30/12/11

Saya Tak Ingin Menjadi Anggota DPD RI


Sebenarnya saya tidak ingin menjadi anggota DPD RI, bahkan tidak ada niat untuk itu. DPD RI adalah sesuatu yang asing di telingan saya, dan mungkin juga ditelinga masyarakat pada umumnya. Padahal lembaga ini resmi didirikan pada tanggal 1 Oktober 2004 ketika 128 anggota DPD yang terpilih untuk pertama kalinya dilantik dan diambil sumpahnya. DPD RI dibentuk karena pandangan tentang perlu adanya lembaga yang dapat mewakili kepentingan-kepentingan daerah, serta untuk menjaga keseimbangan antar daerah dan antara pusat dengan daerah,  secara adil dan serasi. Sebuah lembaga agung kedengarannya.

Sering menjadi perdebatan pula tentang adanya lembaga ini. Bukankah disetiap daerah telah ada yang mewakili kepentingan daerah masing-masing, yaitu DPRD? Bahkan popularitas lembaga ini tidak dapat mengalahkan popularitas DPRD atau DPR RI (kalau memang sekedar mencari popularitas). DPD RI hampir tidak pernah kedengaran suaranya, dan semenjak adanya lembaga ini, hingga hari ini belum mampu menyelesakan permasalahan-permasalah di daerah yang diwakilinya. Atau lembaga ini dibentuk hanya untuk sekedar bagi-bagi “kue” di setiap daerah propinsi? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu (kata Bunga Citra Lestari dalam sebuah lagunya).

Akan tetapi jika takdir berpihak kepada saya, dan suatu saat saya ikut duduk manis di kursi DPD RI, tentu saya akan melakukan hal-hal yang positif seperti janji-janji para politisi lainnya.

Petama,saya akan membuat DPD RI menjadi lebih popular dengan memasang iklan sebanyak mungin di media massa, baik cetak maupun elektronik. Media massa adalah wadah yang sangat efektif untuk sebuah pencitraa.

Kedua, membuat jargon yang berbunyi : DPD RI untuk Rakyat, Maka Cintailah dengan Segenap Jiwa dan Ragamu! Selain jargon-jargon, setiap sudut kota dan sudut desa, saya akan pasangi poster-poster atau baliho-baliho raksasa yang dapat merefleksikan ke mata rakyat kalau memang DPD RI itu ada, bukan antara ada dan tiada.

Ketiga, membuat nanyian seperti nyanyian yang pernah di populerkan oleh KPK, tapi dengan lirik yang berbeda. Kurang lebih begini: DPD di dadaku, DPD kebangganku, Kuyakin hari ini... Kita benar.

Keempat, membuka layanan pengaduan ke setiap Desa. Pos pengaduan ini melayani seluruh lapisan masyarakat. Baik kaya maupun miskin, baik tua maupun muda, baik cerdas mapun bodoh, baik tinggi maupun pendek, baik cantik maupun jelek, baik yang baik maupun yang tidak baik (selama ada niat untuk berubah menjadi baik).

Kelima, yang menurut saya lebih penting, yaitu menjadikan DPD RI sebagai pembelajaran yang wajib di tingkatan Sekolah Dasar. Dengan cara ini, kelak generasi mendatang tidak lagi melupakan jasa-jasa para anggota DPD RI. Hingga tua saya yakin mereka tak pernah lupa.

NB: yang lain-lain menyusul, kelak ketika saya menjadi anggota DPD RI baru saya pikirkan lagi apa yang mesti saya lakukan demi nusa dan bangsa.

29/12/11

Tahun 2012, Satelit Rusia Menghantam Bumi, Waspadalah!


Selalu ada kabar mengerikan dunia ini, dan salah satu kabar mengerikan itu saya temukan di kompas.com (Rabu, 28 Desember 2011) saat saya sedang asyik membuka-buka artikel. Judulnya begini: Awal 2012, Satelit Phobos-Grunt Menghantam Bumi.

Satelit ini milik rusia dan diperkirakan akan menghantam bumi pada tahun 2012. Berarti petaka itu bisa datang bulan depan, mengingat sekarang kita berada di penghujung 2011.
Phobos-Grunt adalah wahana antariksa yang diluncurkan Rusia pada 9 November 2011 lalu dengan target bulan Mars, Phobos. Wahana antariksa tersebut ditargetkan sampai ke Mars pada 2012 dan kembali ke Bumi tahun 2014.

Phobos Grunt berencana mengambil sampel tanah dan batuan Phobos. Wahana antariksa yang berbiaya Rp 1,5 triliun itu juga membawa sampel bakteri, tumbuhan yang dikatakan bisa bertahan di lingkungan ekstrem, dan hewan tak bertulang belakang.

Tetapi, kata astronom Ma'rufin Sudibyo, “Satelit itu gagal ke Mars karena macet di orbit bumi. Dan teknologi canggih yang lagi sial itu diperkirakan akan kembali jatuh ke bumi pada 12 Januari 2012”

Lain halnya dengan USSTRATCOM. Ia membuat pernyataan bahwa Phobos-Grunt akan jatuh masuk ke atmosfer Bumi pada 14 Januari 2012 sekitar pukul 05.22 WIB. Satelit akan jatuh di rentang wilayah 30,7 derajat LU 62,3 derajat BT, Afganistan barat daya, sekitar kota Mirabad.
 
Kasihan juga saudara-saudara kita di sana jika tiba-tiba tertimbun rongsokan berupa besi yang beratnya mencapai 13 ton. Kalau tepat jatuh menimpah mesjid, maka porak-porandalah rumah Tuhan itu, jika ia jatuh di pemukiman padat penduduk, bisa dibayangkan, gelar almarhum akan segera di sandang oleh mereka.

Tetapi bagi kaum yag bermukim di Indonesia Raya ini, sedikit perlu untuk bergembira. Menurut Ma’rufin lagi, bahwa kecil kemungkinan satelit itu jatuh di wilayah Indonesia (Syukur Alhamdulillah). Hanya diperkirakan Indonesia akan menjadi proyeksi lintasa satelit tesebut.

Semalam di Madura

Akhirnya, Aku ke Madura Juga!

Telah lama Aku berencana menginjakkan kakiku di pulau Madura, tapi baru kali ini tercapai. Sebenarnya pernah, tapi hanya sebatas di ujung jembatan Suramadu, tak sampai pada Madura yang sesungguhnya.

Pada akhirnya seorang teman mengajakku. Tak kusia-siakan ajakan temanku itu, karena sudah dua minggu lalu ia mengajakku, tapi baru kali ini ada kesempatan. Karena ingin menyaksikan Madura lebih dekat, Aku meluangkan waktuku meninggalkan kesibukan-kesibukan yang lain. Tujuan perjalananku adalah Sumenep, sebuah kabupaten di Pulau Madura.

Perjalanan dari Malang ke Sumenep lumayan jauh, dengan menunggangi sepeda motor, waktu tempuh kurang lebih 7 jam dengan kecepatan diatas rata-rata. Kami (Aku dan Azmi) berangkat dari Malang saat subuh masih tersisa. Tepat di Kota Surabaya kami disambut matahari pagi. Tak perlu membuang waktu kami langsung menuju jembatan Suramadu, cukup membayar karcis Rp. 3000,00 kami pun melintasi jembatan terpanjang di Asia Tenggara tersebut dengan waktu kurang lebih 10 menit. Kagum Aku dengan hasil karya manusia tersebut. Mereka mampu menyambngkan antar dua dataran yang letaknya berjauhan. Antara Surabaya dan Madura. Hembusan angin menerpaku hingga aku tiba di ujung jembatan bagian Madura.

Di pulau Madura, kultur masih dipelihara, di pasar-pasar misalnya, sebagian besar perempuan masih menggunakan sarung batik khas Madura untuk bertransaksi, khususnya di pasar-pasar tradisional. Selain kulturnya, Madura juga dikenal dengan keagamaannya. Tak heran jika di derah ini terdapat banyak pondok pesanten. Pulau Madura juga telah melahirkan banyak kiai-kiai yang handal.

Sesampai di Sumenep, aku mengunjungi berbagai situs sejarah. Masih banyak sisa-sisa sejarah yang membuktikan kalau daerah itu pernah jaya di bawah raja-raja yang pernah memimpin Sumenep. Makam raja masih menjadi tujuan wisata daerah tersebut, khususnya wisata religi. Aku pun tak menyia-nyiakan waktuku, aku berada diantara peziarah-peziarah lainnya, berdoa ala kadarnya.

Yang menarik minatku, di seberang pulau Sumenep, terdapat pulau kecil yang di dalamnya terdapat makam Syeh Yusuf. Diajak teman, aku pun mengunjungi makam tersebut. Menggunakan perahu tongkang dengan biaya Rp 3000,00/sepeda motor, kami akhirnya tiba di makam sech Yusuf. Syeh Yusuf ini memiliki tiga makam, selain di Madura dan Makassar, makamnya juga terdapat di Afrika, tapi konon katanya yang asli yang di Afrika sana.

Di kabupaten Sumenep, masih menyisahkan bukti-bukti kejayaan perusahaan garam. Terdapat bangunan tua yang dulunya adalah sebuah perusahaan garam. Bangunan tua menjadi bukti kalau Sumenep pernah menjadi produsen garam terbesar di Indonesia. Bangunan-bangunan tua mejadi saksi akan hal itu. Di depan bangunan tua tertulis nama perusahaan garam tersebut, yang kata temanku kalau bangunan itu adalah perusahaan garam yang dikelolah oleh pemerintah Belanda. (maaf aku lupa nama perusahaannya).

Terletak di hamparan tanah puluhan hektar, bangunan itu tampak angker karena sudah lama tak beroperasi dan ditinggal oleh Belanda. Aku menyempatkan mengambil latar bangunan tersebut untuk berfoto sebagai bukti aku telah menginjakkan kaki di negeri karapan sapi tersebut.

Sebelum pulang ke Malang, aku menyempatkan diri mengujungi Keraton Sumenep yang kini menjadi museum. Di dalamnya terdapat banyak saksi sejarah. Aku tertarik pada sebuah kolam yang terdapat di dalam Keraton. Disana katanya sebagai tempat permandian para putri raja. Kolam itu meiliki tiga pintu masuk, dan diyakini oleh masyarakat memiliki khasiat. Khasiatnya berbeda-beda di setiap pintu. Pintu pertama diyakini sebagai dapat menjadikan awet muda dan mudah mendapatkan jodoh, pintu kedua diyakini dapat menaikkan karir dan kepangkatan, dan pintu yang ketiga dapat meningkatkan iman dan takwa seseorang. Hanya dengan membasuh muka dan tentu saja menyakininya.

Di Sumenep, hampir semua tempat wisata tidak dikenakan biaya tiket masuk, kecuali memasuki Keraton, kita hanya mengeluarkan selembar uang seribu rupiah untuk karcis masuk.

(Tulisan diatas hanya sepenggal kisah perjalananku ke Madura, dan ini yang pertama aku ke Pulau Garam tersebut. Aku berangkat pada hari Sabtu, dini hari pada tanggal 24 Desember 2011 dan pulang dengan selamat pada tanggal 26 Desember 2011 disertai dengn macet yang berkepanjangan dan hujan lebat)

Gatal ini Membunuhku


Sebelum saya menulis lebih lanjut, ingin kusampaikan bahwa tulisan ini bukanlah terinspirasi dari sebuah lagu grup band yang dianggap fenomenal oleh masyarakat yang tidak mengerti musik. Tapi ini didasari atas fakta yang menimpa diri saya sebagai hamba yang sejauh ini masih mengimani atas Tuhan yang Esa sebagaimana yang tercantum dalam sila pertama Pancasila yang diulang-ulang dibacakan pada setiap hari senin di sekolah-sekolah dasar. Dan mengenai judul tulisan saya diatas, itu saya dapatkan dalam sebuah prasasti tembok tulis di dinding sekertariat IKAMI Malang. Dari tulisan itu jelaslah membuktikan bahwa orang yang menulis itu pernah mengidap penyakit yang sama, yaitu gatal-gatal.

Saya tidak bisa mendefinisikan gatal dalam bahasa ilmiah, karena memang saya sangat malas membaca kamus ilmiah. Mungkin karena akibat pendidikan keluarga saya yang tidak pernah didasarkan atas pikiran rasional alias ilmiah. Suara burung hantu saja telah diasumikan akan terjadi bencana. Sungguh tidak rasionalkan???karena belum ada yang meneliti tentang hubungan suara burung dengan bencana dan menemukan hubungan positifnya.

Kembali lagi ke gatal. Meskipun sebenarnya tidak menarik untuk dibicarakan, tapi depi kepentingan umat-atau kepentingan politik mungkin, terpaksa saya menceritakan pengalaman saya yang satu ini. Mungkin lebih tepatnya dikatakan curhat. Ya, curhat mengenai gatal.

Begini ceritanya: 
Sekitar satu bulan yang lalu, penyakit yang tidak tergolong langkah ini mampir ke kulit saya dan merasa betah disini. Namun ini sangat mengganggu konsentrasi belajar saya karena saya harus aktif menggerakkan jemari mengikuti irama musik dangdut yang ceria. Sungguh menyebalkan tapi itulah kenyataannya, tak dapat  saya pungkiri dan jujur harus saya katakan tanpa sedikit merahasiakannya. Meski sebagaian orang menganggap penyakit ini sangat memalukan, karena ia termasuk penyakit yang kurang elit dan biasanya hanya menyerang kaum yang secara ekonomi kurang mapan atau lebih kasarnya orang-orang miskin. Tapi mungkin dan memang demikian, saya secara statastik masuk pada golongan yang biasa terserang penyakit murahan ini. Karena untuk penyakit jantung, darah tinggi, dan stroke biasanya diderita para pejabat atau penguasa yang lengser dari jabatannya. 

Sempat juga saya berfikir, kenapa virus ini tidak pindah saja ke tubuh bapak presiden yang saya dan juga anda hormati. Tapi pikiran saya ini terlalu berbahaya. Karena akan membuat heboh bangsa yang sering dikenal penyakitan ini. Media pada heboh. Koran-koran terpampang dengan huruf yang sangat menonjol dan  pada halaman pertama berbunyi: “BAPAK PRESIDEN DISERANG VIRUS GATAL-GATAL’’. Media telivisi tak kalah hebohnya. Siaran-siaran berita hanya membahas presiden dan penyakit gatalnya.

Berbagai asumsi bermunculan, para pengamat politik berdiskusi secara darurat. Mereka mengatakan bahwa ini adalah ulah dari lawan politiknya yang menghedaki presiden kita segera turun. Para intelijen berpendaat lain. Mereka dengan penuh rahasia mengatakan ini adalah ulah terorisme yang telah lama mengintai bapak presiden kita yang tercinta dan sama-sama kita cintai, sehingga lewat sepucuk surat yang dihalaman depannya tertera bekas lipstik berbentuk bibir, merema telah metipkan virus yang menyebalkan itu. Namun Paranormal berpendapat lain pula. Para jin penjaga gunung dan setan-setan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikumpulkan. Mereka rapat dengan segala perlengkapan yang misterius. Sudah dapat dipastikan hari rapat mereka bukan ditentukan oleh kesepakatan forum, tapi harus mutlak pada malam jumat kliwon disaat secercah sinarpun tak ada. Dan hipotesa mereka mengatakan: bapak presiden kena santet. 

Para pengangguran yang senang nongkrong di warung kopi tertawa-tawa dengan bangga mengatakan, presiden kita mengidap penyakit korengan. Maka situasi ekonomi menjadi kacau tak terkendali. Pasar saham jatuh. Rakyat miskin makin terjepit, meski sesungguhnya mereka juga mengidap penyakit korengan yang menahun. Demonstrasi mahasiswa dimana-mana. Mereka menghendaki kepastian ekonomi yang kian memburuk karena presiden kita tidak mampu menjalankan fungsi sebagaimana mestinya.

Melihat dampak yang akan ditimbulkan dengan penyakit yang berinisial “korengan” ini, maka pikiran negatif saya kembali saya cabut. Karena biar bagaimanapun 250 juta rakyat berada ditangan seorang presiden. Cukuplah orang sebangsa saya yang digerogoti virus yang sebenarnya saya juga benci...

Karena sesungguhnya manusia yang baik itu tidak menjadikan penyakit sebagai penderitaan melainkan adalah anugrah. Anugrah yang tak indah tentunya.

Itulah sekilas tentang bahaya gatal, maka saya menyarankankan hiuplah yang bersih layaknya artis-artis yang ada di TV, mulus bukan main.

(Tulisan ini saya buat saat saya menderita gatal-gatal: Sebuah Pengakuan!)

28/12/11

Senior adalah Dewa


Aku tak ingat pasti, kapan hari dan tanggalnya. Aku hanya ingat ketika aku dan ribuan yang lainnya berbaris seperti tentara dengan rambut yang tersisa hanya 1 cm, tak boleh lebih. Aku dan ribuan yang lainnya, berbaris di halaman sebuah kampus. Dibawah terik matahari pagi, masih kuingat waktu itu, aku berdiri dengan wajah tampak lugu. Aku belum mengerti untuk apa aku berdiri di tempat itu dan aku juga belum mengerti untuk apa rambut kami harus dicukur sependek mungkin. Karena memang, tak semua harus dimengerti oleh manusia seperti aku dan yang lainnya. Aku dan yang lainnya menyatu menjadi “kami” pada sebuah tanah datar di depan sebuah gedung yang betuliskan GOR 27 September Universitas Mulawarman.

Di halaman kampus itu aku diajak bernyanyi, di halaman kampus itu kami dibentak, di halaman kampus itu pula aku merasa tak ada gunanya menjadi manusia akibat perlakuan orang-orang yang menyuruh kami berkumpul (yang belakangan ku panggil “senior”). Di halaman kampus itu…akan menjadi salah satu saksi sejarah perjalanan hidupku.

“Hei Gundul!” 

Suara itu sangat lantang dari seorang pria berambut gondrong berada pada barisan orang-orang yang dihormati. 

Dia adalah panitia, dia adalah senior, maka dia adalah Dewa. Segala ucapannya adalah mantra yang mampu menciutkan nadi kami. Sementara kami hanyalah sekumpulan orang-orang lugu yang mangguk-mangguk di pintu gerbang sebuah peradaban yang bernama universitas.

Aku jauh tersesat dari sebuah kampung yang nyaris tak nampak di sebuah lembaran peta. Berdiri di tanah Borneo demi tugas suci yang bersembunyi dibalik gedung Perguruan Tinggi. Dibalik gedung itu, kusaksikan kamus-kamus ilmiah berterbaran hampir tak terjamah.Di balik gedung itu, kusaksikan orang-orang tua botak (bukan karena dicukur) mengkhianati ilmiah demi rupiah. (Ah, ini hanya prasangka burukku saja).

Matahari pagi semakin menanjak. Dari depan sorang pria dengan gagah nan perkasa menuju sebuah podium kehormatan. Dia adalah panutan, dari sosoknya yang cerdas (atau hanya tampilannya saja) mengeluarkan letupan-letupan kalimat yang membakar semangat kami yang baru memulai mengenal kata semangat. Pekik perjuangan tak lupa ia teriakkan. Aku kagum, orang di sampingku kagum, orang di depanku juga kagum, hingga burung-burung berhenti mengintai mangsa demi mendengarkan Sang Orator mengolah kata di atas panggung.

Orasinya ia tutup dengan Sumpah Mahasiswa, yang belakang aku tahu kalau sumpah itu adalah sumpah palsu. Palsu, sepalsu palsunya.

Kami disuruh duduk, kami pun duduk. Kami di suruh berdiri, kami berdiri lagi. Kami disuruh apa, maka kami akan melakukan apa. Maka kami adalah apa kata mereka.

Hari itu adalah awal penjajahan baru bagiku, dimana ragaku jauh telah dirampas oleh orang lain, atas nama Ospek, atas nama Pencerahan, yang tak lain adalah perbudakan atas nama intelektualitas.



22/12/11

Ibuku, Istrinya Bapakku

Ibuku adalah perempuan kebanyakan, tidak memiliki keistimewahan apapun. Orang seperti ibuku mudah dijumpai di kampung-kampung, mudah dijumpai di pasar-pasar saat sedang mengantri membeli beras murah. Mudah dijumpai di sawah saat musim panen padi telah tiba. Orang seperti ibuku adalah orang paling mudah ditemui disudut manapun. Tak perlu membuat janji, tak perlu mengambil nomor antrian, dan bahkan tak perlu untuk ditemui jika tak ada keperluan.

Ia bukanlah perempuan yang luar biasa. Aktivitasnya biasa-biasa saja. Bangun subuh untuk sholat subuh, ke dapur menyiapkan sarapan kemudian mencucikan pakaian bagi kami anak-anaknya. Seperti itulah ibuku, tak ada yang perlu diistimewakan.

Ibuku tak mengenal teknologi, Hand Phone pun ia tak punya, apa lagi Black Barry. Ibuku, melihat panggilan di telepon saja tak berani diangkat, jika diangkat ia tiba-tiba gugup dibalik telpon, tak kuasa ingin berkata apa. Ia hanya takjub dengan benda mungil itu, yang bisa mengeluarkan suara orang dari negeri antah berantah.

Suatu ketika Pamanku datang membawa HP, dan di HP itu ada gambar Osamah Bin Laden pada layarnya. Ibuku tiba-tiba diserang rasa takut. Ia curiga kalau Pamanku telah terlibat aksi terror bersama Osamah. Ibuku salah sangka, dia  mengira jika seseorang memasang foto Osamah di HP-nya berarti ia telah menjalin hubungan khusus dengan manusia yang paling ditakuti itu. Aku sadar ibuku keliru, tapi aku maklum. 

Maka, jika ada seorang perempuan setengan baya, datang padaku lalu marah-marah sambil berkata, “Kamu kemana aja selama ini? Nelpon gak pernah, SMS gak pernah!” 

Percayalah bahwa dia bukanlah Ibuku!

Tapi bagiku, Ibuku adalah yang terbaik. Ia mengajariku menulis namaku diatas potongan papan dengan pena dari arang. Ibuku yang cuma tamat Sekolah Menengah Pertama, tapi memiliki tulisan yang begitu indah. Indah tiada bandingnya. Dan masih kuingat saat tangannya yang kasar menuntun tanganku merangkai huruf menjadi satu kata yang paling bermakna, yaitu aku. 

Nah, karena ibuku lihai dalam merangkai kata, ia pun banyak mendapat orderan dalam membuat surat. Para tetangga yang ditinggal suaminya meratau, sering datang ke rumah dengan sebuah pena dan secarik kertas. Para tetangga yang lagi “Jablay” ini menumpahkan segala isi hatinya di hadapan ibuku. Lalu ibuku mengolahnya ke dalam beberapa kalimat, menuangkankannya dalam selembar kertas. Begitupun jika ada surat balasan, atau surat yang dikirim sang suami kepada istrinya di kampung, dalam keadaan masih tertutup rapat tanpa dinodai sedikit pun, surat itu diantarkan kehadapan ibuku, minta dibacakan. Maka ibuku tak hanya menyimpan rahasia keluarganya, tapi juga rahasia para tetangganya.

Suatu ketika Aku duduk di salah satu sudut, menyaksikan ibuku yang menghadap ke tungku, meniup bara api yang asap hitamnya menyambar wajahnya. Kasihan sekali perempuan itu. Cita-citanya ingin menjadi guru Sekolah Dasar kandas sudah. Dan nasib mempertemukan aku dan ibuku di ruang sempit itu, pada jaman yang tak pernah berpihak, pada masa yang tak pernah dimengerti.

Ibuku adalah kamus, tiap jengkal hidupnya adalah makna. Ibuku menyimpan sejarah, ia telah merekam hitam putih hidupnya. Di atas sebuah gubuk yang sewaktu-waktu roboh kena angin kencang, ibuku bercerita tentang aku, tentang dia, tentang mereka,tentang semuanya.


Warung itu Milik Mas Edi

Di samping Rumah Hijau Al-Kautsar 58, berdiri sebuah bangunan berlantai dua. Bentuknya biasa saja, tidak menampakkan hasil rekayasa artistik sebagaimana rumah para pejabat. Dilihat dari bentuknya, bangunan itu adalah hasil karya Tukang Batu yang amatiran. Amatiran karena mereka (para tukang batu) hanya mampu mencampuradukkan semen dengan pasir  serta nasib sehingga mereka bisa bertahan hidup melalu seni memasang batu bata, maka mereka mendapat gelar yang sangat terhormat, yaitu Tukang Batu. Bangunan itu merupakan tempat hunian bagi bagi pemiliknya sekaligus dijadikan sebagai tempat kost bagi mahasiswa yang berjenis laki-laki yang sedang kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang. Bangunan itu sebenarnya adalah rumah tempat tinggal yang dihuni oleh satu keluarga  yang terdiri dari ayah, ibu dan satu anak, ditambah dengan mahasiswa yang ngekost. Posisi rumah itu tepat disamping kanan rumah yang disewa (dikontrak) oleh manusia-manusia yang berasal dari Sulsel.

Melihat peluang ekonomi (atau memang karena naluri mencari nafkah), pemilik rumah tersebut menjadikan ruang tamunya sebagai warung makan. Hal ini memang sangat mendukung, berhubung di daerah sekitar rumah tersebut belum anda warung yang menjual makanan, karena memang lokasinya masih jauh dari peradaban. Kami warga penghuni kontrakan nomor 58 atau sering kami sebut Rumah Hijau 58 atau Al-Kautsar 58, menjadi terbantu dengan adanya warung yang tersedia di samping kontrakan kami. Sekali melangkah, sampailah kami.

Mas Edi, nama pemiliki warung tersebut. (Dia saya panggil mas, karena dia orang Jawa, kalau saja dia orang Makassar, pasti saya panggil Karaeng). Dia adalah salah satu umat yang hidup dari kantong mahasiswa, karena dengan adanya mahasiswa, maka tersewalah kostnya. Karena adanya mahasiswa maka larislah warungnya. Karena adanya mahasiswa, maka sejahterlah hidupnya.

Kami (para Penghuni Al-Kautsar 58) menjalin hubungan mutualisme (istilah dalam Biologi) dengan Mas Edi, artinya kami dengan mas Edi saling membutuhkan. Mas Edi dan keluarganya membutuhkan kami sebagai konsumennya, karena tanpa adanya kami kegiatan ekonomi yang ditekuni Mas Edi akan mandek bahkan sampai pada gulung karpet, atau dalam bahasa ekonominya mengalami krisis akibat permintaan pasar berkurang. Sementara kami, mahasiswa yang menjadikan aktivitas makan sebagai hal yang utama, membutuhkan Mas Edi sebagai Supplyer atau pemasok bahan makanan bagi kami. Mas Edi bisa dikatakan tulang punggung bagi kami, ia menempati posisi yang sentral bagi anak-anak Al-Kautsar 58, tanpa dia, terkatung-katunglah nasib kami.

Menu yang disediakan di warung tersebut biasa-biasa saja, bahkan cenderung monoton. Ada nasi putih, tempe goreng, tahu goreng, ayam goreng, telur goreng, sayur nangka, sayur bayam, perkedel yang berbahan dasar jagung dan mie instan. Produk yang dijual Mas Edi cenderung tidak berubah meskipun telah beberapa kali ganti menteri oleh Presiden. 

Selain makanan, Mas Edi juga menyediakan berbagai minuman hangat dan dingin. Tentu dengan jenis minuman yang standar pula. Kopi dan teh menjadi minuman wajib, selain minuman instan berupa nutri sari atau ekstra joss. Tinggal pesan, tunggu sesaat, pesanan pun datang.

Setip pagi, siang, sore, petang, hingga malam, pengunjung warung Mas Edi itu-itu saja, tak ada wajah baru, kecuali sesekali penghuni kost putri yang tidak jauh dari kontrakan kami terlihat di warung sekedar memesan sayur, atau lauk. Atau bahkan hanya sekedar membeli sampo buat keramas (karena sampo memang digunakan untuk keramas, tidak mungkin untuk dijadikan kecap). Konsumen di Warung Mas Edi adalah konsumen tetap, bahkan konsumen loyalis. Diantara semua konsumen, yang paling loyalis adalah penghuni kontrakan Al-Kautsar 58. Bukan karena menunya yang begitu menantang lidah atau makanan itu tidak dapat dibeli ditempat lain, melainkan karena satu hal.

Jika ia diibaratkan mata pelajaran dalam kurikum Sekolah Menengah Pertama, maka warung Mas Edi adalah sejarah. Denting piring adalah seni, mengantar makanan hingga ke tempat tidur kami adalah keterpaksaan.

Warung Mas Edi berbeda dengan warung makan pada umumnya. Warung ini sangat merakyat,daftar jenis makanan yang tersedia pun sangat merakyat, sesuai dengan rakyat yang bernama mahasiswa yang setiap pagi hingga malam menjadi pelanggan tetapnya. Jenis makanan di hidangkan bebas diatas meja, dan kami sebagai konsumen setia bebas mengambil kapan saja, tanpa pengawasan. Warung Mas Edi adalah Warung Kejujuran. Jauh sebelum Menteri Pendidikan mencanangkan dalam pidatonya tentang perlunya Kanting Kejujuran.

Yang selalu menggoda kami untuk tetap menjadi konsumen loyal di Warung Mas Edi dikarenakan kami bebas mengutang kapan saja. Makanya saya mengatakan Warung Mas Edi adalah tulang punggung bagi kami. Jika kiriman telat datang, atau karena memang orang tua lagi paceklik, maka Mas Edi lah tujuan utama kami. Makan di Warung Mas Edi hanya bermodalkan ujung pena. Sekedar catat dalam buku utang konsumen yang telah disediakan diatas meja.

Mas Edi adalah pahlawan. Ia berada pada garis terdepan membela orang-orang lapar seperti kami. Kami, para pemuda yang berasal dari kampung, menjadikan status mehasiswa untuk menganggur secara terdidik dibawah naungan utang. Maka tak heran diawal bulan, istri Mas Edi mendatangi kami dengan ekspresi penuh harap sambil membawa secarik kertas. Kertas yang sebenarnya yang tidak kami tunggu, karena di dalamnya terdapat nama-nama konsumennya beserta jumlah utang yang harus dilunasi.




18/12/11

Buku murah, ada di wilis

Berbagai jenis buku dipajang di rak buku

Jika anda adalah mahasiswa kere alias gak punya banyak duit tapi punya keinginan untuk membeli buku, jangan khawatir! Datang saja ke Jalan Simpang Wilis (tentunya bagi orang yang berada di kota Malang). Di sana ada Toko Buku yang murah meriah, namanya Toko Buku Wilis. Penamaan ini mungkin karena posisinya berada di Jalan Wilis. Banyak jenis buku yang dipajang di setiap toko yang memang khusus menjual buku. Jadi bagi yang cari tahu telor atau bakso, dihimbau untuk tidak bertanya di Toko Buku tersebut. Kalau anda tidak dianggap gila, tentu itu dianggap pelecehan bagi penjual buku.

Nah, di Toko Buku tersebut (yang tentunya menjual buku) terdapat banyak jenis buku. Mulai dari buku untuk anak SD hingga buku untuk orang tua yang punya anak SD, dari buku fisika hingga buku sastra, dari buku seni hingga buku cara mengeluarkan air seni. Singkat cerita disana terdapat buku apa saja, selain buku yang memang belum tersedia.

Harga buku di Toko Buku Wilis sangatlah miring, semiring kantong mahasiswa. Harganya bisa mencapai dua kali lipat lebih murah jika dibandingkan dengan Toko Buku Gramedia. Selain buku baru, juga tersedia buku bekas, baik yang kondisinya masih bisa untuk dibaca, hingga pada buku yang kondisinya sungguh mengenaskan, karena telah usang dimakan usia.

Selain berbagai jenis buku, terdapat juga berbagai judul skripsi yang telah ditulis oleh kandidat sarjana. Daripada skripsi ini menumpuk di rak menjadi pajangan, ya diobral saja di toko buku, kan siapa tahu ada yang berminat. Berbagai macam majalah juga ada, mulai terbitan kemarin sore hingga terbitan 10 tahun yang lalu. Majalah lama sangat berguna untuk membuka memori tentang masa lalu seraya melihat gambar-gambar yang terpampang pada lembaran-lembaran kertas yang telah usang tersebut.

Bagi anda pecinta buku, bisa menjadikan Toko Buku Wilis menjadi alternatif. Jangan khawatir dengan kualitas bukunya, karena banyak buku yang kualitasnya sama dengan buku-buku yang dijual di Toko Buku lain. Meskipun tidak jarang kita menemukan buku yang hasil cetakannya kurang bagus, karena ada juga buku yang merupakan hasil karya Tukang Bajak Buku. Ternayata, para Pembajak tidak hanya ada di sawah dan di laut, tapi kini hadir pada percetakan buku yang khusus buku bajakan.

Maka hati-hatilah dalam membeli buku, karena bisa anda mendapatkan buku yang tulisannya terbalik. Anda bayangkan, betapa repotnya jika kita membaca dalam keadaan terbalik. Otak kita pun bisa ikut terbalik. Kadang juga ditemukan buku yang jumlah halamannya tidak lengkap, sehingga dapat membuat anda mati penasaran hanya karena membaca sebuah buku. Maka hindarilah membeli buku bajakan!





16/12/11

Yang muda, yang idealis

Seorang anak muda yang begitu bersemangat dan penuh idealisme? Ah itu sudah biasa. Seorang anak muda yang berbicara tentang kejamnya penguasa? Ah itu juga sudah biasa. Seorang anak muda yang kata-katanya adalah kata-kata perlawanan? Ah itu yang paling biasa.

Bagaimana mengatahui kalau dia luar biasa? Ya, gampang saja, berikanlah mereka kekuasaan. Tapi saya pikir mereka akan melakukan hal-hal yang dulunya mereka tentang sendiri, paling tidak mereka akan belajar menjadi penindas. Maka jangan heran kalau seseorang yang dulunya aktivis, suka demo (bukan demo masak), anti kezaliman, tapi saat menduduki jabatan tertentu, mereka pun lupa kalau korupsi itu dosa.

Manusia memang sering diserang amnesia, saat miskin selalu ingin menyumbang, giliran kaya, lupalah Ia. Kalau salah, paling-paling dikatakan khilaf, walaupun dilakukan berkali-kali. Adakah khilaf berkali-kali? Ya ada saja, itu namanya khilaf yang diulang-ulang.

Yang korup kan kebanyakan orang yang dulunya sangat idealis?
Emang enggak boleh orang yang idealis beralih profesi menjadi koruptor? Jawab saja tidak boleh! Karena memang tidak boleh, atau haram menurut agama.

Hahahaha…Haram. Menarik juga kosakata ini, sangat familiar di mimbar-mimbar khotbah jumat. Kata haram seperti pedang yang mengancam. Ia sebagai alat untuk menakut-nakuti orang yang beragama. Jadi kalau tidak mau takut dengan kata-kata haram,ya jangan beragama!

Ingin tahu kondisi 20 tahun ke depan, ya lihatlah sekarang, lihatlah anak-anak mudanya, karena pemuda adalah harapan bangsa. Jika Ia rusak, rusaklah bangsa kedepannya.

Masalahnya, anak muda pun tidak lepas dari khilaf yang disengaja. Lihat saja berita tentang korupsi! Hal ini mulai digandrungi oleh anak muda. Jadi korupsi bukan lagi menjadi pekerjaan orang tua. Anak muda pun mulai tertarik dan secara terang-terangan. Lihatlah Nazaraddin, atau lihatlah rekening gendut PNS muda.

Saya tidak munafik, seandainya saya tidak makan selama sehari-semalam saja, tiba-tiba datang seseorang membawakan roti hasil curiannya dari sebuah toko di pinggir jalan, apakah aku menolaknya? Iya tergantung kekuatan iman.

Anak muda, yang bangga dengan jiwa mudanya, bangga dengan isi kepalanya (meski kadang mereka tak tahu apa fungsi dari kepala), janganlah engkau terlalu berlebihan. Berjalanlah sesuai alur yang ada, lawanlah karena memang pantas untuk dilawan, bukan karena ada maksud yang tersembunyi.

Kita sama-sama muda, sama-sama menghadapi masa depan yang tak pasti, bisa saja kita yang hari ini berilmu, tapi esok kita pula yang membodohi, atau sebaliknya.

Anak muda…teriakkanlah MERDEKA selagi masih muda! Karena dihari tua, belum tentu engkau menjadi makhluk yang merdeka.

Salam Anak Muda…



Catatan Akhir Tahun 2010

Kenapa waktu terasa melompat? tak terkendali. Apakah masa di dunia ini semakin singkat? Tak terasa tahun terus berganti, serasa baru kemarin sore kami dilanda mecet berjam-jam dari pantai Bale Kambang, waktu tempuh normalnya sekitar dua jam, tapi jalan itu harus dilalui lebih dari dua belas jam. Masih baru kemarin sore kami ngantri berjam-jam di depan toilet hanya untuk membasuh muka.

Tahun baru 2011, kami merayakannya di sebuah pantai yang terletak di Malang selatan, menggunakan kendaraan yang sangat istimewah, yaitu truk. Ya sedikit mirip sapilah, tapi tak mengapa karena toh kita bangsa manusia tak jauh beda juga dengan sapi, beda tipis saja mungkin.

Truk adalah kendaraan yang murah meriah untuk berangkat secara berjamah. Kami berangkat bersama rombongan anggota IKAMI Sulsel. Seperti biasanya, teman-teman di tanah rantau melaksanakan perayaan tahun baru bersama-sama untuk menjalin kedekatan dan kekeluargaan. Sebelumnya aku tak pernah ikut, karena sangat jarang aku merayakan pergantian tahun. Selama di Malang, tahun baru 2011 adalah yang istimewah, karena biasanya aku hanya menghabiskan waktuku di warung kopi sembari menyaksikan kembang api pergantian tahun.

Di dalam truk yang semetinya digunakan untuk mengangkut barang itu, kami berjejer bagai pengungsi korban perang. Lebih dari dua jam perjalanan kami pun sampai pada tempat yang dituju. Satu persatu barang dikeluarkan dari truk, kemudian mencari lokasi yang pantas untuk mendirikan tenda. Ekspedisi tahun ini dipimpin oleh La Kafi yang sangat pengalaman di dunia luar.

Malam harinya diselingi dengan bakar jagung dan bakar ikan kemudia dilanjutkan dengan curhat massal serta menyampaikan harapan dan cita-cita kedepannya. Bergilirlah satu persatu menyampaikan kisahnya, baik perjalanannya selama satu tahun berlalu maupun rencana ke depan. Setelah itu kuajak Sally berjalan mengintari bibir pantai.

Aku dan Sally, duduk di tepi pantai menyaksikan orang-orang berlalu lalang.  Kudekap ia dengan segala asaku. Mencoba mengukir romantisme di penghujung tahun.

Ketika jam menunjukkan 12.00, Sally bertanya padaku, “Apa harapanmu kedepannya?”
Kujawab,”Ingin kubahagia hanya denganmu, dan ingin kuberada di sampingmu hingga kita sama-sama tua.”

Aih, bila kuingat, itu kata-kata paling romantis yang pernah aku ucapkan. Tapi tak mengapa, yang penting itu ikhlas kukatan dari lubuk hati yang paling dalam.

Tiba-tiba langit menyala dengan percikan bunga api, letusan-letusan diiringi sinar yang memancar menerangi langit dan menambah keindahan yang semenjak tadi kami tunggu. Suara terompet sambut menyambut, 2010 telah berlalu.

15/12/11

Ada perubahan yang menurut saya aneh. Rumput hijau yang mengelilingi Hally Pad di UMM dibongkar oleh kampus dan diganti dengan paving blok. Padahal, rumput hijau kelihatan lebih segar karena rumput mengandung estetika alamiah, dan salah satu karya Tuhan yang tak bisa dipungkhiri nilainya.

Mungkin mahasiswa lainnya menganggap hal itu biasa-biasa saja, karena tidak berpengaruh dengan uang pembayaran SPP atau tidak bepengaruh langsung dengan IPK. Tapi bagi saya itu tidak biasa, karena akan mengurangi hamparan rumput di UMM dan akan menambah gersangnya kampus.

Sekedar berpikiran positif saja, tentu ada manfaat dibalik pengerjaan proyek tersebut. Kaum terpelajar tidk mungkin melakukan hal-hal yang tidak memberikan nilai manfaat, meskipun kadang diluar logika kita sebagai manusia.

14/12/11

Parmindo! Nasibmu kini...

Telah banyak waktu berlalu, Pemilu Raya nyaris tak meninggalkan jejak. Kata orang, euforia Pemilu Raya hanyalah sesaat, dan setelah itu, visi dan misi terlupakan.

Apa yang dikatakan orang,  memang benar adanya. Pemilu Raya hanyalah ajang “rekreasi” bagi sebagian aktivis di kampus. Entah mungkin karena tidak adal lagi hal yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa.
Ditanya prestasi, apalagi…

Pemilu Raya adalah hasil jiplakan atau contekan (kalau tidak ingin dikatakan mencuri) mahasiswa terhadap cara berdemokrasi di Indonesia. Bersaing dengan poster-poster yang berisi visi-misi semu. Partai politik mahasiswa tiba-tiba muncul mengatasnamakan kepentingan mahasiswa, meski di dalamnya sarat akan kepentingan sekelompok kecil orang saja.

Didorong oleh syahwat politik dan daya megis yang bernama Pemilu Raya, lahirlah partai mahasiswa bernama Parmindo di Kampus Putih. Partai mahasiswa yang didesain untuk menampung orang-orang yang berada diluar kepentingan dan kegilaan akan kekuasan semu. Meski pada pada awalnya Parmindo dikenal sukuisme dan sarat akan kepentingan golongan tertentu. Namun hal itu tidak pernah terbukti, karena sejauh Parmindo ada (kalau memang masih ada) berbagai suku, dan latar belakang organisasi bebas berada di dalamnya. 

Seperti partai mahasiswa lainnya, Parmindo adalah salah satu dari partai musiman yang ada di Kampus Putih. Ia ada, tampak, dan bersuara dikala akhir dari periode masa jabatan lembaga intra dan disaat kampanye partai politik mahasiswa, setelah itu ia pun menghilang dibalik topeng-topeng palsu demokrasi ala mahasiswa.
Gema Parmindo yang dulu mengaung, tak lagi tampak. Ia telah tertidur pulas jauh dari hiruk pikuk mahasiswa. Rentetan tanggung jawab perubahan kini telah sirna, menguap bersama visi yang tak pernah terjamah. 

Lantas bagaimana???
Mari kita kembali ke fungsi mahasiswa, bukan fungsi partai yang memuluskan keserakahan golongan. Tak perlu berdebat soal bagaimana seharusnya partai politk berbuat, tapi mari kita berdebat apa yang semestinya di lakukan oleh maha+siswa itu sendiri. Setidaknya tidak menjadi budak pada sistem yang dibuat oleh kepala kita sendiri. 

Kenapa begitu???
Diakui atau dinafikan, kita selalu tunduk dan manjadi budak dari apa yang telah kita ciptkan sendiri. Kebebasan bersuara, bermusywarah, berkreasi, bahkan berimanjinasi sengaja dhilangkan dari daftar harian yang semestinya di kerjakan hari ini. Dan inilah yang terjadi pada sebagian besar partai politik mahasiswa yang didesain oleh mahasiswa itu sendiri.

Bagaimana dengan Parmindo???

PARMINDO kembalilah ke falsafah awal, atau bubar saja!

Cukuplah kita menjadi bagian dari produsen-produsen topeng, atau bagian dari konsumen yang bersembunyi dibalik indahnya kepalsuan topeng.

13/12/11

Maaf, Anda Kalah...

Al-Kautsar 58, 10 Desember 2011

Salah satu hari yang paling dinanti oleh peminat sepak bola di jagad raya ini adalah hari minggu tanggal 11 Desember  2011. Hari itu Santiago Bernabeau akan dipadati oleh puluhan ribu pendukung Real Madrid, karena tim kesayangan mereka akan dihadapkan dengan musuh bebeyutannya, Barcelona. Para pengamat sepak bola amatiran dan penonton akan menjagokan Real Madrid (tentu saja bagi pendukung Real Madrid). Mereka tak ingin tim kesayangan mereka kembali dipermalukan di kandang sendiri. Mereka tak mau itu terjadi, dan sungguh memalukan jika hal itu terjadi lagi. Setidaknya sang Pelatih dan anak didiknya telah belajar banyak dari kekecewaannya.

Hari ini pun hari yang kunantikan, karena aku sangat mendukung Barcelona selain Livepool tentunya. Kuharap El-Barca mengulang kembali sejarahnya, mempermalukan Ronaldo dan kawan-kawan di lapangan hijau miliknya sendiri.  

Sambil menunggu detik pertama kick off, kuhabiskan sebagian waktuku dengan berselancar di dunia maya dan  menyaksikan anak-anak Al-Kautsar bernyanyi sambil “gila-gilaan” menikmati malam minggunya. Seperti pada biasanya, kontrakan Al-kautsar 58 selalu diramaikan oleh makhluk-makhluk aneh yang mungkin dititipkan oleh Tuhan sebagai pelengkap keanekaragaman makhluk hidup di muka bumi ini. Di balik jendela kamar, kusaksikan mereka berpesta suara di depan teras rumah, dan sebagian lagi duduk di teras sambil menyaksikan sekumpulan orang yang lagi “kesurupan” membawakan lagu-lagu favortinya. Di luar tampak jelas Fahri Malewa memegang gitar akustik, ditemani vokalisnya, Adam, Sandro dan Ikal. Mereka melakukan konser mini tanpa menuntut bayaran dari penontonnya. Prinsip mereka yang penting penonton senang, meskipun sebenarnya tetangga merasa terganggu dengan ulah mereka. 

Aku masih asyik dengan dunia maya, tanpa mengiraukan panggilan meraka.
“Riga, disini dong, gabung sama kita-kita, teman-teman ingin mendenganrkan suara khasmu” Kata seseorang diantara mereka, tentu saja dengan logat khas Makassarnya. Orang Makasaar meskipun menggunakan bahasa Indonesia, tapi tetap saja bahasa itu diperkosa sesuai dengan bahasa kultur mereka, sehingga orang-orang diluar Makassar pasti kesulitan dengan arti kosa kata yang mereka ucapkan. Bagi mereka berbahasa Indonesia yang baik dan benar itu tak penting, toh kebanyakan orang-orang di kontrakan ini umumnya berasal dari daerah yang sama. Sama-sama berasal dari pulau yang kalau di peta mirip huruf K. 

“Ayo Kak, ngopi bareng anak-anak!” suara Sally terdengar dari luar jendela. Niatnya kesini karena ingin mengajak anak-anak kontrakan untuk ngopi bersama, apalagi malam ini adalah malam minggu, tentu besoknya libur. 

Istilah “ngopi” adalah istilah yang digunakan untuk nongrong di sebuah warung kopi. Sebenarnya datang ke warung kopi tidak mengharuskan kita untuk mengkonsumsi kopi, ada banyak minuman lain yang tersedia selain kopi itu sendiri. Karena istilah ngopi telah melekat dalam memori otak kita, maka apapun yang kita minum di warung kopi tersebut, tetaplah dikatakan ngopi.

Ajakan untuk ngopi terdengar berkali-kali, tak kuasa menolak, kutinggalkan dunia maya yang semenjak tadi kususuri. 

“Ayo, ajak yang lain biar rame!” Kataku mengajak Sally, yang semenjak tadi memaksa untuk meninggalkan duniaku yang tengah asyik kumainkan.

Berangkatlah kami ke sebuah warung kopi  Djaeng, karena selain tempatnya kondusif, warung kopi ini berjarak lumayan dekat dari kontrakan, hanya beberapa ratus langkah kalau saja bisa dihitung. Tapi untuk apa juga menghitung langkah, sama halnya menghabiskan waktu hanya untuk hal-hal yang tak berguna (meski menghabiskan waktu yang tak berguna sering kami lakukan).


Warkop Djaeng, masih tanggal 10 Desember 2011

Djaeng adalah warung kopi favoritku di Malang, karena kegemaranku nongkrong di warung kopi berawal dari sini. Pada mulanya warung kopi adalah tempat bekumpul dengan teman-teman sambil membicarakan topik-topik yang tak tentu, kemudian menjadi tempat tongkrongan untuk berdiskusi bersama taman-temanku yang “mengaku” aktivis, lalu menjadi tempat pacaran (asik). 

Selain mudah dijangkau, tempat ini cukuplah murah bila di ukur dari kantong mahasiswa. Alasan lain tentunya minuman yang disajikan adalah halal, tak ada dalam daftar menu jenis minuman yang bisa membuat kepala berdenyut dan pusing tujuh keliling, hingga membuat fantasi dan bertindak yang merugikan diri sendiri, orang lain, apalagi Negara. Sungguh tak ada.

Setelah berbincang-bincang tentang kemana kami akan merayakan akhir tahun, aku pun pamit pulang sambil mengantarkan Sally ke kostnya. Perempuan tak layaklah pulang malam sendirian. Kata-kata itu tentu aku dapatkan dari orang tua yang masih memegang teguh adat dan moral yang dititipkan oleh para leluhur. Sesampai di depan pintu kostnya sally, kuputar kembali roda sepeda motorku menuju kontarak Al-Kautsar 58.


Al-Kautsar 58 pukul 11.45 WIB.

Di kontrakan kutemui Alexandro alias Sandro sedang asyik di depan komputer yang dihubungkan dengan internet. Aku duduk dikursi kosong yang berada di sampingnya, ia pun tahu maksudku.

“Gilaranmu kanda”, lalu pergi meninggalkanku sendrian di depan komputer.
Kuraih mouse kumputer dihadapanku, kuklik simbol-simbol pada pada kumputer, lalu kubuka jendela yang kuinginkan, lalu aku pun kembali tenggelam dalam dunia maya, mengarungi lembaran-lembaran yang disediakan oleh Facebook, sedikit-sedikit membuka jendela informasi yang aku butuhkan.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 03.00 waktu Malang dan sekitarnya, aku bergegas menyusul Bomz dan kawan-kawan ke Warung Ria Djenaka untuk menyaksikan Barcelona menantang Real Madrid. Aku berjalan kaki karena jaraknya juga lumayan dekat. Di tengah jalan aku bertemu dengan beberapa pemuda, dan satu diantara mereka bertanya kepadaku.

“Mau kemana Mas?, Kampus UMM masih tutup.”
“Mau ke depan Mas” jawababku sambil tersenyum.

Orang muda tadi bercanda denganku karena melihat aku menggunakan jaket kebanggaan KKN, dilengkapi dengan tas kecil yang melingkar di pundakku. Untung saja aku tidak memakai sepatu dan kaos kaki.


Ria Djenaka, 11 Desember 2011 (waktu subuh)

Perutku semenjak tadi keroncongan, cacing-cacing yang bersarang ditubuhku tak terima diperlakukan olehku. Semenjak malam menggantikan siang, tak pernah kuisi perutku dengan nasi, hanya secangkir Milo hangat di warung kopi tadi.

“Mas, tahu petis satu porsi dan teh hangatnya satu gelas ya!” Intruksiku kepada pelayan warung.

Di lantai atas warung Ria Djenaka, kutemui Beddu, Bomz, dan Bonchu lagi terkapar diatas kasur mini yang disediakan oleh pengunjung sebagai tempat duduk, tapi ditangan mereka, alas duduk ini beralih fungsi menjadi tempat tidur. Untung saja di warung tak ada peraturan yang melarang pengunjungnya untuk tidur, saat itu suasana memang sangat mendukung, karena warung lagi sepi pengunjung.

Aku mencari angel yang pas untuk menatap layar kaca, kurang satu jam lagi pertandingan yang kami nanti akan dimulai. Sambil menikmati tahu petis pesananku, kusaksikan acara-acara yang ditampilkan dilayar kaca lewat saluran TV One. Waktu menunjukkan pukul 04.00 waktu setempat,tapi Lionel Messi dan kawan-kawan belum juga muncul, begitupun Rhonaldo dan kawan-kawannya. Maka galaulah seluruh penonton. Tak karuanlah pikiran kami. Apa gerangan yang terjadi pada mereka (para pemain sepak bola) sehingga wajahnya tak kunjung menghiasi layar kaca. Hanya pembawa acara tentang keindahan alam berbicara sambil memuji tempat-tempat yang ia kunjungi, tak mau tahu rupanya ia tentang kegalauan kami.

Beberapa menit kemudian beberapa dari penonton mendatangi pelayan, menanyakan kenapa yang ditunggu itu belum datang. Rupanya telivisi di warung itu terhubung dengan saluran TV berlangganan. Pantas saja Messi tak mau datang. Pelayan warung kemudian memindahkan chanel televisi ke antena yang di pasang di batang bambu, barulah kedua kesebelasan itu tampak saling berebut kulit bundar di lapangan. Sangat mengejutkan, skor sudah menunjukkan angka 1:0 dipimpin oleh kubu asuhan Jose Morinho.

Bersoraklah para pendukung Real, dengan bangga bahwa sebentar lagi Barcelona dilumat habis oleh Benzema dan kawan-kawannya. Benzema, belum saja pertandingan mencapai waktu setengah menit, ia telah melesatkan gol di gawang Barca. Hebat benar dia. Maka wajarlah moment ini akan dijadikan ajang pembalasan dendam bagi Real Madrid dan membuat gembira para pendukungnya, baik yang memadati stadion maupun yang duduk membeku di depan telivisi.

Tak lama kemudian, gawang yang berada daerah territorial Real Madrid bergetar, bukan karena gempa atau karena petir yang menyambar, bukan pula akibat getaran gunung Gamalama di Ternate apalagi akibat getaran hand phone milik penonton. Getaran itu justru diciptakan oleh Sanchez stelh mendapt umpan dari Lionel Messi. Satu benda bundar yang ajaib dan mengangumkan bersarang tepat di sudut gawang Real Madrid. 

Bagaimana reaksiku? Aku dan Bomz yang sama-sama berada di kubu Barcelona, berteriak gembira bagai orang kesurupan oleh anak jin. Kulihat kiri dan kanan, atas dan bawah, depan dan belakang, rupanya aku saja bersama Bomz yang mendukung kubu anak asuhan Guardiola, yang lainnya dari ekspresi wajahnya, semuanya dapat dipastikan adalah pendukung Cristian Renaldo dan kawan-kawannya. Aha, Skor satu sama, waktu masih panjang, dan bola masih bundar dan jumlah pemain tetap sama. 

“Aih, tunggu saja, kau lihat itu Barca dibikin menagis-menangis” sahut Adam di sampingku. Ia sebenarnya pendukung berat Chelsea, tapi karena sejarah kelam dunia sepak bola, membuat Adam begitu benci team Barcelona. Di semi final liga champion 2009, Adam pernah dibikin sakit hatinya oleh Messi dan kawan-kawan, hingga tiga hari tiga malam menderita tak enak badan. Istilah yang Ia ungkapkan bertubi-tubi, Asal Bukan Barca, atau ia singkat ABB.

Hingga peluit jeda pertandingan ditiup oleh pemimpin pertandingan, skor masih imbang, ketakutan para pendukung Real Madrid kini semakin tampak. Dan ketakutan itu terbukti pada babak kedua, karena dengan mata yang sehat, para pendukung Real Madrid menyaksikan tim idolanya diperdayai kembali oleh Barcelona.
Kulihat Bomz ingin berteiak  kegirangan, kutahan pundaknya, kutenangkan dia, aku pura-pura kalau tak tahu barusan terjadi gol, aku duduk seolah-olah tak terjadi apa-apa.

“Gol kah itu Bomz? Tanyaku dengan nada provokasi.
“Iya Kanda, apa yang Kanda lihat itu adalah kenyataan, tak sedikitpun hasil rekayasa.”

“Benarkah Bomz yang barusan adalah gol kedua Barca terhadap Real?”
“Iya Kanda, benar sekali, tak sedikitpun aku mau membohongimu Kanda, berdosalah aku jika aku punya tabiat suka berbohong Kanda.”

Kulirik Adam di sisi kananku. Ia tak tega lagi menatap  layar kaca. Matanya hanya menatap laptop mini dihadapannya, mulutnya yang tadi terampil berkomentar kini padam, bak disumbat dengan latban hitam layaknya pacar seorang jagoan yang disekap di gudang tua dalam sebuah adegan film.

Kulirik di sisi kiriku, kulihat wajah Beddu dengan penuh ekspresi kekecewaan. Hatinya remuk, ia tak percaya dengan bintang pujaannya telah membuatnya kecewa. Sedih rasanya melihat kawan-kawan baikku, tapi keberuntungan saja tidak memihak kepadanya, seandainya saja Real Madrid benar-benar membantai Barca, bisa kupastikan telingaku akan over load menerima kata-kata yang menusuk-nusuk hingga ke dasar relung hatiku. Andai saja. Dan untung saja dalam dunia nyata kata-kata “andai saja” tak pernah berlaku.

Detak jantungku kembali normal, kemenangan Los Cules kini di depan mata, Los Balancos teringgal. Menit ke menit Real Madrid ditekan dan digempur habis-habisan, Morinho meradang, tukang sobek kartis berang, Marcello semkin emosi, dan Beddu semakin tertekan. 

Tak ada lagi suara-suara dari komentator yang semenjak tadi berkicau tanpa dibayar. Melihat gelagat yang kurang baik, Bonchu yang sebelumnya menjagokan Los Balancos (Real Madrid), kini berpaling ke Valdes dan kawan-kawan. Ia mengkhianat. Dalam dunia dukung-mendukung, Bonchu adalah tipe oportunis, cocoklah ia menjadi politikus.

Sepertinya anak asuhan Morinho telah ditakdirkan malam ini untuk diperdayai dan dipermalukan di kandang sendiri. Kembali jala yang dikawal Casilas bergoyang bak Ayu Ting Ting, Fabregas mengukuhkan kemenangan Barca 3:1 atas Madrid.

Kubisik Bomz, ”Bomz, kita harus hati-hati, biarkanlah mereka pulang duluan, kita ini minoritas di tengah kaum mayoritas, kesempatan untuk mendindas terbuka lebar”.

“Iya Kanda, kuterima saranmu.”

Sebenarnya mereka adalah kawan-kawan baikku, dan telah kuanggap saudara sendiri. Tapi dunia sepak bola kadangkala tidak mengenal persaudaraan dan kemanusiaan. Banyak bukti yang tertulis maupun bukti tak tertulis, saudara-saudara kita yang mengaku ber-Tuhan dan rela disunat waktu kecil membantai saudaranya yang seiman hanya karena tim kesayangannya dipermalukan oleh tim yang dibela saudara seimannya.tiu kisah nyata dari dunia yang bernama sepak bola.


Coretan By: Puang Array





11/12/11

Kabar Gembira!!!

Satu lagi prestasi yang ditelurkan oleh salah satu putra terbaik Sinjai. Hari ini, tanggal 10 Desember 2011, seorang anak muda yang profesinya sebagai aktivis kampus telah meraih gelar diploma pada bidang Bahasa yang sangat kren dan gaul, yaitu bahasa Inggris.

Hari ini langit tampak tersenyum dan matahari tampak malu-malu melihat langkah anak bangsa yang menuntut ilmu di UMM ini.  Dengan jas kebanggaannya yang berwarna merah hati yang berlabelkan matahari bersinar, anak muda ini melangkah dari kontrakannya menuju dome UMM, tempat dimana tanda gelar akan disematkan di dadanya. Tak lupa dasi hitam yang juga bemerek matahari bersinar ia lingkarkan ke lehernya yang kokoh itu. Celana kain hitam dan hem putih serta kecamata minus melengkapi tubuhnya dan menandakan kalau ia memang pantas untuk gelar itu.

Hari ini di Universitas Muhammadiyah Malang dilangsungkan satu ritual ilmiah, yaitu acara wisuda bagi mahasiswa dan juga mahasiswi yang telah lulus menempuh mata kuliah ESP selama dua semester. Gelar yang didapatkan setingkat diploma satu. Lumayan bergengsilah gelar semacam ini, meski para alumni mendapatkan selembar sertifikat saja, paling tidak dengan secarik kertas itu bisa menjadi pelengkap suatu saat pada berkas yang akan dibawa ke loket lowongan kerja. Atau benda semacam itu bisa dijadikan saksi akan sejarah masa muda yang begitu cepat berlalu. Anak cucupun bisa bangga kalau kakeknya yang kini mulai stroke pernah meraih gelar berbahasa Inggris, karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Barang siapa tidak mengerti bahasa orang asing ini, maka label “kampungan” bisa didapatkan kapan saja. Karena bahasa inggris begitu berharga, orang-orang rela mengeluarkan lipatan-lipatan rupiah dari saku orang tuanya hanya karena ikut kursus kilat menghafal sejuta kosakata bahasa Inggris.

Anak muda kebanggan bangsa itu bernama Ammang, salah satu tokoh pentolan IKAMI Sulsel Cabang Malang yang kini harkat dan martabatnya meningkat naik, mengalahkan saudara kembaranya, Adam, yang meski menempati kamar yang sama dalam sebuah kontrakan, tapi nasib mereka berbeda satu sama lain. Karena Ammang sedikit beruntung dari pada Adam. Adam dan Ammang seangkatan, sama-sama memiliki kulit yang agak gelap (hitam yang diperhalus), memiliki rambut yang juga sama, memiliki hobi yang sama, bahkan saling merindukan ketika keduanya saling berpisah. Tapi begituah nasib, ia selalu berjalan mengikuti usaha seseorang. Dan dengan usahanya, nasib membawa Ammang jauh berbeda dengan Adam. (tidak ada niat membading-bandingkan kedua homo sapiens ini, tapi seperti itulah faktanya, dan fakta tak pernah berbohong).

Di sisi lain, seorang anak muda yang juga harapan bangsa tampak mengucek kedua mata. Melihat mukanya yang masih acakan (atau memang dari sononya yang acakan), anak muda ini baru bangkit dari pembaringan setelah sekian jam ia berkubang di atas kasur. Anak muda ini angkatan 2008, mengambil jurusan bagi calon Manejer. Kalau dilihat dari tahun masuknya kuliah, ia diatas satu tingkat dari Ammang, karena Ammang masuk di UMM dengan memilih jurusan menghafal undang-undang pada tahun 2009. Tapi anak muda yang acak-acakan tadi belum pernah merasakan bagaimana rasanya gelar kehormatan seperti Ammang. Maka tepat sekali jika seorang berkelakar kalau pretasi jangan dilihat dari umur seseorang, karena dari dua perbandingan diatas dapat menjelaskan kalau hal itu memang berlaku.

Penyakit Gila


Kata teman, waras dan gila itu sama saja, karena waras adalah gila yang tertunda. Makanya jangan kaget kalau seorang yang kemarin sehat-sehat wal-afiat tapi hari ini mendekam di sebuah ruang sempit di rumah sakit jiwa. Penyakit gila bisa datang kapan saja dan menyerang siapa saja. Ia datang tak mengenal waktu, entah siang, malam, sore, dini hari, saat senja, atau saat azan subuh berkumandang.

Ciri-ciri gila tidak bisa dilihat dari fisiknya atau tingkah lakunya. Seseorang yang tampak diam dan sedikit bicara bisa saja mulai menderita stres yang menggejoti pikirannya dan pada akhirnya gila. Gila adalah penyakit nomor satu yang menyerang negara yang berbendaera merah putih ini (tentu saja warna merah diatas dan putih dibawahnya). 

Tidak susah untuk mencari orang waras yang mulai gila. Datang saja di warung penjual pecel di pinggir jalan. Pesan seporsi nasi pecel, dan secangkir kopi hitam. Saksikan pengguna jalan raya yang membawa kendaraan. Salip menyalip dengan kecepatan tinggi menjadi tontonan, bahkan lampu merah yang menyala tak jadi hirauan, maka mereka itu gila.

Rakyat jelata pun yang dulunya waras dan tanpa cacat dalam otaknya telah mengalami geger otak yang membawa mereka ke tahap gila. Gila karena harga minyak goreng semakin tinggi, telur ayam tak bersahabat lagi, susahnya mencari kayu bakar karena hutan telah menjadi gedung. Hingga petani pun mulai gila karena kebijakan menteri perdagangan yang juga tak bersahabat membiarkan barang impor membajiri negeri kaum pribumi. 

Lebih parahnya lagi penyakit gila itu juga ikut diimpor dari negara asing. Negara asing dianggap lebih berbudaya, karena mereka temukan facebook, mereka temukan tweeter, mereka temukan handpone, mereka temukan jenis dan ukuran-ukuran BH. Mereka temukan monyet, mereka temukan pulau, hingga mereka temukan benua, hingga menemukan computer tempat saya mengetik kalimat ini, maka pantaslah mereka disebut bangsa penemu. Sementara kita hanyalah sebuah bangsa yang ditemukan oleh kaum merkantelis. Dan celakanya ketika bangsa kita ditemukan, semua manusianya masih tidak memiliki rasa percaya diri dan kemandirian. Tak heran jika nenek moyang kita rela tunduk dan patuh selama tiga abad lebih di kaki mereka yang menganggap kaum pribumi adalah budak yang layak diperbudak (dalam hal ini entah siapa yang gila). 

Ada tempat untuk menyaksikan orang waras yang belajar gila. Datanglah ke Ibu kota Negara berlambang garuda ini, kunjungi Senayan, masuklah di dalam gedung yang modelnya seperi bukut itu, tengoklah mereka yang berdasi dan berjas saat rapat! Apa yang meraka lukukan?

Gila! Tak bisa dibayangkan manusia pilihan ummat ini hanya titip absen layaknya mahasiswa yang gemar bolos. Marzuki Ali mengakui kalau anggotanya di DPR banyak yang melakukan hal itu. Saya yakin Marzuki Ali ketika mengatakan itu, ia dalam keadaan waras tanpa terindikasi penyakit gila.

Kabar menarik minggu kemarin di depan istana. Seorang pemuda mengunjungi halaman istana denga tubuh yang bermandikan bensin, sedikit dicolek dengan korek api, maka berkobarlah ia seperti pasar kumuh yang kebakaran. Sontak membuat orang-orang geger. Suatu indikasi frustasi yang berujung pada gila dan membakar diri karena bangsa yang dicintainya tak kunjung berdamai dengan kaum pinggiran. Pejabatnya gemar berfoya-foya dengan uang hasil korupsi. Jadilah leher para nelayan dan petani guren dicekik oleh keadaan.

Dan yang lebih gila lagi, jika seseorang terjangkiti penyakit gila tapi ia sadar kalau ia gila tapi merasa tidak gila, maka benar-benar gila ia dan pantas dimasukkan dalam penjara khusus orang-orang gila.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review