20/01/12

KARENA BB, MEREKA PUN “AUTIS”

Saat peradaban semakin maju di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, terkadang penyakit yang tak diundang datang menyapa. Autis, dikenal dengan penyakit yang dibawa semenjak lahir, berupa gangguan mental pada anak, ternyata bisa menyerang saat orang sudah dewasa.

Nah, penyakit inilah yang sedang melanda dua orang sahabat saya. Beddu, begitu sapaan akrabnya, adalah anak muda dengan pembawaan yang ceria. Memiliki kelakar khas yang sering mengundang tawa bagi teman-temannya. Beddu dikenal mudah bergaul, dan mudah akrab dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Ia juga termasuk orang yang disenangi oleh teman-temannya, karena pengorbanannya yang tanpa pamrih. Dalam bekerja ia selalu ikhlas, seikhlas tentara veteran perang kemerdekaan yang terlupakan saat pembagian sembako. Dalam forum-forum diskusi, Beddu tampil aktif dan fasih berdalil dalam mengeluarkan argumen. Pikirannya yang sedikit nyeleneh sering mengundang perdebatan dalam diskusi. Apalagi Beddu memang orang yang gemar berceloteh, ditunjang oleh otaknya yang encer.

Tapi kini semua berubah. Beddu yang saya kenal “banyak bicara” kini terlihat sangat sabar dan jarang berkomentar. Ia sering menyendiri di sudut kamar atau di sudut teras, tak menghiraukan sahat-sahabatnya yang lain. Kadang dari jauh kulihat ia senyum-senyum sendiri. Mulutnya sering komat-kamit seperti dukun membaca mantra.

Ada apa dengan Beddu?

Ceritanya begini. Beberapa bulan yang lalu, seorang teman saya ingin menjual ponselnya. Ponsel merek impian anak muda masa kini, sebuah Black Barry (BB) mungil berwarna hitam mengkilat. Benda itu begitu memikat. Selain sebagai sarana berkomunikasi di dunia maya, benda itu juga dapat mengangkat derajat seseorang yang dulunya “ndeso” menjadi “ tidak ndeso lagi”. Paling tidak mulai mengenal istilah BBM-an.

Karena Beddu tertarik, ia pun berusaha membujuk orang tuanya di kampung untuk membelikan BB tersebut. Entah alasan apa yang disampaikan ke orang tuanya sehingga permintaan Beddu dikabulkan. Jadilah Beddu memiliki BB seperti yang selama ini diimpikannya.

Disinilah penyakit itu berawal. Kemana pun dan dimana pun, Beddu selalu ditemani oleh BB kesayangannya. Entah rapat, entah di warung kopi, entah di warung makan, entah lagi kuliah, atau apalah, Beddu tidak pernah melepaskan BB-nya. Bahkan saat tidur pun Beddu selalu ditemani benda kesayangannya itu. Beddu, sekarang jarang menyapa sebelum di sapa terlebih dahulu. Saat bicarapun pandangannya tidak pernah lepas dari layar BB kesayangannya. Paranyahnya lagi, penyakit “mengasingkan diri dari dunia nyata” ini mulai menjakiti teman-teman dekatnya. Dan orang yang pertama terjangkiti adalah teman terdekatnya yang bernama Ancy.

Beddu yang lebih senior dalam ber-BB, berusaha merayu Ancy untuk menggunakan BB juga. Katanya hanya sekedar memudahkan berbagi informasi lewat media BBM. Tak butuh lama untuk merayu, Ancy pun terpikat. Apalagi Ancy sebenarnya telah lama merindukan ponsel yang demikian. Dengan bantuan Beddu, BB pesanan Ancy pun datang.

Tapi mereka malah tambah aneh, sangat jarang teguran, padahal tidak pernah ada konflik diantara mereka selain kemarahan Ancy karena tidak diantar pulang ke tempat kostnya. Itupun hanya berlangsung singkat. Usut punya usut, ternyata komunikasi lisan dialihkan ke komunikasi tulisan lewat BBM, meskipun mereka duduk berdampingan.

Penyakitnya yang mulai diderita Ancy sama dengan penyakit yang diidap oleh Beddu, sama-sama sering tersenyum sendiri tanpa kami tahu penyebabnya. Saat kami “ngopi bareng ‘ (di warung kopi tentunya), Beddu duduk berdampingan dengan Ancy, tapi karena tempatnya berdesak-desakan, Beddu menyuruh Ancy untuk bergeser sedikit. Perintah Beddu tanpa suara, tidak juga menggunakan bahasa noverbal. Hanya mengetik beberapa kata, lalu kirim, pesan muncul di BB-nya Ancy. Tahulah dia maksud dari Beddu.

Awal mulanya sebenarnya Beddu sangat akrab dengan Sandro (Nawir). Mereka adalah dua sahabat yang tak pernah terpisahkan. Hingga akhirnya mereka terpisahkan oleh masing-masing benda yang dimilikinya. Semenjak Beddu punya BB, sudah jarang ia bercengkrama dengan Sandro. Sandro kini orang asing baginya, karena belum mengenal teknologi canggih. Sementara Sandro memilih jalan yang berbeda. Ia tak memiliki BB, tapi ia lebih memilih Vespa butut sebagai sarana transportasinya. Jadilah mereka seperti dua sisi mata uang, satu tapi berbeda. Beddu menempuh jalan yang modern, sementara Sandro, berkutat pada pandangan tradisionalnya.

Begitulah pengaruh BB (Black Barry). Ia melepaskan seseorang dari dunia nyata, kemudian mengurungnya di dunia maya. Mengubah bahasa lisan menjadi bahasa tulisan. Membuat seseorang menyendiri di tengah keramaian. Beddu dan Ancy, kini benar-benar telah terlena dengan fitur-fitur canggih yang ditawarkan oleh benda yang bernama Black Barry,  yang memang konon katanya membawa pesona tersendiri bagi pemiliknya.
(Do’a: Tuhan...Semoga saya juga punya BB)

Camp 58, 20 Januari 2012
Puang Array



4 komentar:

yes mengatakan...

hahaha.
http://donortekstual.blogspot.com/2012/01/karapan-sapi-dari-madura-untuk.html

Cheng Prudjung mengatakan...

sy juga mw punya bb deh kl bisa bikin makin sabar !!!
hihihihi

by:
pecinta android

budi alwi mengatakan...

beddu..beddu...mdah2an sy tidak kena pnyakit sprti mreka lah.....hahaha

ikadaengtene@gmail.com mengatakan...

Mau ganti ke BB..mikir-mikir dulu.


Pecinta Android

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review