22/12/11

Ibuku, Istrinya Bapakku

Ibuku adalah perempuan kebanyakan, tidak memiliki keistimewahan apapun. Orang seperti ibuku mudah dijumpai di kampung-kampung, mudah dijumpai di pasar-pasar saat sedang mengantri membeli beras murah. Mudah dijumpai di sawah saat musim panen padi telah tiba. Orang seperti ibuku adalah orang paling mudah ditemui disudut manapun. Tak perlu membuat janji, tak perlu mengambil nomor antrian, dan bahkan tak perlu untuk ditemui jika tak ada keperluan.


Ia bukanlah perempuan yang luar biasa. Aktivitasnya biasa-biasa saja. Bangun subuh untuk sholat subuh, ke dapur menyiapkan sarapan kemudian mencucikan pakaian bagi kami anak-anaknya. Seperti itulah ibuku, tak ada yang perlu diistimewakan.

Ibuku tak mengenal teknologi, Hand Phone pun ia tak punya, apa lagi Black Barry. Ibuku, melihat panggilan di telepon saja tak berani diangkat, jika diangkat ia tiba-tiba gugup dibalik telpon, tak kuasa ingin berkata apa. Ia hanya takjub dengan benda mungil itu, yang bisa mengeluarkan suara orang dari negeri antah berantah.

Suatu ketika Pamanku datang membawa HP, dan di HP itu ada gambar Osamah Bin Laden pada layarnya. Ibuku tiba-tiba diserang rasa takut. Ia curiga kalau Pamanku telah terlibat aksi terror bersama Osamah. Ibuku salah sangka, dia  mengira jika seseorang memasang foto Osamah di HP-nya berarti ia telah menjalin hubungan khusus dengan manusia yang paling ditakuti itu. Aku sadar ibuku keliru, tapi aku maklum. 

Maka, jika ada seorang perempuan setengan baya, datang padaku lalu marah-marah sambil berkata, “Kamu kemana aja selama ini? Nelpon gak pernah, SMS gak pernah!” 

Percayalah bahwa dia bukanlah Ibuku!

Tapi bagiku, Ibuku adalah yang terbaik. Ia mengajariku menulis namaku diatas potongan papan dengan pena dari arang. Ibuku yang cuma tamat Sekolah Menengah Pertama, tapi memiliki tulisan yang begitu indah. Indah tiada bandingnya. Dan masih kuingat saat tangannya yang kasar menuntun tanganku merangkai huruf menjadi satu kata yang paling bermakna, yaitu aku. 

Nah, karena ibuku lihai dalam merangkai kata, ia pun banyak mendapat orderan dalam membuat surat. Para tetangga yang ditinggal suaminya meratau, sering datang ke rumah dengan sebuah pena dan secarik kertas. Para tetangga yang lagi “Jablay” ini menumpahkan segala isi hatinya di hadapan ibuku. Lalu ibuku mengolahnya ke dalam beberapa kalimat, menuangkankannya dalam selembar kertas. Begitupun jika ada surat balasan, atau surat yang dikirim sang suami kepada istrinya di kampung, dalam keadaan masih tertutup rapat tanpa dinodai sedikit pun, surat itu diantarkan kehadapan ibuku, minta dibacakan. Maka ibuku tak hanya menyimpan rahasia keluarganya, tapi juga rahasia para tetangganya.

Suatu ketika Aku duduk di salah satu sudut, menyaksikan ibuku yang menghadap ke tungku, meniup bara api yang asap hitamnya menyambar wajahnya. Kasihan sekali perempuan itu. Cita-citanya ingin menjadi guru Sekolah Dasar kandas sudah. Dan nasib mempertemukan aku dan ibuku di ruang sempit itu, pada jaman yang tak pernah berpihak, pada masa yang tak pernah dimengerti.

Ibuku adalah kamus, tiap jengkal hidupnya adalah makna. Ibuku menyimpan sejarah, ia telah merekam hitam putih hidupnya. Di atas sebuah gubuk yang sewaktu-waktu roboh kena angin kencang, ibuku bercerita tentang aku, tentang dia, tentang mereka,tentang semuanya.


0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review