29/12/11

Gatal ini Membunuhku


Sebelum saya menulis lebih lanjut, ingin kusampaikan bahwa tulisan ini bukanlah terinspirasi dari sebuah lagu grup band yang dianggap fenomenal oleh masyarakat yang tidak mengerti musik. Tapi ini didasari atas fakta yang menimpa diri saya sebagai hamba yang sejauh ini masih mengimani atas Tuhan yang Esa sebagaimana yang tercantum dalam sila pertama Pancasila yang diulang-ulang dibacakan pada setiap hari senin di sekolah-sekolah dasar. Dan mengenai judul tulisan saya diatas, itu saya dapatkan dalam sebuah prasasti tembok tulis di dinding sekertariat IKAMI Malang. Dari tulisan itu jelaslah membuktikan bahwa orang yang menulis itu pernah mengidap penyakit yang sama, yaitu gatal-gatal.

Saya tidak bisa mendefinisikan gatal dalam bahasa ilmiah, karena memang saya sangat malas membaca kamus ilmiah. Mungkin karena akibat pendidikan keluarga saya yang tidak pernah didasarkan atas pikiran rasional alias ilmiah. Suara burung hantu saja telah diasumikan akan terjadi bencana. Sungguh tidak rasionalkan???karena belum ada yang meneliti tentang hubungan suara burung dengan bencana dan menemukan hubungan positifnya.

Kembali lagi ke gatal. Meskipun sebenarnya tidak menarik untuk dibicarakan, tapi depi kepentingan umat-atau kepentingan politik mungkin, terpaksa saya menceritakan pengalaman saya yang satu ini. Mungkin lebih tepatnya dikatakan curhat. Ya, curhat mengenai gatal.

Begini ceritanya: 
Sekitar satu bulan yang lalu, penyakit yang tidak tergolong langkah ini mampir ke kulit saya dan merasa betah disini. Namun ini sangat mengganggu konsentrasi belajar saya karena saya harus aktif menggerakkan jemari mengikuti irama musik dangdut yang ceria. Sungguh menyebalkan tapi itulah kenyataannya, tak dapat  saya pungkiri dan jujur harus saya katakan tanpa sedikit merahasiakannya. Meski sebagaian orang menganggap penyakit ini sangat memalukan, karena ia termasuk penyakit yang kurang elit dan biasanya hanya menyerang kaum yang secara ekonomi kurang mapan atau lebih kasarnya orang-orang miskin. Tapi mungkin dan memang demikian, saya secara statastik masuk pada golongan yang biasa terserang penyakit murahan ini. Karena untuk penyakit jantung, darah tinggi, dan stroke biasanya diderita para pejabat atau penguasa yang lengser dari jabatannya. 

Sempat juga saya berfikir, kenapa virus ini tidak pindah saja ke tubuh bapak presiden yang saya dan juga anda hormati. Tapi pikiran saya ini terlalu berbahaya. Karena akan membuat heboh bangsa yang sering dikenal penyakitan ini. Media pada heboh. Koran-koran terpampang dengan huruf yang sangat menonjol dan  pada halaman pertama berbunyi: “BAPAK PRESIDEN DISERANG VIRUS GATAL-GATAL’’. Media telivisi tak kalah hebohnya. Siaran-siaran berita hanya membahas presiden dan penyakit gatalnya.

Berbagai asumsi bermunculan, para pengamat politik berdiskusi secara darurat. Mereka mengatakan bahwa ini adalah ulah dari lawan politiknya yang menghedaki presiden kita segera turun. Para intelijen berpendaat lain. Mereka dengan penuh rahasia mengatakan ini adalah ulah terorisme yang telah lama mengintai bapak presiden kita yang tercinta dan sama-sama kita cintai, sehingga lewat sepucuk surat yang dihalaman depannya tertera bekas lipstik berbentuk bibir, merema telah metipkan virus yang menyebalkan itu. Namun Paranormal berpendapat lain pula. Para jin penjaga gunung dan setan-setan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikumpulkan. Mereka rapat dengan segala perlengkapan yang misterius. Sudah dapat dipastikan hari rapat mereka bukan ditentukan oleh kesepakatan forum, tapi harus mutlak pada malam jumat kliwon disaat secercah sinarpun tak ada. Dan hipotesa mereka mengatakan: bapak presiden kena santet. 

Para pengangguran yang senang nongkrong di warung kopi tertawa-tawa dengan bangga mengatakan, presiden kita mengidap penyakit korengan. Maka situasi ekonomi menjadi kacau tak terkendali. Pasar saham jatuh. Rakyat miskin makin terjepit, meski sesungguhnya mereka juga mengidap penyakit korengan yang menahun. Demonstrasi mahasiswa dimana-mana. Mereka menghendaki kepastian ekonomi yang kian memburuk karena presiden kita tidak mampu menjalankan fungsi sebagaimana mestinya.

Melihat dampak yang akan ditimbulkan dengan penyakit yang berinisial “korengan” ini, maka pikiran negatif saya kembali saya cabut. Karena biar bagaimanapun 250 juta rakyat berada ditangan seorang presiden. Cukuplah orang sebangsa saya yang digerogoti virus yang sebenarnya saya juga benci...

Karena sesungguhnya manusia yang baik itu tidak menjadikan penyakit sebagai penderitaan melainkan adalah anugrah. Anugrah yang tak indah tentunya.

Itulah sekilas tentang bahaya gatal, maka saya menyarankankan hiuplah yang bersih layaknya artis-artis yang ada di TV, mulus bukan main.

(Tulisan ini saya buat saat saya menderita gatal-gatal: Sebuah Pengakuan!)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review