Dua orang teman saya, pada hari ini mengalami nasib yang sama. Sama-sama tidak bisa mengikuti ujian karena memiliki rambut yang panjangnya melebihi kerah bajunya. Sebenarnya bukan cuma dua orang, tapi mungkin banyak yang mengalami nasib yang sama. Hanya saja saya tidak tahu.
Salah seorang diantara teman saya itu adalah mahasiswa fakultas ilmu politik, dan harus meninggalkan bangku ujian karena persoalan sepele, rambutnya panjang atau yang biasa disebut gondrong. Ia harus menghadap ke seorang dosen, diintrogasi bak pelaku kriminal. Karena ia tak terimah, argumentasi pun ia lontarkan. Sang dosen penegak aturan mengajaknya berdiskusi sejenak tentang larangan berambut gondrong. Sang dosen bertanya, “Apa alasan Anda gondrong?” Si mahasiswa bertanya balik, “apa alasannya kampus melarang gondrong mahasiswanya?”
Si mahasiwa tak terimah segala rasionalitas sang dosen, karena baginya rambut tidak menghalanginya untuk berfikir.
Begitulah perdebatan antara dosen dan mahasiswa hingga beberapa menit. Semua argumentasi dikeluarkan. Agama, tentu tidak bisa dijadikan alasan, karena hampir semua nabi itu gondrong, bahkan dalam ajaran islam, rambut panjang adalah sunnah, karena nabi Muhammad sendiri berambut gondrong. Nabi Isa? Apa lagi!
Seorangnya lagi adalah mahasiswa fakultas ekonomi mengalami nasib yang sama karena sebuah aturan yang bagi saya sangat tidak rasional. Melarang mahasiswa beramput gondong bukanlah suatu alasan ilmiah. Karena kampus putih yang sama-sama kita cinta dan kasihi bukanlah tempat para serdadu mengadu nasib.
Dari sudut manapun dilihat, rambut gondrong tidak merugikan orang lain. Bahkan dalam undang-undang tak ada tercantum kalau rambut gondrong adalah perbuatan kriminal. Dan perlu kita ketahui bersama bahwa fakultas ekonomi lahir dari kepala gondrongnya Adam Smith. Kalau anda tidak percaya, datanglah ke warnet dan telusuri foto-foto Adam Smith melalui mbah google. Yakin dan percaya tak satupun Anda menemukan rambut beliau terlihat cepak (pendek), walau tubuhnya pendek. Para ilmuwan lainnya pun demikian adanya. Bahkan seorang musisi Indonesia, Piyu, sang gitaris dari grup band Padi, rambutnya yang gondrong tak menghalanginya menciptkan untain nada.
Lihatlah di media akhir-akhir ini, para pelaku pencuri uang rakyat (baca koruptor)hampir kesemuanya tidak berambut gondrong. Kecuali Nunun karena dia memang perempuan. Itupun dia berusaha menutupi kepalanya dengan kerudung. Bahkan mereka memiliki potongan rambut yang rapi karena setiap akhir pekan dikeramas di salon-salon yang pelayanannya sangat lembut.
Maka dari itu, rambut gondrong seharusnya tidak menjadi daftar larangan di kampus putih. Biarkanlah mahasiswa mengespresikan rambut dan kepalanya. Tak usalah membawa norma-norma segala. Yang penting bagi kita para citivitas akademika, bagaimana kita seharusnya berfikir untuk kemaslahatan ummat, bukan persoalan rambut gondrong. Biarkanlah semua itu. Hingga tiba masanya nanti, rambut kami pun akan rontok meninggalkan bekas berupa botak yang permanen. Jadi, biarkanlah…
Malang, 8 Januari 2012
Salam dari Mahasiswa yang Tidak Gondrong


6:46:00 PM
Puang Array
Posted in:
3 komentar:
apa kabar ini orang ??? nda pernahmi OL kayaknya ,,,, hahaha Lorong Jengki jieee :p
mahasiswa UMM
Setuju banget. Ngapain sih ngurusin privasi orang. Lgian apa salahnya rambut gondrong? Kasian yg ingin berekspresi diri.
Setuju
Posting Komentar