Al-Kautsar 58, 10 Desember 2011
Salah satu hari yang paling dinanti oleh peminat sepak bola di jagad raya ini adalah hari minggu tanggal 11 Desember 2011. Hari itu Santiago Bernabeau akan dipadati oleh puluhan ribu pendukung Real Madrid, karena tim kesayangan mereka akan dihadapkan dengan musuh bebeyutannya, Barcelona. Para pengamat sepak bola amatiran dan penonton akan menjagokan Real Madrid (tentu saja bagi pendukung Real Madrid). Mereka tak ingin tim kesayangan mereka kembali dipermalukan di kandang sendiri. Mereka tak mau itu terjadi, dan sungguh memalukan jika hal itu terjadi lagi. Setidaknya sang Pelatih dan anak didiknya telah belajar banyak dari kekecewaannya.
Hari ini pun hari yang kunantikan, karena aku sangat mendukung Barcelona selain Livepool tentunya. Kuharap El-Barca mengulang kembali sejarahnya, mempermalukan Ronaldo dan kawan-kawan di lapangan hijau miliknya sendiri.
Sambil menunggu detik pertama kick off, kuhabiskan sebagian waktuku dengan berselancar di dunia maya dan menyaksikan anak-anak Al-Kautsar bernyanyi sambil “gila-gilaan” menikmati malam minggunya. Seperti pada biasanya, kontrakan Al-kautsar 58 selalu diramaikan oleh makhluk-makhluk aneh yang mungkin dititipkan oleh Tuhan sebagai pelengkap keanekaragaman makhluk hidup di muka bumi ini. Di balik jendela kamar, kusaksikan mereka berpesta suara di depan teras rumah, dan sebagian lagi duduk di teras sambil menyaksikan sekumpulan orang yang lagi “kesurupan” membawakan lagu-lagu favortinya. Di luar tampak jelas Fahri Malewa memegang gitar akustik, ditemani vokalisnya, Adam, Sandro dan Ikal. Mereka melakukan konser mini tanpa menuntut bayaran dari penontonnya. Prinsip mereka yang penting penonton senang, meskipun sebenarnya tetangga merasa terganggu dengan ulah mereka.
Aku masih asyik dengan dunia maya, tanpa mengiraukan panggilan meraka.
“Riga, disini dong, gabung sama kita-kita, teman-teman ingin mendenganrkan suara khasmu” Kata seseorang diantara mereka, tentu saja dengan logat khas Makassarnya. Orang Makasaar meskipun menggunakan bahasa Indonesia, tapi tetap saja bahasa itu diperkosa sesuai dengan bahasa kultur mereka, sehingga orang-orang diluar Makassar pasti kesulitan dengan arti kosa kata yang mereka ucapkan. Bagi mereka berbahasa Indonesia yang baik dan benar itu tak penting, toh kebanyakan orang-orang di kontrakan ini umumnya berasal dari daerah yang sama. Sama-sama berasal dari pulau yang kalau di peta mirip huruf K.
“Ayo Kak, ngopi bareng anak-anak!” suara Sally terdengar dari luar jendela. Niatnya kesini karena ingin mengajak anak-anak kontrakan untuk ngopi bersama, apalagi malam ini adalah malam minggu, tentu besoknya libur.
Istilah “ngopi” adalah istilah yang digunakan untuk nongrong di sebuah warung kopi. Sebenarnya datang ke warung kopi tidak mengharuskan kita untuk mengkonsumsi kopi, ada banyak minuman lain yang tersedia selain kopi itu sendiri. Karena istilah ngopi telah melekat dalam memori otak kita, maka apapun yang kita minum di warung kopi tersebut, tetaplah dikatakan ngopi.
Ajakan untuk ngopi terdengar berkali-kali, tak kuasa menolak, kutinggalkan dunia maya yang semenjak tadi kususuri.
“Ayo, ajak yang lain biar rame!” Kataku mengajak Sally, yang semenjak tadi memaksa untuk meninggalkan duniaku yang tengah asyik kumainkan.
Berangkatlah kami ke sebuah warung kopi Djaeng, karena selain tempatnya kondusif, warung kopi ini berjarak lumayan dekat dari kontrakan, hanya beberapa ratus langkah kalau saja bisa dihitung. Tapi untuk apa juga menghitung langkah, sama halnya menghabiskan waktu hanya untuk hal-hal yang tak berguna (meski menghabiskan waktu yang tak berguna sering kami lakukan).
Warkop Djaeng, masih tanggal 10 Desember 2011
Djaeng adalah warung kopi favoritku di Malang, karena kegemaranku nongkrong di warung kopi berawal dari sini. Pada mulanya warung kopi adalah tempat bekumpul dengan teman-teman sambil membicarakan topik-topik yang tak tentu, kemudian menjadi tempat tongkrongan untuk berdiskusi bersama taman-temanku yang “mengaku” aktivis, lalu menjadi tempat pacaran (asik).
Selain mudah dijangkau, tempat ini cukuplah murah bila di ukur dari kantong mahasiswa. Alasan lain tentunya minuman yang disajikan adalah halal, tak ada dalam daftar menu jenis minuman yang bisa membuat kepala berdenyut dan pusing tujuh keliling, hingga membuat fantasi dan bertindak yang merugikan diri sendiri, orang lain, apalagi Negara. Sungguh tak ada.
Setelah berbincang-bincang tentang kemana kami akan merayakan akhir tahun, aku pun pamit pulang sambil mengantarkan Sally ke kostnya. Perempuan tak layaklah pulang malam sendirian. Kata-kata itu tentu aku dapatkan dari orang tua yang masih memegang teguh adat dan moral yang dititipkan oleh para leluhur. Sesampai di depan pintu kostnya sally, kuputar kembali roda sepeda motorku menuju kontarak Al-Kautsar 58.
Al-Kautsar 58 pukul 11.45 WIB.
Di kontrakan kutemui Alexandro alias Sandro sedang asyik di depan komputer yang dihubungkan dengan internet. Aku duduk dikursi kosong yang berada di sampingnya, ia pun tahu maksudku.
“Gilaranmu kanda”, lalu pergi meninggalkanku sendrian di depan komputer.
Kuraih mouse kumputer dihadapanku, kuklik simbol-simbol pada pada kumputer, lalu kubuka jendela yang kuinginkan, lalu aku pun kembali tenggelam dalam dunia maya, mengarungi lembaran-lembaran yang disediakan oleh Facebook, sedikit-sedikit membuka jendela informasi yang aku butuhkan.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 03.00 waktu Malang dan sekitarnya, aku bergegas menyusul Bomz dan kawan-kawan ke Warung Ria Djenaka untuk menyaksikan Barcelona menantang Real Madrid. Aku berjalan kaki karena jaraknya juga lumayan dekat. Di tengah jalan aku bertemu dengan beberapa pemuda, dan satu diantara mereka bertanya kepadaku.
“Mau kemana Mas?, Kampus UMM masih tutup.”
“Mau ke depan Mas” jawababku sambil tersenyum.
Orang muda tadi bercanda denganku karena melihat aku menggunakan jaket kebanggaan KKN, dilengkapi dengan tas kecil yang melingkar di pundakku. Untung saja aku tidak memakai sepatu dan kaos kaki.
Ria Djenaka, 11 Desember 2011 (waktu subuh)
Perutku semenjak tadi keroncongan, cacing-cacing yang bersarang ditubuhku tak terima diperlakukan olehku. Semenjak malam menggantikan siang, tak pernah kuisi perutku dengan nasi, hanya secangkir Milo hangat di warung kopi tadi.
“Mas, tahu petis satu porsi dan teh hangatnya satu gelas ya!” Intruksiku kepada pelayan warung.
Di lantai atas warung Ria Djenaka, kutemui Beddu, Bomz, dan Bonchu lagi terkapar diatas kasur mini yang disediakan oleh pengunjung sebagai tempat duduk, tapi ditangan mereka, alas duduk ini beralih fungsi menjadi tempat tidur. Untung saja di warung tak ada peraturan yang melarang pengunjungnya untuk tidur, saat itu suasana memang sangat mendukung, karena warung lagi sepi pengunjung.
Aku mencari angel yang pas untuk menatap layar kaca, kurang satu jam lagi pertandingan yang kami nanti akan dimulai. Sambil menikmati tahu petis pesananku, kusaksikan acara-acara yang ditampilkan dilayar kaca lewat saluran TV One. Waktu menunjukkan pukul 04.00 waktu setempat,tapi Lionel Messi dan kawan-kawan belum juga muncul, begitupun Rhonaldo dan kawan-kawannya. Maka galaulah seluruh penonton. Tak karuanlah pikiran kami. Apa gerangan yang terjadi pada mereka (para pemain sepak bola) sehingga wajahnya tak kunjung menghiasi layar kaca. Hanya pembawa acara tentang keindahan alam berbicara sambil memuji tempat-tempat yang ia kunjungi, tak mau tahu rupanya ia tentang kegalauan kami.
Beberapa menit kemudian beberapa dari penonton mendatangi pelayan, menanyakan kenapa yang ditunggu itu belum datang. Rupanya telivisi di warung itu terhubung dengan saluran TV berlangganan. Pantas saja Messi tak mau datang. Pelayan warung kemudian memindahkan chanel televisi ke antena yang di pasang di batang bambu, barulah kedua kesebelasan itu tampak saling berebut kulit bundar di lapangan. Sangat mengejutkan, skor sudah menunjukkan angka 1:0 dipimpin oleh kubu asuhan Jose Morinho.
Bersoraklah para pendukung Real, dengan bangga bahwa sebentar lagi Barcelona dilumat habis oleh Benzema dan kawan-kawannya. Benzema, belum saja pertandingan mencapai waktu setengah menit, ia telah melesatkan gol di gawang Barca. Hebat benar dia. Maka wajarlah moment ini akan dijadikan ajang pembalasan dendam bagi Real Madrid dan membuat gembira para pendukungnya, baik yang memadati stadion maupun yang duduk membeku di depan telivisi.
Tak lama kemudian, gawang yang berada daerah territorial Real Madrid bergetar, bukan karena gempa atau karena petir yang menyambar, bukan pula akibat getaran gunung Gamalama di Ternate apalagi akibat getaran hand phone milik penonton. Getaran itu justru diciptakan oleh Sanchez stelh mendapt umpan dari Lionel Messi. Satu benda bundar yang ajaib dan mengangumkan bersarang tepat di sudut gawang Real Madrid.
Bagaimana reaksiku? Aku dan Bomz yang sama-sama berada di kubu Barcelona, berteriak gembira bagai orang kesurupan oleh anak jin. Kulihat kiri dan kanan, atas dan bawah, depan dan belakang, rupanya aku saja bersama Bomz yang mendukung kubu anak asuhan Guardiola, yang lainnya dari ekspresi wajahnya, semuanya dapat dipastikan adalah pendukung Cristian Renaldo dan kawan-kawannya. Aha, Skor satu sama, waktu masih panjang, dan bola masih bundar dan jumlah pemain tetap sama.
“Aih, tunggu saja, kau lihat itu Barca dibikin menagis-menangis” sahut Adam di sampingku. Ia sebenarnya pendukung berat Chelsea, tapi karena sejarah kelam dunia sepak bola, membuat Adam begitu benci team Barcelona. Di semi final liga champion 2009, Adam pernah dibikin sakit hatinya oleh Messi dan kawan-kawan, hingga tiga hari tiga malam menderita tak enak badan. Istilah yang Ia ungkapkan bertubi-tubi, Asal Bukan Barca, atau ia singkat ABB.
Hingga peluit jeda pertandingan ditiup oleh pemimpin pertandingan, skor masih imbang, ketakutan para pendukung Real Madrid kini semakin tampak. Dan ketakutan itu terbukti pada babak kedua, karena dengan mata yang sehat, para pendukung Real Madrid menyaksikan tim idolanya diperdayai kembali oleh Barcelona.
Kulihat Bomz ingin berteiak kegirangan, kutahan pundaknya, kutenangkan dia, aku pura-pura kalau tak tahu barusan terjadi gol, aku duduk seolah-olah tak terjadi apa-apa.
“Gol kah itu Bomz? Tanyaku dengan nada provokasi.
“Iya Kanda, apa yang Kanda lihat itu adalah kenyataan, tak sedikitpun hasil rekayasa.”
“Benarkah Bomz yang barusan adalah gol kedua Barca terhadap Real?”
“Iya Kanda, benar sekali, tak sedikitpun aku mau membohongimu Kanda, berdosalah aku jika aku punya tabiat suka berbohong Kanda.”
Kulirik Adam di sisi kananku. Ia tak tega lagi menatap layar kaca. Matanya hanya menatap laptop mini dihadapannya, mulutnya yang tadi terampil berkomentar kini padam, bak disumbat dengan latban hitam layaknya pacar seorang jagoan yang disekap di gudang tua dalam sebuah adegan film.
Kulirik di sisi kiriku, kulihat wajah Beddu dengan penuh ekspresi kekecewaan. Hatinya remuk, ia tak percaya dengan bintang pujaannya telah membuatnya kecewa. Sedih rasanya melihat kawan-kawan baikku, tapi keberuntungan saja tidak memihak kepadanya, seandainya saja Real Madrid benar-benar membantai Barca, bisa kupastikan telingaku akan over load menerima kata-kata yang menusuk-nusuk hingga ke dasar relung hatiku. Andai saja. Dan untung saja dalam dunia nyata kata-kata “andai saja” tak pernah berlaku.
Detak jantungku kembali normal, kemenangan Los Cules kini di depan mata, Los Balancos teringgal. Menit ke menit Real Madrid ditekan dan digempur habis-habisan, Morinho meradang, tukang sobek kartis berang, Marcello semkin emosi, dan Beddu semakin tertekan.
Tak ada lagi suara-suara dari komentator yang semenjak tadi berkicau tanpa dibayar. Melihat gelagat yang kurang baik, Bonchu yang sebelumnya menjagokan Los Balancos (Real Madrid), kini berpaling ke Valdes dan kawan-kawan. Ia mengkhianat. Dalam dunia dukung-mendukung, Bonchu adalah tipe oportunis, cocoklah ia menjadi politikus.
Sepertinya anak asuhan Morinho telah ditakdirkan malam ini untuk diperdayai dan dipermalukan di kandang sendiri. Kembali jala yang dikawal Casilas bergoyang bak Ayu Ting Ting, Fabregas mengukuhkan kemenangan Barca 3:1 atas Madrid.
Kubisik Bomz, ”Bomz, kita harus hati-hati, biarkanlah mereka pulang duluan, kita ini minoritas di tengah kaum mayoritas, kesempatan untuk mendindas terbuka lebar”.
“Iya Kanda, kuterima saranmu.”
Sebenarnya mereka adalah kawan-kawan baikku, dan telah kuanggap saudara sendiri. Tapi dunia sepak bola kadangkala tidak mengenal persaudaraan dan kemanusiaan. Banyak bukti yang tertulis maupun bukti tak tertulis, saudara-saudara kita yang mengaku ber-Tuhan dan rela disunat waktu kecil membantai saudaranya yang seiman hanya karena tim kesayangannya dipermalukan oleh tim yang dibela saudara seimannya.tiu kisah nyata dari dunia yang bernama sepak bola.
Coretan By: Puang Array


1:21:00 PM
Puang Array
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar