Kembali Indonesia dikejutkan dengan runtuhnya jembatan gantung di Kutai Kartanegara. Jembatan yang dikenal dengan “Golden Gate”-nya Indonesia, kini yang tersisa hanyalah puing-puing. Menyisahkan tangis bagi keluarga yang ditinggal pergi para korban yang tertimpa runtuhan.
Semua terkejut. Para pedagang kaki lima yang kebetulan berjualan di pinggir sungai Mahakam terkejut, para tukang ojek terkejut, pengamen terkejut, penjual soto keliling terkejut, tukang dempul kapal terkejut, tukang sobek karcis di pulau Kumala terkejut, Bupati terkejut, Wakil Presiden terkejut, dan Presiden pun ikut terkejut, karena memang Negara kita penuh dengan kejutan, dan kejutan itu selalu datang tatkala tahun akan berganti. Maka layaklah semua rangkaian peristiwa itu disebut kado akhir tahun, meski sebenarnya tak seorang pun yang rela menrima kado hitam seperti itu.
Runtuhnya salah satu jembatan yang panjang di Indonesia ini membuat orang-orang di tanah air menjadi cemas. Maka para ahli jembatan diturunkan untuk memeriksa sejauh mana ketahanan suatu jembatan. Terkuaklah beberapa jembatan yang kondisinya sangat mengkhawatirkan. Hal ini juga berdampak pada jembatan terpanjang di Indonesia, Suramadu. Adanya kekhawatiran para pengguna jembatan memaksa pemerintah untuk turun tangan memastikan kalau jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau Madura tersebut aman hingga 100 tahun lagi.
Namun kecemasan orang-orang terhadap hal-hal yang besar kadang melupakan hal-hal yang kecil. Jembatan kecil yang kondisnya jauh dari aman sering tidak mejadi sorotan publik. Atau jika suatu peristiwa tidak di publikasikan di media, maka jauhlah ia dari perhatian pemerintah, atau pihak yang berwajib, atau pihak yang peduli dengan jembatan-jembatan roboh.
Di Universitas Muhammadiyah Malang, ada satu jembatan gantung yang menghubungkan kampus III ke Tlogomas. Jembatan ini dilalui oleh ratusan mahasiswa bahkan mungkin ribuan setiap harinya, karena jalan setapak itu dianggap jalan pintas menuju kampus, paling tidak yang tidak memiliki kendaraan.
Bagaimana kondisi jembatan itu? Sampai tulisan ini dibuat, belum ada laporan mengenai hal itu. Bisa dibayangkan jika tiba-tiba seorang atau beberapa orang dengan diktat di tangan dan buku pengantar akuntansi atau buku-buku lainnya yang tebalnya mengalahkan lipatan selimut di rumah, melewati jembatan gantung tersebut, lalu jemabatan bergoyang, talinya putus, orang-orang terhampas dan jatuh terbentur pada batu sungai yang memang siap menerkam dari bawah, maka almarhumlah mereka. Atau ada yang selamat, tapi kepalanya terbentur di pasir hingga geger otak, maka sia-sialah segala rumus-rumus yang tersimpan dikepalanya. Atau yang selamat hanya patah tulang, masih bisa diwawancarai oleh media kampus, akan tetapi ia menderita trauma akut dan fobia terhadap jembatan.
Bagi para pengguna jembatan, banyak-banyaklah berdoa. Paling tidak bagi orang muslim dianjurkan membaca “ Doa Melewati Jembatan”. Yang tidak menghafalnya, bisa membaca Basmalah hingga tujuh kali sambil memejamkan mata. Untuk pihak kampus yang konon katanya sering menjuarai kompetisi membuat jembatan, sekiranya perlu memeriksa kembali keadaan jembatan yang membentang di sungai Brantas tersebut dan memastikan jembatan itu aman untuk dikonsumsi. Mencegah lebih baik daripada mengobati, jika sakit berlanjut hubungi Ibu Ani Yudoyono.


12:37:00 PM
Puang Array
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar