Telah banyak waktu berlalu, Pemilu Raya nyaris tak meninggalkan jejak. Kata orang, euforia Pemilu Raya hanyalah sesaat, dan setelah itu, visi dan misi terlupakan.
Apa yang dikatakan orang, memang benar adanya. Pemilu Raya hanyalah ajang “rekreasi” bagi sebagian aktivis di kampus. Entah mungkin karena tidak adal lagi hal yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa.
Ditanya prestasi, apalagi…
Pemilu Raya adalah hasil jiplakan atau contekan (kalau tidak ingin dikatakan mencuri) mahasiswa terhadap cara berdemokrasi di Indonesia. Bersaing dengan poster-poster yang berisi visi-misi semu. Partai politik mahasiswa tiba-tiba muncul mengatasnamakan kepentingan mahasiswa, meski di dalamnya sarat akan kepentingan sekelompok kecil orang saja.
Didorong oleh syahwat politik dan daya megis yang bernama Pemilu Raya, lahirlah partai mahasiswa bernama Parmindo di Kampus Putih. Partai mahasiswa yang didesain untuk menampung orang-orang yang berada diluar kepentingan dan kegilaan akan kekuasan semu. Meski pada pada awalnya Parmindo dikenal sukuisme dan sarat akan kepentingan golongan tertentu. Namun hal itu tidak pernah terbukti, karena sejauh Parmindo ada (kalau memang masih ada) berbagai suku, dan latar belakang organisasi bebas berada di dalamnya.
Seperti partai mahasiswa lainnya, Parmindo adalah salah satu dari partai musiman yang ada di Kampus Putih. Ia ada, tampak, dan bersuara dikala akhir dari periode masa jabatan lembaga intra dan disaat kampanye partai politik mahasiswa, setelah itu ia pun menghilang dibalik topeng-topeng palsu demokrasi ala mahasiswa.
Gema Parmindo yang dulu mengaung, tak lagi tampak. Ia telah tertidur pulas jauh dari hiruk pikuk mahasiswa. Rentetan tanggung jawab perubahan kini telah sirna, menguap bersama visi yang tak pernah terjamah.
Lantas bagaimana???
Mari kita kembali ke fungsi mahasiswa, bukan fungsi partai yang memuluskan keserakahan golongan. Tak perlu berdebat soal bagaimana seharusnya partai politk berbuat, tapi mari kita berdebat apa yang semestinya di lakukan oleh maha+siswa itu sendiri. Setidaknya tidak menjadi budak pada sistem yang dibuat oleh kepala kita sendiri.
Kenapa begitu???
Diakui atau dinafikan, kita selalu tunduk dan manjadi budak dari apa yang telah kita ciptkan sendiri. Kebebasan bersuara, bermusywarah, berkreasi, bahkan berimanjinasi sengaja dhilangkan dari daftar harian yang semestinya di kerjakan hari ini. Dan inilah yang terjadi pada sebagian besar partai politik mahasiswa yang didesain oleh mahasiswa itu sendiri.
Bagaimana dengan Parmindo???
PARMINDO kembalilah ke falsafah awal, atau bubar saja!
Cukuplah kita menjadi bagian dari produsen-produsen topeng, atau bagian dari konsumen yang bersembunyi dibalik indahnya kepalsuan topeng.


11:06:00 AM
Puang Array
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar