RESOLUSIKU
Tak Banyak Kuminta Pada Tuhan dan Juga Pada Diriku. Di Tahun 2012, Aku Akan Menerbitkan Buku. Dan Aku Akan Memiliki Penghasilan Tetap, Bukan Pekerjaan Tetap.
Kami berada di penghujung tahun. Desember. Begitu ia disebut. Bulan dimana masa akan tergantikan. Aku ingin di penghujung tahun ini memiliki resolusi, maka kutulislah resolusiku seperti yang anda baca di atas. Dan aku ingin turut merayakan pergantian tahun, aku pun ikut serta merayakannya bersama kawan-kawan serantauan. Aku hanya ingin, suatu saat nanti, ada perstiwa yaitu pengalaman, menjadi cerita yang tak pernah terlupakan.
Tahap Persiapan
Pulau Sempu merupakan pilihan teman-teman pengurus pengurus IKAMI Sulsel Cabang Malang untuk merayakan pergantian tahun. Tempat ini diputuskan berdasarkan kesepakan rapat antara Bidang Pelestarian Lingkungan dengan Pengurus-pengurus lainnya. Ekspedisi tahun ini akan dipimpin langsung oleh Ketua Bidang Pelestarian Lingkungan, Saudara Riqar. Untuk memudahkan kegiatan, maka dibentuklah tim, dan aku adalah salah satu dari tim itu. Tugasku sangat sederhana, hanya mengatur sirkulasi dana. Sesekali juga membantu membeli logistik yang diperlukan oleh tim dan peserta.
Fahri, yang banyak berpengalaman di alam liar, mendata semua kebutuhan. Mulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal besar. Sementara aku, hanya mengatur keuangan. Memberinya sesuai permintaan. Riqar, atau biasa dipanggil Ikal, menyiapkan perlengkapan lainnya.
Boms dan Beddu, dua insan yang tak pernah lepas, berangkat lebih duluan ke Sendang Biru, mengurus apa yang perlu diurus, mempersiapkan apa yang perlu disiapkan. Misalnya perizinan, kapal apa yang akan ditumpangi menyeberang ke Pulau Sempu, lewat jalan mana agar aman. Kesemua itu menjadi tanggung jawab Boms dan Beddu. Seandainya ditengah laut tiba-tiba perahu yang kami tumpangi bocor, lalu tenggelam. Maka Boms dan Beddu-lah yang harus bertanggung jawab. Seandainya saja, Anci, karena ketakutannya melihat laut, tiba-tiba loncat dari perahu ke laut, dan ditemukan dalam keadaan tewas tak bernyawa, maka Boms dan Beddu-lah yang harus bertanggung jawab. Tanggung jawab Boms memang besar. Tak heran kalau akhir-akhir ini berat badannya mulai menurun. Dan Beddu, lebih tragis lagi. Karena dagingnya tiap hari menyusut, tampaklah ia hanya tulang dibungkus kulit. Sungguh tragis.
Untuk menghemat pengeluaran, dan efektifitas kegiatan, Truk masih menjadi pilihan transportasi ke Sendang Biru. Urusan transportasi adalah tanggung jawab Kanda Widot (Cak Idot). Kebetulan ada Kakanda, mantan Pengurus Ikami yang memiliki Truk. Tak disia-siakan tawaran itu.
Keberangkatan
Kami, para peserta Catatan akhir Tahun (CAT) berangkat dari Malang sebelum matahari muncul. Diperkirakan kami tiba di Sendang Biru saat fajar menjelang. Waktu menunjukkan pukul 02.45 saat kami meninggalkan kontrakan. Sebelumnya para peserta berkumpul di Al-Kautsar 58. Setelah siap dan semuanya dianggap beres, satu persatu dari kami meloncat naik ke bak Truk. Terpal sebagai atap, sebagai antisipasi jika hujan turun.
Satu jam perjalanan, satu persatu wajah peserta tampak kuyu. Mual datang menghadang. Anci, yang suaranya paling nyaring kini diam seribu bahasa, terompet yang semenjak tadi berbunyi di mulutnya juga ikut diam. Perutnya terguncang akibat guncangan Truk yang meliuk-liuk menyusuri jalan yang penuh liku. Kanda Adi, sebagai pengemudi Truk, secara sengaja membawa laju kendaraanya. Menikung tajam, menanjak, kemudian melaju menuruni bukit, kemudian menikung lagi dengan kecepatan tinggi. Isi perutnya Anci pun ikut menikung dan menanjak ke tenggorakaanya. Ia tambah diam, terompet ditangannya tak berdaya lagi. Jangankan meniup terompet, menarik nafaspun ia mulai susah. Fina dan evi pun demikian. Isi perutnya mulai menggoda tenggorakannya, hanya menunggu waktu yang tepat untuk muntah.
“Kantong plastik!” teriak seseorang.
Kantong plastik digunakan jika sewaktu-waktu ada peserta yang muntah di dalam Truk. Riuh penumpang truk mulai tampak sepi, tak ada lagi lelucon-lelucon khas. Semua berkonsentrasi menahan jika sewaktu makanan dari lambung keluar tanpa izin.
Saat tiba di pelabuhan Sendang Biru, Anci tak menyia-nyiakan waktu. Ia mencari posisi untuk muntah dan akhirnya, oakkk…cratttt….oakkk…crattt…oakkk…cratttt…
Sisa-sisa makanan itu berserakan di tanah.
Sebelum menyebrang ke Pulau Sempu, kami singgah sejenak di rumah Ayahanda Yusuf, yang jaraknya tidak jauh dari pelabuhan. Beristirahat sejenak lalu berangkat ke dermaga. Sebelum meninggalkan rumah Ayahanda Yusuf, peserta di bagi menjadi 5 tim, dan aku berada pada tim ke-5. Setiap tim mendapat jatah barang bawaan masing-masing. Mulai dari barang bawaan yang ringan hingga barang bawaan yang beratnya minta ampun.
Giliran pertama, aku mendapat jatah membawa tas besar (kerir) yang beratnya tak dapat kutaksir. Kuangkat perlahan melawan gravitasi. Semakin kuangkat, gravitasi semakin menariknya turun pula. Tapi dengan hati yang ikhlas disertai doa yang tulus kepada Yang Diatas maka beban akan terasa ringan.
Kuayungkan langkah menuju pelabuhan kecil menyusuri jalan bebatuan. Kami seperti ingin merantau meninggalkan kampung halaman menuju negeri antah berantah. Sekitar 10 menit perjalanan tibalah kami di dermaga kecil yang mulai tampak rapuh. Kapal nelayan berjejer di tepi pantai menambah keindahan alam pagi ini. Aku menurunkan tas besar dari punggungku, beristirahan sejenak sambil menunggu perahu yang akan ditumpangi menyeberang ke Pulau Sempu. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh kawan-kawan yang lainnya sebagai moment untuk berfoto dan bernarsis abis.
Tak lama kemudian, dari kejauhan tampaklah perahu yang akan mengantar kami ke pulau impian tersebut. Perahu yang berukuran kecil yang dilengkapi dengan bendera merah putih yang berukuran kecil pula. Perlahan-lahan merapat ke dermaga. Yang membawa tas besar berangkat terlebih dahulu, karena perahu hanya berkapasitas kurang lebih sepuluh orang. Maka aku berangkat terlebih dahulu dengan kawan-kawan yang juga membawa tas besar yang bebannya juga cukup besar.
Kususuri anak tangga yang licin menuju perahu. Aku tak kuasa menahan beban tas besar, maka satu persatu anak tangga kususuri dengan sangat hati-hati. Kemudian disusul oleh kawan-kawan yang lainnya.
Ketika perahu sudah penuh, mesin dinyalakan, maka meluncurlah perahu indah nan mungil itu diatas ombak-ombak yang kecil yang menguncang-guncang perahu. Perahu sesekali oleng. Anci, si perempaun yang tak berleher, berteriak histeris, takut jika perahu terbalik. Disangkanya perahu mungil nan indah itu akan ditelan oleh lautan bersama dirinya.
“Kakak, takutka” katanya sambil memejamkan mata.
“Ai…ai…Kakak, tolongka”
“Tenangko saja Anci, ini perahu telah dipasangi alat keseimbangan, jadi tidak mungkin terjungkal.” Sahut seseorang di antara kami.
Perahu mengangguk-ngangguk karena hempasan gelombang. Kubayangkan diriku menumpangi kapal Titanic, menyusuri lautan es. Berdiri di haluan kapal, sambil membentangkan tangan. Romantis sekali…
Akhirnya tibalah kami di pulau Sempu, tapi bukan tempat tujuan kami, karena harus berjalan kurang lebih 3 jam untuk sampai ke tujuan, Segara Anakan. Sebelum berangkat, kami menunggu peserta yang lainnya. Setelah dinggap lengkap, dan tak satu pun tertinggal, kami mulai melangkah ke tempat yang akan dituju. Disinilah petualangan yang sesungguhnya terjadi.
Tas Besar yang beratnya mengalahkan berat badanku, tingginya mengalahkan tinggi badanku, perlahan-lahan mencekikku. Langkahku semakin gontai di tengah lumpur yang tingginya hingga ke lutut. Bukan lumpur saja yang menjadi rintangan, tapi akar kayu yang tajam dan batu karang yang memang diciptakan oleh Tuhan dengan berbagi sudut yang tajam pula, sewaktu-waktu akan mengiris kaki kami. Untuk memperlancar perjalanan sepatu atau alas kaki lainnya harus dilepas.
Menyusuri jalan setapak yang berlumpur di tengah hutan belantara bukanlah hal yang mudah. Harus memiliki kekuatan ekstra, terutama kekuatan mental. Karena barang siapa yang tak memiliki mental yang kuat, maka menyerahlah ia pada alam liar yang kadang tak bersahabat.
Para perempuan yang tergabung dalam ekspedisi ini, sebelumnya berpenampilan modis, bak seseorang ingin bepergian ke Mall. Disangkanya mereka kalau perjalanan ke tempat tujuan semudah yang ada dipikirannya. Tapi kenyataannya terbalik. Kami harus belabuh di atas lumpur yang pekat, yang muncrat hingga ke wajah.
Bayangkan, kami harus menyusuri jalan licin di tengah hutan dengan beban yang berat, dan tak tahu dimana akhir perjalanan kami, karena banyak diantara kami yang belum pernah menginjakkan kaki di tempat ini, dan aku adalah salah satu diantara yang belum pernah itu.
Aku meninggalkan Sally di belakang bersama kawan-kawan yang lainnya, karena beban yang aku bawa cukup berat. Dengan beban berat aku tak bisa berjalan pelan, jadi aku harus memacu langkahku di atas genangan lumpur dan batu karang. (Sally, maafkan daku, tak ada niat meninggalakanmu, itu hanya pelajaran saja buat dirmu, semoga kau akan mengerti tentang semua itu).
Ditengah perjalanan, karena beban yang semakin berkuasa, dan tubuhku semakin dikuasai oleh beban di punggungku, aku bersama Kafi beristirahat sejenak, kemudian disusul oleh Sally, kemudian disusul lagi dengan yang lainnya. Aku meneguk air mineral untuk menghilangkan rasa kering tenggorokanku dan juga kembali mengumpulkan tenaga yang masih tersisa.
Aku melanjutkan perjalan kembali. Kini giliran Wawan yang menggantikanku membawa tas besar, yang entah isinya apa. Tapi kasihan juga kulihat Wawan. Jangankan memawa tas, berat tubuhnya saja susah ia kendalikan, sehingga baru berjalan beberapa meter ia sudah tampak gontai, seperti patung yang sewaktu-waktu akan ambruk.
Aku mendapat tas kecil yang lebih ringan, maka langkahku semakin cepat mendahului yang lainnya. Di atas akar dan batu karang yang begitu tajam, dan lumpur yang begitu dalam, aku berjalan bak Tarzan kecil yang sesekali bergelantungan di akar-akan pohon, tubuhku berbalut dengan lumpur yang berwarna coklat kehitam-hitaman. Perjalan ke Pulau Sempu mengantarkanku kembali sepuluh tahun yang silam. Saat aku harus bertarung di atas lumpur demi membantu Ayahku (yang kupanggila Bapak) menancapkan sebatang demi sebatang benih padi.
Kami kadang berada di lumpur dan bercongkok semenjak matahari terbit hingga matahari terbenam lagi. Bagi kami, kaum petani yang menggantung hidup diatas tanah persawahan, lumpur adalah kewajiban yang harus dilalui. Kami hidup karena lumpur , karena ayah-ayah kami sengaja menciptakan lumpur dengan bajak yang ditarik oleh dua ekor sapi dari pagi hingga sore, demi makan anak dan istrinya. Bagi kaum petani, lumpur adalah anugrah. Didalamnya tersimpan banyak cerita. Bagi ayahku (yang kupanggil Bapak) lumpur adalah tanggungjawab. Diatas pekatnya lumpur yang mengeluarkan aroma khas itu, seorang Ayah mengabdikan hidupnya demi aku, demi adikku, dan juga demi ibuku dan demi keluarga besarku. Atas nama nafkah.
Di tengah jalan, kutemui Fahri beristirahat di bawah pohon. Kuminta tasnya untuk kubawa, tapi ia menolak. Baginya membawa beban berat hingga ke tujuan adalah prestasi tersendiri yang harus digapai. Aku pun berlalu melanjutkan perjalanan dan masih setengah melamun.
Akhirnya, Kami-pun Tiba…
Tersadar dari lamunan, aku melihat lautan kecil. Pertanda kalau tujuan kami telah dekat. Langkahku semakin bersemangat. Kutanya pada seseorang, katanya beberapa ratus meter lagi kami akan tiba.
Semakin mendekat laut tersebut semakin besar, semakin kudekati semakin tampak ia seperti danau dengan lubang di tebing akibat ombak yang acapkali menghampas. Laut itu mirip danau yang dikelilingi tebing dan pantai. Orang-orang mulai tampak ramai menikmati keindahan pantai Pulau Sempu. Aku langsung menuju pantai dan di pantai telah ada Sandro bermain catur. Beristirahat sejenak, lalu ikut mencemplungkan diri di pantai sembari membasuh lumpur yang melekat pada tubuhku.
Penat langsung sirna seketika, ditelan keindahan alam Pulau Sempu. Ombak-ombk nakal menyapaku, mengucapkan selamat datang untukku. Selamat datang bagi penikmat keindahan alam. Karya agung Sang Kreator Agung, kini terbentang di hadapanku. Indah tak terkira.
Pasir di pantai menggoda imajinasiku. Ia kugali dan kubentuk seperti miniatur benteng pertahanan perang di zaman Belanda. Aku bersama Sandro menumpuk-numpuk pasir hingga berbentuk dinding yang kokoh. Di tengahnya ada raja, ratu, menteri, kuda dan pasukannya. Raja, ratu, menteri, kuda dan pasukkannya itu sesunguhnya adalah buah catur. Jadi tampaklah benteng yang kami ciptakan itu seperti benteng sungguhan.
Seorang pengunjung lain yang tak kukenal menegurku, “Mas, masa kecilnya tak pernah bermain pasir ya?”
“Iya mas, masa kecilku kurang bahagia, maklum gak pernah TK”, timpalku sambil bercanda.
Meski kenyataannya memang begitu. Aku tak pernah TK, karena waktu itu belum ada satupun TK di desaku, dan mungkin di kecamatanku. Untuk apa juga? Ibu-ibu kami memiliki waktu untuk merawat dan mengajari kami, Membiarkan kami bermain sesuka hati tanpa harus ada arahan dari seorang guru TK.
Lama menunggu, tapi peserta yang lainnya belum datang. Aku kembali menjemput mereka, mungkin saja ada yang butuh bantuan. Beberapa ratus meter dari pantai, kutemui mereka dengan wajah tampak pasrah. Kuraih bebannya, kemudian aku kembali ke pantai disusul oleh mereka yang berjuang menuntaskan perjalanan.
Fahri telah bergelut dengan tenda dibantu dengan yang lainnya. Tenda berdiri diatas pasir, untuk tempat peristirahatan bagi kami, dan sebagai tabir dari terik matahari dan hujan.
Dari kejauhan tampak kekasihnya Boms, Diya, tersengal-sengal. Lebih dari separuh tenaganya melebur di jalanan. Tak sanggup ia menyembunyikan lelah di wajahnya.
“Kak Aris minta bantuan, ia kelelahan, tak sanggup lagi berjalan, tolong dibantu!” Diya menyampaikan kabar penderitaan.
Aku sigap, menjemput Kanda Aris (Cak Widot) yang konon kabarnya telah sekarat. Dari kejauhan kulihat ia memanggul tas besar dengan langkah yang tertatih-tatih. Ia sama sepertiku. Sama-sama bertarung melawan gravitasi hingga titik keringat penghabisan.
“Riga, Bantuka kodong” suaranya lirih meminta bantuan.
“Tenang Kanda, aku datang untukmu, berikanlah tas itu padaku.”
Ia menurunkan tas itu dari punggungnya. Mukanya lusuh. Kalau ia diibaratkan telepon genggam, maka batrainya mulai low, hanya nada peringatan yang sesekali terdengar.
Kusambut, dan kuangkat perlahan ke punggungku. Tak kusangka, tas ini benar-benar memiliki beban melebihi kemampuanku. Giliran aku yang tertatih-tatih dan sempoyongan. Untung saja tenda kami sudah dekat, sehingga tas yang berukuran jumbo itu tak menghabiskan tenagaku.
Karena semuanya telah tiba di tempat tujuan, kami berstirahat sejenak sebelum menyiapkan makan siang. Hanya Boms dan Beddu yang belum kelihatan batang hidungnya. Rupanya mereka masih diperjalanan. Beberapa saat baru ia tampak dengan beban yang membuatnya lunglai hingga terkulai layu.
Tak hanya kami para manusia yang terlihat berantakan, ikan-ikan yang kami bawapun turut berantakan. Tubuh ikan kini mulai hancur, segarnya telah hilang. Ikan-ikan itu remuk terantuk-antuk di karang, di tanah, dan akar-akar kayu. Di dalam kantong plastik hitam, ikan-ikan itu menggelepar tak berdaya. Hanya lalat-lalat hijau yang bernyanyi dengan gembira, melihat mangsa di letakkan pas di dekat batang hidungnya. Lalat-lalat hijau itu seperti kesurupan. Menggerayangi tubuh ikan-ikan yang mulai busuk diperlakukan oleh waktu yang berkonspirasi dengan nelayan.
Karena waktu tak bisa ditawar lagi, dan asam lambung semakin mengikis, kubereskan ikan-ikan yang tak berdaya itu dengan pisau tumpul. Maka tubuhnya tambah remuk dan hancur. Dibantu oleh Abi, Elli dan Wawan, daging ikan dibentuk menjadi potongan-potongan kecil, lalu dimasak dan dibakar dengan bumbu seadanya.
Dua jam kemudian, makan siang dengan menu nasi setengah matang dan ikan tongkol masak hasil karya para perempuan, tersaji diatas kertas yang dihamparkan memanjang diatas pasir. Kami menyantap makan siang sambil berjejer panjang, berhadapan dan berhimpitan antar satu sama lain. Karena jumlah kami yang banyak, dan nasi hanya sedikit, maka dapat ditebak apa yang terjadi. Kami hanya kebagian beberapa suap nasi. Hanya sekedar menenangkan perut yang semenjak tadi memberontak.
Di wajah mereka kembali berseri. Mereka lupa dengan pendertiaan yang baru saja mereka alami. Tubuh segera terlepas dari beban penjajahan atas pikiran. Semua terlupakan.
Di pantai yang indah ini, tak ada tugas yang mengejar-ngejar, tak ada skripsi yang harus direvisi, tak ada dosen yang berwajah garang. Kami semua melebur di tengah titik bernama keindahan. Keindahan pasir, keindahan hutan, keindahan karang, keindahan ombak, yang menyatu menjadi ekosistem yang tak terhitung nilainya.
Begitu kisah berlanjut hingga sore tiba.
Saat mentari mulai bersembunyi dibalik bebukitan, kami mulai mempersiapkan makan malam. Ikan bakar masih menjadi menu utama.
Api dinyalakan, ikan-ikan itu kembali terkapar diatas bara api. Setelah ia diperdayai oleh lalat-lalat hijau, sekarang giliran kami, para pemakan segala, yang akan memperdayainya. Dan ikan itu kawan… sebenarnya penuh dengan telur-telur lalat yang sebentar lagi akan menjelma menjadi belatung. Tampak bintik-bintik putih di sekujur tubuhnya. Yang lain mungkin tak menyadari itu, karena lahap saja mereka memakannya, begitu juga aku. Meski aku tahu itu. Tapi dalam kode etik orang kesusahan, tak perlu membongkar rahasia yang sesungguhnya menjijikkan. Semua itu demi keselamatan ummat. Tak ada pilihan lain. (maafkan aku)
Makan malam pun usai, dilanjutkan dengan bernyanyi bersama, diiringi dengan gitar akustik, sambil menunggu moment pergantian tahun.
***
Waktu menunjukkan pukul 24.00 Waktu Sempu dan Sekitarnya. Ledakan kembang api memancar di angkasa diiringi dengan suara terompet. Tahun 2012 telah tiba. Tahun 2011 pergi dengan segala kenangan.
Dari balik tenda, kuintip percikan-percikan bunga api yang berhamburan indah di atas lautan. Suaranya menggelegar di angkasa yang mendung. Tak lama kemudian, hujan perlahan-lahan jatuh ke bumi. Rintik hujan mulai membasahi tenda, aku merebahkan badan, lalu tertidur pulas.
Ditengah ketenanganku menikmati tidur, tiba-tiba aku terbangun. Aku merasa ada yang aneh pada kakiku. Rasanya sangat gatal. Aku mengumpulkan kesadaranku, dan aku sadar kalau itu adalah ulah nyamuk-nyamuk nakal.
Nyamuk sialan, tak berkeprihewanan. Tak tahu ia kalau aku lagi butuh istirahat. Dasar nyamuk kurus, tahunya main keroyokan. Aku adalah santapan yang empuk bagi mereka. Aku jengkel, kuhajar salah satu dari mereka dengan telapak tangan. Seketika ia wafat di tanganku yang tak memiliki belas kasihan terhadap makhluk yang selalu mencuri darahku.
Pukulan itu tak membuat yang lainnya kapok. Malah mereka menyerang membabi buta. Begitulah nyamuk, ia punya prinsip lebih baik mati berdarah dari pada mati kelaparan. Aku keluar dari tenda yang pengap dan menghindari serangan nyamuk yang tak ada habisnya. Di luar, dibawah tenda darurat, beberapa orang duduk berjejer karena tidak dapat tempat untuk berbaring. Kukenali wajah-wajah mereka, ada Kanda Widot, Boms, Fina, Kanda Aji, Taslim, dan yang lainnya aku lupa. Dinginnnya angin malam mendekap tubuh kami, sementara di langit sudah tampak hitam, pertanda sebentar lagi akan turun hujan lagi.
Akhirnya hujan turun juga. Ini merupakan berkah bagi kami karena di Pulau Sempu yang indah ini, sangatlah sulit mendapatkan air tawar, sehingga perlu menghemat, sehemat-hematnya mengkonsumsi air tawar. Kami hanya menyediakan 50 botol air mineral, sementara harus dikonsumsi lebih dari 30 orang. Semakin lama hujan semakin deras. Aku memanfaatkan cekungan tenda sebagai tempat menampung air hujan. Dan alhasil aku bisa mengumpulakan beberapa liter air tawar. Air itu rencananya digunakan untuk masak, karena persediaan air mineral yang kami bawa semakin menipis.
Tiba-tiba tenda roboh karena tak mampu lagi menahan beban. Sementara kami yang berlindung dibalik tenda sudah mulai kebasahan. Taslim semakin menggigil. Kata-katanya penuh dengan penyesalan.
“Enaknya di kost ini, makan, tidur dikasur, main game, kenapa kita meski terdampar disini, dan ini tidak sesuai dengan apa yang kupikirkan.”
Taslim di sini sebenarnya bertindak sebagai Sutradara. Ia telah membuat skenario di kepalanya. Karena kondisi yang tidak mendukung, ia akhirnya pasrah, dan ide-ide sintingya hanya mengendap tak terwujud. Ia hidup dalam penyesalan, dan sedikit trauma tentang alam, karena alam baginya adalah sesuatu yang tak bisa ditebak. Penuh misteri, yang kadang menjadi teman, tapi tak jarang menjadi musuh. Karena terlanjur basah, ya sudah mandi saja. Taslim dan Boms keluar dari tenda, merelakan hujan langsung menghantam tubuhnya. Begitu berlanjut hingga fajar menyingsing.
Paginya, tak kusia-siakan waktu untuk mendaki karang yang bergerigi. Menapaki bebatuan selangkah demi selangkah dengan sangat hati-hati. Di atas sana, tepat di atas tempat berdirinya tenda, terdapat tanjung yang begitu menakjubkan. Aku duduk di atas batu karang menyaksikan ombak berdentuman menerpa batu karang, meninggalkan erosi yang tampak cekung. Di seberang, terdapat pulau kecil tak berpenghuni. Hanya perahu nelayan, sesekali merayu tepi pulau tesebut, namun karena ombak yang tak bersahabat, memaksa nelayan untuk menghindari kemungkinan yang tak diinginkannya.
Mungkin bagi kami deburan ombak yang meluncur hingga ketinggian dua meter lebih adalah pintu memasuki maut. Tapi bagi nelayan, ombak adalah jalur menuju pintu rezeki, mengais harapan jika saja ada ikan yang tega mengabdikan dirinya di ujung kail para nelayan yang memang terlupakan.
Begitulah Sempu. Ia menjadi surga bagi para fotografer. Keindahan laut, hutan dan karangnya menyatu menjadi pesona yang wajib untuk direfleksikan dalam sebuah lensa kamera. Lewat lensa kamera, keindahan dapat diabadikan. Waktu dapat dihetikan. Dan Beddu tahu akan hal itu.
Tapi di Sempu, uang tak bernilai lagi. Tak ada transaksi ekonomi. Di sinilah teori nilai terpatahkan. Teori yang selalu diperdebatkan oleh para ekonom yang sok tahu itu. Seteguk air lebih bermanfaat dibandingkan dengan sebongkah berlian di pulau ini.
Air, di tengah pulau yang tersembunyi ini, begitu sangat dibutuhkan. Minum pun harus dibatasi maksimal dua teguk per orang. Cuci muka, cuci kepala, cuci kaki, cuci piring, pakaian, semuanya dari air asin. Jangan heran selama dua hari wajah-wajah kami mirip ikan asin, karena bikin kopi pun dari air asin.
Puas ber-narsisi ria, kami pun turun ke tenda. Makanan telah siap untuk disajikan. Sarapan dimulai, atau tepatnya makan pagi menjelang siang. Teman-teman begitu lahapnya menikmati hidangan di hadapannya. Tiba-tiba seseorang berteriak, ia mendapati belatung di makanannya. Spontan semuanya berhenti makan, kecuali yang tidak terganggu dengan kemunculan belatung itu, tetap saja melanjutkan makannya.
Setelah sarapan usai, tenda dibongkar, dan barang-barang dikemasi dalam tas bawaan masing-masing. Kunaikkan tas dipunggungku, dan kami berjalan menuju pantai untuk foto bersama. Tas dipunggungku lebih ringan dari kemarin, karena isinya hanya pakaian dan peralatan masak-memasak. Tas yang ringan pasti diiringi dengan langkah yang ringan pula, sehingga aku berjalan lebih cepat dari pada kemarin. Hanya saja, medan yang akan kami lalui lebih parah, akibat guyuruan hujan dan ratusan pasang kaki yang telah melintasi jalananan ke tempat ini.
Aku berjalan bersama Riqar, sementara Sandro dan temannya berjalan lebih dahulu. Aku tak gentar dengan genangan lumpur yang tingginya hingga ke lutut, kuanggap saja itu suatu permainan. Seperti yang sering kulihat di tivi-tivi. Kulewati semua orang di hadapanku, berjalan dengan segenap tenaga. Aku mersa bergerilya di tengah hutan melawan penjajah tengik. Sesekali bergelantung pada akar-akar pohon. Aku berjalan dengan kaki, tapi kadang dengan pantat. Riqar, teman baikku, kulihat ia terpeleset dan pantat teposnya menghantam tanah, menghasilkan getaran yang mungkin jika diukur dengan alat pendeteksi gempa berkisar 2 SR. Kutanya keadanannya, katanya ia baik-baik saja. Hanya kecelakaan biasa. Banyak kutemui tim-tim lain yang tak kuasa lagi meneruskan perjalanan. Alam telah memperdayai mereka. Di tengah perjalanan, kesetiakawanan seseorang diuji. Banyak diantaranya yang tak ingin berbagi meski seteguk air. Bahkan ada diantara kami lebih memilih menyelematkan dirinya masing-masing ketimbang membantu seorang kawan membawa beban berat. Bahkan, ditengah hutan yang tak bersahabat ini, sifat asli seseorang akan tampak.
Ketika melewati lebih dari setengah perjalanan, aku beristirahat sejenak. Mengeluarkan air minum yang sesunguhnya adalah air hujan yang aku tampung subuh tadi. Kuteguk perlahan, rasanya aku berada di sebuah oase, kuteguk lagi, aku serasa terlempar ke kutub utara, bercengkrama dengan penguin-pinguin liar, kuteguk lagi, aku baru tersadar kalau apa yang masuk ditenggorongkanku adalah air hujan. Tapi demi penyambung nyawa, tak apalah.
Kini giliran Riqar, beberapa teguk melewati tengorakannya. Ia tahu kalau itu adalah air hujan yang belum di masak dan kotor. Tapi Riqar sama sepertiku, sama-sama ingin keluar dari dahaga yang semenjak tadi bersama kami. Maka dengan khasiat air hujan yang kami minum, dahaga itu pergi untuk sejenak.
Tiba-tiba datang serombongan dari kelompok lain. Mereka tampak kelelahan, dan dari wajahnya kami tahu ia kehausan. Salah seorang meminta sedikit air dari kami, tapi dengan bahasa Jawa. Tentu saja aku tak mengerti maksudnya. Karena tahu aku tidak mengerti, barulah ia utarakan maksudnya dengan bahasa Indonsesia.
“ Mas, boleh minta airnya, buat temanku aja. Ia kehausan dan tak sanggup lagi meneruskan perjalanan”
Seketika rasa kemanusiaanku tergugah, meski kami sendiri butuh, tapi demi berbagi, dan tentu saja kami anak bangsa yang semenjak kecil diajari pancasila, tak kutolak permintaan orang itu. Kuberikan botol air mineral di tanganku. Ia pun meneguknya beberapa teguk. Lalu mengembalikan sisanya kepada kami.
“Terimah kasih, ya Mas” begitu ia mengungkapkan terimah kasihnya karena telah bertemu dewa penolong di tengah hutan.
Lalu mereka melanjutkan perjanan, aku dan Riqar masih duduk sambil mengisap sebatang rokok. Arok datang dengan tubuh lelahnya, ia juga kehausan. Dan kebetulan, persediaan air yang aku bawa masih tersisa lebih dari setengah botol.
“Ga, jangan bilang itu air hujan!” Kata Riqar memberi saran.
Arok, tampak sangat menikmati setes demi setes air yang jatuh ke lambungnya. Sandro pun demikian, tak perlu bertanya sehat atau tidak, kotor atau bersih, karena di hutan ini, tak berlakulah ilmu kesehatan.
Aku bersyukur telah berbagi dengan orang lain meski seteguk air, tapi aku juga merasa berdosa telah memberi mereka air hujan yang tak bisa dibilang bersih. Maafkan aku, kawan…
Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Kugantikan Sandro membawa tas kerirnya, karena ia menyerah telah diperdayai oleh tas yang beratnya tak mengenal kemanusiaan itu.
Tak lama kemudian, sura musik dangdut terdengar sayup-sayup. Semakin kami melangkah semakin jelas suara musik dangdut itu. Hal itu pertanda kalau perjalanan kami hanya beberapa langkah lagi. Dan tiba-tiba tampak kapal di hadapan kami. Sungguh gembira hati kami, sangat gembira, seperti anak ayam bertemu dengan induknya setelah sekian lama tersesat.
Kami berlari ke pantai, membasuh semua lumpur yang melekat di badan. Lalu duduk beristirahat kembali menantikan kawan-kawan yang masih di perjalanan. Tak lama kemudian, tampak satu-satu wajah mereka. Wajah-wajah yang tak lagi lelah, karena mereka telah lepas dari penderitaan akibat perjalan di tengah hutan yang berlumpur.
Dari kejauhan tampak perahu yang akan kami tumpangi. Rasa gembira tak bisa disembunyikan. Sebentar lagi kami ketemu warung, dan yang lebih penting bagi kami, sebentar lagi akan bertemu dengan air tawar. Satu persatu dari kami menaiki perahu, karena kapasitasnya tak kuasa mencapai 15 orang, maka perahu harus bolak-balik menjemput mereka yang masih tersisa.
Beberapa saat kemudian, tibalah kami di rumah Ayahanda Yusuf. Mandi dan berganti kostum. Menghangatkan badan dengan secangkir kopi. kami bercengkarama sambil mengenang perjalanan yang baru saja terlewatkan.
Dari pengalaman kawan-kawan, tampal banyak yang trauma dengan kata sempu, bahkan Anci telah masuk pada tahap pobia. Tak ingin lagi menginjakkan kakinya di Pulau Sempu.
“Anci, masi mauKo ke Sempu?’’
“tidak mauMa”
“ Kalo disana ada Konser Boys Band Korea, Gimana?”
Kutahu Anci begitu mengidolakan bintang-bintang Korea. Tapi ia bersikukuh menolak.
“Biarmi, tidak mau mentonnga”
“Kalo misalnya setelah kau kawin dan suamimu memaksa kau harus berbulan madu di sana, gimana?”
“ CeraiKa”
Trauma Anci, atau tepatnya disebut fobia, bukan karena tanpa alasan. Di perjalan, ia ketemu dengan makhluk bernama ular, dan parahnya, kaki Anci sempat singgah sejenak di badan ular tersebut. Ia kaget bukan kepalang. Tubuhnya gemetar tak kuasa menahan takut. Kasihan sekali anak itu, lehernya semakin tak tampak karena ketakutan.
Pulau Sempu 1 Januari 2012


11:44:00 AM
Puang Array
Posted in:
4 komentar:
semoga resolusinya tercapai mas, amin...
Aminnnnnn
mantaps iga.......
itu ceritamu, ini ceritaku....
ini ceritaku : http://pandangankafy.blogspot.com/2012/01/sempupulauyangmenyembunyikankeindahanny.html
Posting Komentar