29/12/11

Semalam di Madura

Akhirnya, Aku ke Madura Juga!

Telah lama Aku berencana menginjakkan kakiku di pulau Madura, tapi baru kali ini tercapai. Sebenarnya pernah, tapi hanya sebatas di ujung jembatan Suramadu, tak sampai pada Madura yang sesungguhnya.

Pada akhirnya seorang teman mengajakku. Tak kusia-siakan ajakan temanku itu, karena sudah dua minggu lalu ia mengajakku, tapi baru kali ini ada kesempatan. Karena ingin menyaksikan Madura lebih dekat, Aku meluangkan waktuku meninggalkan kesibukan-kesibukan yang lain. Tujuan perjalananku adalah Sumenep, sebuah kabupaten di Pulau Madura.

Perjalanan dari Malang ke Sumenep lumayan jauh, dengan menunggangi sepeda motor, waktu tempuh kurang lebih 7 jam dengan kecepatan diatas rata-rata. Kami (Aku dan Azmi) berangkat dari Malang saat subuh masih tersisa. Tepat di Kota Surabaya kami disambut matahari pagi. Tak perlu membuang waktu kami langsung menuju jembatan Suramadu, cukup membayar karcis Rp. 3000,00 kami pun melintasi jembatan terpanjang di Asia Tenggara tersebut dengan waktu kurang lebih 10 menit. Kagum Aku dengan hasil karya manusia tersebut. Mereka mampu menyambngkan antar dua dataran yang letaknya berjauhan. Antara Surabaya dan Madura. Hembusan angin menerpaku hingga aku tiba di ujung jembatan bagian Madura.

Di pulau Madura, kultur masih dipelihara, di pasar-pasar misalnya, sebagian besar perempuan masih menggunakan sarung batik khas Madura untuk bertransaksi, khususnya di pasar-pasar tradisional. Selain kulturnya, Madura juga dikenal dengan keagamaannya. Tak heran jika di derah ini terdapat banyak pondok pesanten. Pulau Madura juga telah melahirkan banyak kiai-kiai yang handal.

Sesampai di Sumenep, aku mengunjungi berbagai situs sejarah. Masih banyak sisa-sisa sejarah yang membuktikan kalau daerah itu pernah jaya di bawah raja-raja yang pernah memimpin Sumenep. Makam raja masih menjadi tujuan wisata daerah tersebut, khususnya wisata religi. Aku pun tak menyia-nyiakan waktuku, aku berada diantara peziarah-peziarah lainnya, berdoa ala kadarnya.

Yang menarik minatku, di seberang pulau Sumenep, terdapat pulau kecil yang di dalamnya terdapat makam Syeh Yusuf. Diajak teman, aku pun mengunjungi makam tersebut. Menggunakan perahu tongkang dengan biaya Rp 3000,00/sepeda motor, kami akhirnya tiba di makam sech Yusuf. Syeh Yusuf ini memiliki tiga makam, selain di Madura dan Makassar, makamnya juga terdapat di Afrika, tapi konon katanya yang asli yang di Afrika sana.

Di kabupaten Sumenep, masih menyisahkan bukti-bukti kejayaan perusahaan garam. Terdapat bangunan tua yang dulunya adalah sebuah perusahaan garam. Bangunan tua menjadi bukti kalau Sumenep pernah menjadi produsen garam terbesar di Indonesia. Bangunan-bangunan tua mejadi saksi akan hal itu. Di depan bangunan tua tertulis nama perusahaan garam tersebut, yang kata temanku kalau bangunan itu adalah perusahaan garam yang dikelolah oleh pemerintah Belanda. (maaf aku lupa nama perusahaannya).

Terletak di hamparan tanah puluhan hektar, bangunan itu tampak angker karena sudah lama tak beroperasi dan ditinggal oleh Belanda. Aku menyempatkan mengambil latar bangunan tersebut untuk berfoto sebagai bukti aku telah menginjakkan kaki di negeri karapan sapi tersebut.

Sebelum pulang ke Malang, aku menyempatkan diri mengujungi Keraton Sumenep yang kini menjadi museum. Di dalamnya terdapat banyak saksi sejarah. Aku tertarik pada sebuah kolam yang terdapat di dalam Keraton. Disana katanya sebagai tempat permandian para putri raja. Kolam itu meiliki tiga pintu masuk, dan diyakini oleh masyarakat memiliki khasiat. Khasiatnya berbeda-beda di setiap pintu. Pintu pertama diyakini sebagai dapat menjadikan awet muda dan mudah mendapatkan jodoh, pintu kedua diyakini dapat menaikkan karir dan kepangkatan, dan pintu yang ketiga dapat meningkatkan iman dan takwa seseorang. Hanya dengan membasuh muka dan tentu saja menyakininya.

Di Sumenep, hampir semua tempat wisata tidak dikenakan biaya tiket masuk, kecuali memasuki Keraton, kita hanya mengeluarkan selembar uang seribu rupiah untuk karcis masuk.

(Tulisan diatas hanya sepenggal kisah perjalananku ke Madura, dan ini yang pertama aku ke Pulau Garam tersebut. Aku berangkat pada hari Sabtu, dini hari pada tanggal 24 Desember 2011 dan pulang dengan selamat pada tanggal 26 Desember 2011 disertai dengn macet yang berkepanjangan dan hujan lebat)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review