasuh semua lumpur yang melekat di badan. Lalu duduk beristirahat kembali menantikan kawan-kawan yang masih di perjalanan. Tak lama kemudian, tampak satu-satu wajah mereka. Wajah-wajah yang tak lagi lelah, karena mereka telah lepas dari penderitaan akibat perjalan di tengah hutan yang berlumpur.

Dari kejauhan tampak perahu yang akan kami tumpangi. Rasa gembira tak bisa disembunyikan. Sebentar lagi kami ketemu warung, dan yang lebih penting bagi kami, sebentar lagi akan bertemu dengan air tawar. Satu persatu dari kami menaiki perahu, karena kapasitasnya tak kuasa mencapai 15 orang, maka perahu harus bolak-balik menjemput mereka yang masih tersisa.

Beberapa saat kemudian, tibalah kami di rumah Ayahanda Yusuf. Mandi dan berganti kostum. Menghangatkan badan dengan secangkir kopi. kami bercengkarama sambil mengenang perjalanan yang baru saja terlewatkan.

Dari pengalaman kawan-kawan, tampal banyak yang trauma dengan kata sempu, bahkan Anci telah masuk pada tahap pobia. Tak ingin lagi menginjakkan kakinya di Pulau Sempu.

Anci, masi mauKo ke Sempu?’’ 

tidak mauMa

Kalo disana ada Konser Boys Band Korea, Gimana?” 

Kutahu Anci begitu mengidolakan bintang-bintang Korea. Tapi ia bersikukuh menolak.

Biarmi, tidak mau mentonnga

Kalo misalnya setelah kau kawin dan suamimu memaksa kau harus berbulan madu di sana, gimana?”
CeraiKa” 

Trauma Anci, atau tepatnya disebut fobia, bukan karena tanpa alasan. Di perjalan, ia ketemu dengan makhluk bernama ular, dan parahnya, kaki Anci sempat singgah sejenak di badan ular tersebut. Ia kaget bukan kepalang. Tubuhnya gemetar tak kuasa menahan takut. Kasihan sekali anak itu, lehernya semakin tak tampak karena ketakutan.

Pulau Sempu 1 Januari 2012



Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review