“Ga, gimana kabarnya lorjen?”
Begitu kau selalu mengingatkanku
tentang suatu dunia yang bernama blog.
Dunia tempat aku mencurahkan segala kegalauan dan canda tawaku. Kala itu
blog menjadi kawan baru dalam hidup kita. Hingga aku putuskan untuk “pacaran”
dengan blog pribadiku yang kuberi nama www.lorong-jengkie.blogspot.com.
Dan kau pun mengikat janji sehidup semati dengan www.donortekstual.com
Makna dibalik pemberian nama blogku
itu nanti kuceritakan padamu kawan, karena disini aku hanya ingin menulis
tentang seseorang yang sering memberiku motivasi dalam menulis di dunia blog.
Salam Kawan…
Mari kita lanjutkan cerita yang
sempat tertunda. Kepala ini terlalu berat menampung segala cerita hidup yang
silih berganti. Kau sering bertanya, “kapan btkumu terbit?”
Kujawab singkat, “ya, tunggu saja”.
Namun dalam hati berbisik,” kapan terbitnya, dikirim ke penerbit saja belum
pernah”. Tapi aku tidak sealiran dengan Kanda Darno, yang bernazar takkan mau
lulus kuliah sebelum bukunya terbit. Bagaimana pun, kuliah bagiku adalah salah
satu anak tangga yang mesti dilalui untuk menuju ke ketinggian tertentu. Persoalan
cepat atau lambatnya, semua tergantung mood dan juga tergantung dosen
pembimbing. (hahahaha kisah klasik).
Ah, kita bernostalgia sejenak
kawan…
Kala angin malam menusuk hingga
ke tulang belakang pada sebuah tempat berinternet gratis di kampus kita mengadu
nasib atas nama akademik. Kau asyik dengan “ Donor Tekstual” mu dan aku pun larut dengan “lorong-jengkie” ku. Tak terasa
canda tawa yang sedikit gila itu berlanjut hingga ayam berkokok. Sesekali kau
menuliskan pesan untukku lewat inbox FB-mu, menawariku bahan untuk ditertawakan
bersama. Dan akhirnya aku tertarik dengan idemu, hingga aku pun larut dalam
dunia sintingmu…
Ide-ide sinting memang sering
lahir dari kepala yang tak waras. Karena orang waras selalu dihantui dengan
kehati-hatian sehingga mencoba adalah hal yang tabu baginya. Meski Kau terlalu
ngawur dalam ukuran norma yang berlaku, tapi tidak bagiku. Kau adalah salah
satu inspiratorku. Salah satu teman “curhat filosofis” sekaligus teman
gila-gilaan. Penyakitku memang begitu, selalu tertarik dengan dunia yang sedikit
gila, karena dibalik kegilaan itu tersimpan kewarasan. Dan kau adalah gambaran
nyata dalam hal itu.
Maaf kawan, sudah lama kita tak
berbagi kisah di dunia maya. Bahkan dunia nyata pun telah memisahkan kita. Aku larut
dengan dengan skripsiku, dan kau larut dengan KKN-mu yang tertunda. Kau larut
dengan kasurmu yang empuk dan aku pun larut dengan hasil penelitianku…
Tapi meski kita berbeda zaman,
berbada gaya, dan juga beda nasib tentunya, tapi atas nama dunia yang terlupa,
atas nama dunia yang tak lagi waras, kita selalu dalam satu langkah...
Ngeng..Ngeng…Lanjutkan
petualangmu kawan!
Mengenang Kawanku, Riqaryanto
Manaba’
(Yang tertatih-tatih mengejar
status kesarjanaannya)


7:28:00 PM
Puang Array


