Reportase: 12 Februari 2012
Hujan belum lama berlangsung, tapi tiba-tiba air meluncur deras hingga ke dalam kontrakan IKAMI Sulsel di Al-Kautsar 58. Semua dari kami kaget dan lari pontang-panting. Air tak dapat dibendung. Ia meluncur deras tanpa dosa. Drainase tak kuasa menampung debit air yang mengamuk, meluap merambati rumah-rumah yang posisinya memang rendah. Sungai kecil itu merelakan air tumpah ruah ke lorong-lorong sempit, kemudian menikung masuk ke bilik-bilik kos mahasiswa.
Rumah Al-Kautsar 58 hampir saja terapung dengan segala isinya. Kami memang terlambat melakukan evakuasi, sehingga kasur dan barang-barang lainnya terendam air yang tingginya melampaui pergelangan kaki. Untung saja beberapa barang-barang yang penting masih sempat diselamatkan. Komputer, printer, dan berkas-berkas organisasi menjadi target utama untuk dievakuasi. Setelah itu barulah barang-barang lainnya ditempatkan pada posisi yang tidak terjangkau oleh luapan air.
Melihat kondisi yang tak lagi bersahabat, Ucheng Sang Pahlawan Berkumis, beraksi. Tanpa takut oleh terpaan air yang menghujam keras dari langit, ia berusaha keluar dari rumah dan mengambil batu besar untuk menghalangi pergerakan air. Dan hasilnya tidak sia-sia. Debit air yang semenjak tadi menembus kontrakan kini sedikit dapat diatasi. Setelah itu disusul oleh kawan-kawan lainnya. Begitupun dengan Rikar. Ia juga memberanikan diri menembus hujan yang tak kunjung reda. Melakukan segala usaha uantuk membedung pergerakan air. Melihat mereka, aku pun jadi tertarik. Bukan tertarik karena di dorong jiwa sosial untuk menyelamatkan kontrakan, tapi hujan bagiku adalah saat yang tepat untuk bermain air. Membebaskan tubuh diterpa jutaan butiran air yang berjatuhan yang entah kapan akan berkhir. Begitu pun dengan Fahri. Ia melihat banjir sebagai wadah permainan. Ia tampak gembira melihat air meluncur di jalanan, meski kamarnya sendiri dalam kondisi siaga satu.
Banjir menjadi tontonan yang menarik, sekaligus tak diharapkan kedatangannya. Sebagian besar rumah-rumah di Al-Kautsar terendam banjir. Kami mencoba menyelusuri hingga ujung gang. Tampak orang-orang bersusah payah menyelamatkan barang-barang mereka masing-masing. Ada beberapa kos-kosan mahasiswa yang ditinggal mudik penghuninya terlihat sangat parah kondisinya. Air menerjang masuk tanpa izin.
Kata seorang kawan,” Tuhan tak bersalah...”
Manusialah yang tak mampu lagi menjaga lingkungan. Banjir adalah ulah manusia yang tak peduli terhadap lingkungan, karena drainase atau pun kali seharusnya menjadi tempat mengalirnya air. Tetapi bangunan yang tumbuh subur merampas tempat-tempat yang seharusnya menjadi tempat untuk mengalirkan sisa-sisa air hujan yang turun dari langit.
Reporter Amatiran : Puang Array
(Dilaporkan langsung dari sudut kota Malang)


6:38:00 PM
Puang Array
Posted in:
3 komentar:
mantab catatanmu .. hahaha
qt d kntrakn kena banjir tp senang, kl yg lain kodong??? hahaha
untung laptopku selamat!
itu juga saya heran sama anak2, seharusnya ditangisi tapi mereka malah tertawa kegirangan...
#Ah...anak muda zaman sekarang.
Aku sudah lihat foto2nya di blog Ucheng..fiuh heboh banget tu aer..
Posting Komentar