Tanggal 19 Februari 2012, sebuah sejarah kembali tercatat. Langit tertegun. Awan berhenti berarak menyaksikan seorang Bocah duduk manis sambil tersenyum liar menghadap ke sebuah komputer. Hari ini tercatat dalam lembaran buku malaikat pencatat tingkah laku manusia. Peristiwa yang di mata orang tidak begitu penting, tapi apa hendak ditolak, telah menjadi tugas malaikat pencatat tingkah laku itu untuk menulis hal-hal yang meski tidak penting. Bocah itu kadang mengkerutkan dahi, pertanda begitu rumitnya masalah yang ada di hadapannya, tapi kadang tampak tersenyum. Senyum yang tersirat tanda kepuasan karena telah melewati satu fase yang menantang dan menegankan. Tanggannya lincah menari di atas tombol-tombol huruf yang terpisah-pisah rapi. Huruf abjad itu pasrah ditekan-tekan tanpa perlawanan. Kadang terdengar seperti dihentak, kadang diperlakukan lembut bagai bayi yang masih merah merona. Ia menurut saja. Ia telah pasrah dengan takdirnya. Pasrah!
Di layar monitor tampak mbah google telah bertarung dengan waktu. Memenuhi permintaan si bocah yang berprilaku seperti raja tanpa rakyat. Malaikat semakin mendekat, mencatat detik perdetik hingga yang tak bisa terukur oleh waktu. Di baris kolom mbah google, huruf mulai beraksi atas perintah si Bocah. Satu persatu huruf ditekan. Lahirlah kalimat-kalimat yang diinginkan si bocah.
T-W-I-T-T-E-R
Tak butuh waktu lama, tak butuh energi yang banyak. Cukup dengan sisa-sisa energi yang ada, semuanya akan terlaksana dengan lancar. Aman terkendali.
Aha!...si Bocah tersenyum girang. Revolusi hidupnya satu lagi kini telah tercapai. Sebuah akun twitter milkinya tercatat di dunia maya.
Puang Array. Nama yang tampak anggun dan mempesona. Nama itu tersenyum. Senyum yang jelas mengucapkan selamat datang kepada kawan barunya. “Selamat datang di dunia kami, dunia antah berantah.”
Seperti biasa, hal yang pertama dilakukan oleh pengguna twitter adalah menjadi “pengikut”. Sekedar untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh orang yang dikutinya. Maka Puang Array menjadi pengikut pula.
“Ah twitter, kau telah benar-benar menanamkan mental pengikut pada kami.” Tapi apa hendak dikata, zaman memang telah canggih. Tak mengikuti zaman berarti kuno. Kuno hanya pantas dipajang di museum.
Puang Array ingin mengadakan syukuran atas akun twitter barunya. Dirogoh kantong celananya yang bolong. Tak ada uang. Diperiksa dompet yang mulai lusuh. Hanya tersisa beberapa rupiah. Ah nasib, selalu tidak berpihak pada keadaan.
Maka Puang Array ke dapur, mengambil beberapa genggam beras, lalu dimasukkan pada periuk yang disambungkan ke listrik. Beberapa saat kemudian, nasi telah matang, sematang semangatnya yang tak pernah surut.
Giliran telur dipecah. Menggeliat di penggorengan. Membentuk dadar yang nikmat jika disantap dalam keadaan lapar. Karena orang-orang lapar tidak pernah makan karena pertimbangan gizi atau enak, yang penting kenyang, dan hidup bisa tersambung kembali.
Pesta syukuran hari ini berlangsung sederhana. Pesta makan siang yang diadakan seorang diri. Menu istimewa: Nasi+ telur goreng.
(Dalam kalbuku berdoa: Semoga Twitterku membawa berkah dalam hidupku)


1:11:00 PM
Puang Array
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar