Aku tak ingat pasti, kapan hari dan tanggalnya. Aku hanya ingat ketika aku dan ribuan yang lainnya berbaris seperti tentara dengan rambut yang tersisa hanya 1 cm, tak boleh lebih. Aku dan ribuan yang lainnya, berbaris di halaman sebuah kampus. Dibawah terik matahari pagi, masih kuingat waktu itu, aku berdiri dengan wajah tampak lugu. Aku belum mengerti untuk apa aku berdiri di tempat itu dan aku juga belum mengerti untuk apa rambut kami harus dicukur sependek mungkin. Karena memang, tak semua harus dimengerti oleh manusia seperti aku dan yang lainnya. Aku dan yang lainnya menyatu menjadi “kami” pada sebuah tanah datar di depan sebuah gedung yang betuliskan GOR 27 September Universitas Mulawarman.
Di halaman kampus itu aku diajak bernyanyi, di halaman kampus itu kami dibentak, di halaman kampus itu pula aku merasa tak ada gunanya menjadi manusia akibat perlakuan orang-orang yang menyuruh kami berkumpul (yang belakangan ku panggil “senior”). Di halaman kampus itu…akan menjadi salah satu saksi sejarah perjalanan hidupku.
“Hei Gundul!”
Suara itu sangat lantang dari seorang pria berambut gondrong berada pada barisan orang-orang yang dihormati.
Dia adalah panitia, dia adalah senior, maka dia adalah Dewa. Segala ucapannya adalah mantra yang mampu menciutkan nadi kami. Sementara kami hanyalah sekumpulan orang-orang lugu yang mangguk-mangguk di pintu gerbang sebuah peradaban yang bernama universitas.
Aku jauh tersesat dari sebuah kampung yang nyaris tak nampak di sebuah lembaran peta. Berdiri di tanah Borneo demi tugas suci yang bersembunyi dibalik gedung Perguruan Tinggi. Dibalik gedung itu, kusaksikan kamus-kamus ilmiah berterbaran hampir tak terjamah.Di balik gedung itu, kusaksikan orang-orang tua botak (bukan karena dicukur) mengkhianati ilmiah demi rupiah. (Ah, ini hanya prasangka burukku saja).
Matahari pagi semakin menanjak. Dari depan sorang pria dengan gagah nan perkasa menuju sebuah podium kehormatan. Dia adalah panutan, dari sosoknya yang cerdas (atau hanya tampilannya saja) mengeluarkan letupan-letupan kalimat yang membakar semangat kami yang baru memulai mengenal kata semangat. Pekik perjuangan tak lupa ia teriakkan. Aku kagum, orang di sampingku kagum, orang di depanku juga kagum, hingga burung-burung berhenti mengintai mangsa demi mendengarkan Sang Orator mengolah kata di atas panggung.
Orasinya ia tutup dengan Sumpah Mahasiswa, yang belakang aku tahu kalau sumpah itu adalah sumpah palsu. Palsu, sepalsu palsunya.
Kami disuruh duduk, kami pun duduk. Kami di suruh berdiri, kami berdiri lagi. Kami disuruh apa, maka kami akan melakukan apa. Maka kami adalah apa kata mereka.
Hari itu adalah awal penjajahan baru bagiku, dimana ragaku jauh telah dirampas oleh orang lain, atas nama Ospek, atas nama Pencerahan, yang tak lain adalah perbudakan atas nama intelektualitas.


1:46:00 PM
Puang Array
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar