11/12/11

Penyakit Gila


Kata teman, waras dan gila itu sama saja, karena waras adalah gila yang tertunda. Makanya jangan kaget kalau seorang yang kemarin sehat-sehat wal-afiat tapi hari ini mendekam di sebuah ruang sempit di rumah sakit jiwa. Penyakit gila bisa datang kapan saja dan menyerang siapa saja. Ia datang tak mengenal waktu, entah siang, malam, sore, dini hari, saat senja, atau saat azan subuh berkumandang.

Ciri-ciri gila tidak bisa dilihat dari fisiknya atau tingkah lakunya. Seseorang yang tampak diam dan sedikit bicara bisa saja mulai menderita stres yang menggejoti pikirannya dan pada akhirnya gila. Gila adalah penyakit nomor satu yang menyerang negara yang berbendaera merah putih ini (tentu saja warna merah diatas dan putih dibawahnya). 

Tidak susah untuk mencari orang waras yang mulai gila. Datang saja di warung penjual pecel di pinggir jalan. Pesan seporsi nasi pecel, dan secangkir kopi hitam. Saksikan pengguna jalan raya yang membawa kendaraan. Salip menyalip dengan kecepatan tinggi menjadi tontonan, bahkan lampu merah yang menyala tak jadi hirauan, maka mereka itu gila.

Rakyat jelata pun yang dulunya waras dan tanpa cacat dalam otaknya telah mengalami geger otak yang membawa mereka ke tahap gila. Gila karena harga minyak goreng semakin tinggi, telur ayam tak bersahabat lagi, susahnya mencari kayu bakar karena hutan telah menjadi gedung. Hingga petani pun mulai gila karena kebijakan menteri perdagangan yang juga tak bersahabat membiarkan barang impor membajiri negeri kaum pribumi. 

Lebih parahnya lagi penyakit gila itu juga ikut diimpor dari negara asing. Negara asing dianggap lebih berbudaya, karena mereka temukan facebook, mereka temukan tweeter, mereka temukan handpone, mereka temukan jenis dan ukuran-ukuran BH. Mereka temukan monyet, mereka temukan pulau, hingga mereka temukan benua, hingga menemukan computer tempat saya mengetik kalimat ini, maka pantaslah mereka disebut bangsa penemu. Sementara kita hanyalah sebuah bangsa yang ditemukan oleh kaum merkantelis. Dan celakanya ketika bangsa kita ditemukan, semua manusianya masih tidak memiliki rasa percaya diri dan kemandirian. Tak heran jika nenek moyang kita rela tunduk dan patuh selama tiga abad lebih di kaki mereka yang menganggap kaum pribumi adalah budak yang layak diperbudak (dalam hal ini entah siapa yang gila). 

Ada tempat untuk menyaksikan orang waras yang belajar gila. Datanglah ke Ibu kota Negara berlambang garuda ini, kunjungi Senayan, masuklah di dalam gedung yang modelnya seperi bukut itu, tengoklah mereka yang berdasi dan berjas saat rapat! Apa yang meraka lukukan?

Gila! Tak bisa dibayangkan manusia pilihan ummat ini hanya titip absen layaknya mahasiswa yang gemar bolos. Marzuki Ali mengakui kalau anggotanya di DPR banyak yang melakukan hal itu. Saya yakin Marzuki Ali ketika mengatakan itu, ia dalam keadaan waras tanpa terindikasi penyakit gila.

Kabar menarik minggu kemarin di depan istana. Seorang pemuda mengunjungi halaman istana denga tubuh yang bermandikan bensin, sedikit dicolek dengan korek api, maka berkobarlah ia seperti pasar kumuh yang kebakaran. Sontak membuat orang-orang geger. Suatu indikasi frustasi yang berujung pada gila dan membakar diri karena bangsa yang dicintainya tak kunjung berdamai dengan kaum pinggiran. Pejabatnya gemar berfoya-foya dengan uang hasil korupsi. Jadilah leher para nelayan dan petani guren dicekik oleh keadaan.

Dan yang lebih gila lagi, jika seseorang terjangkiti penyakit gila tapi ia sadar kalau ia gila tapi merasa tidak gila, maka benar-benar gila ia dan pantas dimasukkan dalam penjara khusus orang-orang gila.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review