Aku sebenarnya tak tahu harus menulis apa tentang Hari Kasih Sayang. Tradisi di kampungku tak mengenal istilah itu. Bukan cuma hari kasih sayang, kata cinta pun tak bisa ditemui di dalam kamus kami, kamus orang bugis. Ungkapan perasaan itu hanya diwakili dengan kata ‘pappoji’ yang artinya sebenarnya adalah menyukai, bukan mencintai. Berbeda dengan orang Jawa, cinta dapat diwakili dengan kata ‘tresno’ atau dalam kamus orang Bule, jelas tertulis kata ‘love’.
Tapi tak dapat disimpulkan bahwa kaumku bukanlah orang yang tak romantis. Meski umumnya ayah kami berwatak keras, tapi sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat romantis. Hanya saja cara mengungkapakan kasih sayangnya berbeda-beda. Seperti Ayahku, karena sayangnya sama aku, ia tak segan-segan memberiku cambuk gratis gara-gara aku tidak mandi seharian. Karena sayangnya sama aku, ia ikhlas menarik telingaku hingga memerah hanya karena aku membolos mengaji. Begitu pun ibuku, sapu lidi di tangannya bisa melayang kapan saja jika ia menemui aku membolos dari sekolah.
“ Mau jadi apa Kau, Nak? Baru mengenal perkalian dua sudah malas sekolah, kalau begitu mending jadi gembala sapi saja!”
Pagi-pagi telah kudengar ceramah ibuku. Kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya merupakan kata pengantar untukku dalam menjalani kehidupan hari itu. Ibuku hanyalah sedikit orang tua di kampung kami yang memahami arti pentingnya sebuah pendidikan. Melihat anak-anaknya mengacuhkan sekolah adalah penghinaan baginya, penghinaan bagi kampungku, dan juga penghinaan bagi bangsaku.
Di usiaku yang belum mengenal dunia, kuanggap ibuku adalah pengomel nomor wahid. Kata-katanya hanya kuanggap angin lalu yang tak berpetuah. Tahu apa ia dengan dunia anak-anak. Hingga akhirnya aku sadari. Semua yang pernah terlontar dari mulut ibuku adalah ungkapan kasih sayang yang tak mungkin terbalas. Orang tua, begitulah caranya...
Lain halnya dengan Kakekku. Ia bertutur, katanya, “Model percintaan anak muda masa kini sangat berbeda dengan anak muda masa lalu. Zaman sekarang, sepasang sejoli tak punya rasa malu bercumbu di tengah keramaian. Tak afdol pacaran itu tanpa ciuman. Begitu dalil yang sering kita dengarkan dari mereka yang lagi dimabuk asmara. Astagfirullah... Padahal masa lalu, ketahuan berpegang tangan saja sudah aib bagi mereka.”
“Apakah Kakek dulu juga pacaran dengan Nenek sebelum menikah?” tanyaku memancing kisah asmara masa lalu Kakekku.
“ Di zaman Kakek, kami mengenal istri kami saat pesta pernikahan. Sebelumnya kami tidak pernah saling mengenal apalagi mencintai. Semua dilangsungkan atas pilihan orang tua dan keluarga. Cinta itu datangnya saat ijab kabul, ketika Kakek memilih Nenekmu sebagai pendamping Kakek. Kakek percaya, nenekmu adalah tulang rusuk Kakek yang telah dipisahkan oleh Sang Pemilik Cinta hingga kami dipertemukan di pelaminan kelak. Dan di depan penghulu, di dalam hati Kakek berjanji, akan selalu menjaga tulang rusuk itu hingga salah satu dari kami tutup usia. Karena cinta itu tulus Nak, tidak mengenal harta dan tahta. Dan cinta yang sesungghnya itu adalah bagaimana kita bisa saling memiliki dan saling memahami.”
Ah, Kakekku benar-benar lelaki romantis. Tak salah ambil keputusan Nenekku yang meiliki rupa yang cantik, putih dan bersih menerima pinangan seorang pejuang kemerdekaan di zamannya. Dialah Kakekku. Pria penyayang, yang tidak hanya menyayangi istri dan anak-anaknya, tapi juga kasih sayang itu ia tuangkan kepada menantu dan cucu-cucunya. Meski ia jauh dari kata tampan. Hanya memiliki sorot mata yang penuh tanggung jawab. Itu saja.
Kembali lagi ke masa lalu, atau lebih di kenal zaman tempo doeloe. Zaman ketika si Baco mencintai si Becce. Baco yang memendam rasa sayang kepada si Becce, tak berani mengungkapkannya. Lewat ponakannya si Becce, ia titipkan salam. Dengan wajah yang masih polos, si ponakan menyampaikan kata salam yang dititipkan si Baco kepadanya. Berbunga-bungalah hati si Becce, sumringalah wajahnya. Ia serasa melayang ke angkasa kemudian meluncur turun melalui pelangi. Baco adalah pemuda impiannya. Pemuda yang dikenal sabar dan baik hati. Tapi karena adat dan takut kepada pamannya, si Baco tak berani mengapeli si Becce.
Di zaman Baco, belum banyak orang memiliki sepeda motor. Jadi belum dikenal istilah ‘pelukan setengah lingkaran’. Jika Baco rindu, cukuplah ia berjalan mondar-mandir di depan rumah si Becce. Lewat celah dinding papan, si Becce mengintip. Terobatilah rindu mereka berdua. Ya, begitulah cara mereka, tak lebih dari itu.
Hingga tiba masa bergesernya makna cinta, seiring dengan perubahan pola pikir manusia tentang kasih sayang. Kasih sayang hanya dimaknai sebatas luapan birahi. Ia datang dengan tiba-tiba dan pergi juga secara tiba-tiba. Di zaman yang materialistik seperti sekarang ini, cinta hanya di ukur dari segi ekonomi. Tak heran jika cinta bersifat fluktuatif seperti pergerakan saham di pasar modal. Karena terlalu banyak spekulan cinta yang hanya mencoba peruntungan, bukan untuk meraih cinta itu sendiri.
Seorang perempuan berkata:
Ketika semua orang ingin menikah dengan orang yang dicintainya, maka aku sedikit berbeda, aku berdoa agar mencintai orang yang menjadi suamiku.
Malang, 14 Februari 2012
Puang Array


9:54:00 AM
Puang Array

Posted in:
1 komentar:
romantismu cowo. hahaha
http://donortekstual.blogspot.com/
Posting Komentar