13/01/12

Sebelas Januari

Blog saya terhenti sementara, gara-gara tuannya sakit. Saya tak kuasa melawan penyakit yang menyerang tubuh saya, hingga terkaparlah saya selama sehari semalam di kosan. Kepala rasanya cenat-cenut disertai dengan suhu tubuh yang melambung tinggi. Tak hanya itu, saya juga harus menahan sakit perut yang berkepanjangan akibat diare. Penyakit saya ini bisa dikategorikan komplikasi, karena beberapa penyakit bergabung dan berkonspirasi menyerang tubuh saya yang memang kurang gizi.

Hari ini saya tidak bisa mengikuti ujian ekonomi regional, dikarenakan pas bangun pagi, sakit perut menyerang lagi. Badan lemas dan kepala puyeng. Setelah gosok gigi dan cuci muka, saya kirim sms buat dosen saya. Isinya pemberitahuan kalau mahasiswanya yang rajin ini tidak dapat mengikuti ujian jam pertama. 

Karena pukul 09.15 ada ujian Ekspor Impor, saya berupaya bangkit dari pembaringan. Berjalan seperti dunia terasa terbalik-balik. Karena udara dingin dan takut tubuh saya tidak rela kena air, saya putuskan hanya membasuh muka dan membasuh tubuh saya dengan lap basah.

Saya persiapkan segala alat tempur di ujian nanti. KSM, pulpen, baju putih, celana hitam, hingga bahan contekan. Maklum saya adalah mahasiswa yang memiliki kapasitas otak pas-pasan, jadi harus menggunakan media lain untuk untuk menjawab soal. Tapi kebiasaan saya ini jangan ditiru, karena selain dibenci dosen, ia juga tidak baik untuk perkembangan otak.

Setelah saya rasa telah siap dan tidak ada yang terlupa, saya melangkah dari pintu kost menuju kampus. Di perjalanan, sakit perut datang lagi. Ia datang disertai dengan pusing. Saya berusaha melanjutkan langkah meski ada niat untuk kembali ke kost karena rasa sakit yang tak tertahankan. Di sisi jalan, saya melihat warnet, saya bergegas ke warnet dan beristirahat sejenak di depan komputer. Setelah tenaga terkumpul sedikit demi sedikit, saya melanjutkan perjalanan kembali. 

Di kampus, saya langsung ke kantin membeli teh kotak untuk mengobati tenggorakan saya yang mulai kering. Menunggu hingga beberapa menit, ujianpun dimulai. 

Selesai ujian, saya ke Poliklinik kampus untuk memeriksa penyakit yang saya derita. Setelah registrasi, saya dirujuk ke dokter di salah satu ruangan. Dengan langkah yang lemas dan muka yang kusut Karena belum disetrika, saya duduk di hadapan dokter. Sekitar 10 menit saya duduk di hadapan dokter tanpa dihiraukan, karena sang dokter yang berbakti pada nusa dan bangsa itu sedang asyik menerima telepon tanpa menghiraukan pasien yang ada dihadapannya. Sementara saya…

Saya tidak mengerti apa yang dibicarakan. Hanya saya dengar kata-kata troli, berat, kapan tibanya, harus bagaimana, berkualitas atau tidak, lalu, terus,  dan macam-macam lagi yang tidak sempat saya rekam di telinga saya.

Setelah selesai pembicaraanya dengan orang dibalik telepon genggamnya, barulah saya ditanya. Dengan segala keluhan saya terhadap derita yang saya alami, dokter menarik kesimpulan kalau saya tidak menjaga kesehatan. Jadi penyakit yang saya derita karena kesalahan saya, karena saya tidak mematuhi pola hidup sehat. Saya jadi bingung, kalau dokter menyalahkan saya, terus saya harus salahkan siapa? Masak saya harus salahkan Menteri Kesehatan? Lagipula Menteri Kesehatan sudah bosan disalahkan.

Setelah dinasehati oleh dokter dan diwajibkan minum air putih sebanyak mungkin, saya diberi resep untuk dibawa ke apotik. Tapi dokter tidak memberi tahu saya tentang penyakit yang saya derita. Hingga saat ini saya belum mengerti apa istilah kedokterannya penyakit yang saya alami.
Ah..biarlah semua itu menjadi rahasia dokter.

11 Januari 2012

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review